<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>TUTUR PENYEJUK HATI</title>
	<atom:link href="http://yochaa.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://yochaa.wordpress.com</link>
	<description>"Sebuah nasehat yang teruntai indah dari seorang sahabat untuk sahabat"</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Jan 2009 07:34:59 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='yochaa.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/cca41fd41d61ac765f930a664fe110fa?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>TUTUR PENYEJUK HATI</title>
		<link>http://yochaa.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Kisah Menakjubkan Abu Qilabah Al-Jarami</title>
		<link>http://yochaa.wordpress.com/2009/01/27/kisah-menakjubkan-abu-qilabah-al-jarami/</link>
		<comments>http://yochaa.wordpress.com/2009/01/27/kisah-menakjubkan-abu-qilabah-al-jarami/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jan 2009 07:30:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yoru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Penyejuk Hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yochaa.wordpress.com/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[Abdullah bin Muhammad berkata, “Suatu hari aku berjalan-jalan ke pantai dengan dikawal gerobak Mesir. Setelah aku sampai ke ujung pantai ternyata aku tiba di Bathihah.
Di pantai ini ada sebuah kemah, dihuni seorang lelaki yang buntung kedua tangan dan kakinya, sementara pendengaran dan penglihatannya lemah. Tidak ada satu anggota tubuh pun yang berfungsi selain lisan.
Dengan lisan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yochaa.wordpress.com&blog=1388824&post=154&subd=yochaa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Abdullah bin Muhammad berkata, “Suatu hari aku berjalan-jalan ke pantai dengan dikawal gerobak Mesir. Setelah aku sampai ke ujung pantai ternyata aku tiba di Bathihah.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Di pantai ini ada sebuah kemah, dihuni seorang lelaki yang buntung kedua tangan dan kakinya, sementara pendengaran dan penglihatannya lemah. Tidak ada satu anggota tubuh pun yang berfungsi selain lisan.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dengan lisan itu ia memanjatkan doa, ‘Ya Allah berikanlah kepadaku kemampuan untuk senantiasa memujiMu. Dengannya aku dapat memuaskan diriku dalam mensyukuri nikmat yang Engkau limpahkan kepadaku dan Engkau benar-benar telah memuliakan (melebihkan) aku dari segenap makhlukMu’.”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Abdullah berkata, “Demi Allah, orang ini harus aku dekati. Akan aku tanyakan mengapa ia mengucapkan doa seperti itu? Apakah dia benar-benar mengerti perkataan yang ia ucapkan ataukah sekedar ilham yang diilhamkan kepadanya?”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Aku lantas mendatangi laki-laki itu, aku ucapkan salam kepadanya, dan aku katakan bahwa aku mendengar perkataan yang diucapankan tadi, “Ya Allah…” aku bertanya, “Kenikmatan apakah yang telah dikaruniakan Allah kepadamu? Dan kemuliaan seperti apakah yang telah dianugerahkan sehingga engkau bersyukur sedemikian itu?”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Lelaki itu menjawab, “Apakah engkau tidak melihat apa yang telah Allah perbuat kepadaku? Demi Allah, sekiranya Allah mengirim api dari atas langit untuk membakar tubuhku, memerintahkan gunung-gunung untuk menghancurkan aku, berkenan menyuruh lautan untuk menenggelamkan aku dan bumi mene-lan aku, maka sungguh aku tetap akan bersyukur kepada Allah atas lisan yang telah dikaruniakan kepadaku.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Tetapi wahai hamba Allah, engkau telah datang kepadaku dan aku butuh bantuanmu. Kamu sendiri sudah tahu bagaimanakah kondisi tubuhku, aku sendiri tidak mampu berbuat untuk menolong atau menciderai diriku. Sebelumnya aku ditemani anak laki-lakiku, dia selalu datang kepadaku pada waktu-waktu shalat. Dia lah yang mewudhuiku. Ketika aku lapar dan haus dia yang menyuapi dan memberi minum kepadaku. Sudah tiga hari ini aku kehilangan dia, kalau engkau berkenan carilah ia. Semoga Allah memberi rahmat kepadamu.”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Aku berkata, “Demi Allah, tidak ada perjalanan yang lebih agung dan mendapat pahala besar di sisi Allah selain perjalanan demi membantu sesama saudara seperti engkau.”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Maka aku pun mulai berjalan untuk mencari anaknya yang telah beberapa hari hilang. Belum jauh aku berjalan, tiba-tiba aku sampai di sebuah timbunan pasir, di situ aku menemukan seorang anak yang telah diterkam dan dimakan binatang buas. Aku ucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.” Aku bergumam, “Apa yang harus aku katakan kepada lelaki tua renta itu?”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dalam perjalanan pulang menuju kemah itu aku teringat dengan kisah Nabi Ayyub RA. Setelah aku tiba di kemah lelaki itu, aku ucapkan salam kepadanya, ia pun menjawab salamku.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dia bertanya, “Bukankah engkau sahabatku?”<br />
Aku jawab, “Ya.”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dia bertanya, “Apa yang telah engkau lakukan untuk meme-nuhi kebutuhanku?”<br />
Aku balik bertanya, “Siapakah yang lebih mulia di sisi Allah, engkau atau Nabi Ayyub?”<br />
Dia menjawab, “Pasti Nabi Ayyub.”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Aku bertanya, “Apakah engkau tahu apa yang telah diperbuat Allah kepadanya? Bukankah ia telah diuji dengan harta, keluarga dan anak-anaknya?”<br />
Dia menjawab, “Benar.”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Aku bertanya, “Bagaimana dia menghadapi kenyataan itu?”<br />
Dia menjawab, “Dia hadapi penuh dengan kesabaran, senantiasa bersyukur dan bertahmid.”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Aku bertanya, “Namun, bukankah kerabatnya dan orang-orang yang mencintainya tidak rela menerima musibah itu?”<br />
Dia menjawab, “Ya.”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Aku bertanya, “Sementara itu, bagaimana Ayyub menyikapi semua itu?”<br />
Dia menjawab, “Dia hadapi penuh dengan kesabaran, senantiasa bersyukur dan bertahmid.”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Aku bertanya, “Tetapi bukankah ia kemudian menjadi ton-tonan bagi orang-orang yang berjalan, apakah engkau tahu?”<br />
Dia menjawab, “Iya.”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Aku bertanya, “Bagaimana dia mensikapi semua ini?”<br />
Dia menjawab, “Dia hadapi penuh dengan kesabaran, senan-tiasa bersyukur dan bertahmid. Sekarang, persingkatlah pembi-caraanmu!, semoga Allah mencurahkan rahmat kepadamu.”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Aku berkata, “Wahai kawan, anakmu, yang aku engkau suruh untuk mencarinya, sudah aku temukan berada di antara timbunan pasir. Diterkam dan dimakan binatang buas, semoga Allah mem-berimu pahala yang besar dan melimpahkan kesabaran.”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Laki-laki yang ditimpa musibah itu mengucapkan, “Alhamdulillah, segala puji milik Allah. Dzat yang tidak menciptakan dari garis keturunanku seorang hamba pun yang bermaksiat kepadaNya sehingga disiksa dalam api Neraka.” Kemudian dia mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.” Ia menangis tersedu-sedu, lalu menghembuskan nafas terakhir.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Seketika itu aku pun mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Betapa besar musibah yang menimpaku.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Mayat lelaki ini kalau aku tinggalkan pastilah dimakan binatang buas. Tetapi kalau aku urus, aku tidak bisa berbuat banyak. Lalu aku kafani dia dengan kain sorbanku. Aku duduk di sisi kepalanya sambil menangis.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Tiba-tiba saja ada empat orang lelaki masuk ke kemah tanpa permisi, mereka bertanya, “Wahai hamba Allah, apa yang terjadi padamu? Bagaimana kabarmu?” Kemudian aku ceritakan kepada mereka tentang diriku dan lelaki itu. Mereka bertanya, “Bolehkah kami melihat wajahnya, siapa tahu kami kenal?!”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Aku membuka wajahnya, keempat orang itu memperhati-kan dengan seksama, kemudian menciumi mata dan tangannya, lalu berkata, “Benar, selama ini matanya tidak pernah dipergu-nakan untuk melihat hal-hal haram. Telah sekian lama anggota tubuhnya hanya digunakan untuk bersujud tatkala orang-orang terlelap tidur.”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Aku bertanya, “Sebenarnya siapakah orang ini?”<br />
Mereka menjawab, “Abu Qilabah al-Jarami, teman dekat Ibnu Abbas. Orang ini sangat mencintai Allah dan Nabi SAW.”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Kemudian kami memandikan jenazahnya, mengkafani dengan pakaian yang ada, kami shalatkan dan kami kuburkan. Setelah selesai, orang-orang itu pulang begitu juga saya pulang ke markas.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Menjelang malam, aku rebahkan tubuhku untuk tidur. Tiba-tiba aku bermimpi seperti seseorang yang tidur lalu mimpi berada di salah satu taman Surga dikelilingi oleh dua bidadari di antara para bidadari Surga, mereka menyenandungkan, “Kesela-matan atasmu berkat kesabaranmu, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (Ar Ra’d: 24).</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Aku bertanya, “Bukankah kamu ini temanku?”<br />
Dia menjawab, “Ya.”</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Aku bertanya, “Dari mana kamu peroleh kedudukan dan semua ini?”<br />
Dia menjawab, “Sesungguhnya Allah memiliki beberapa tingkat/tempat yang sangat membahagiakan penghuninya yang tidak dapat dicapai kecuali melalui kesabaran ketika ditimpa musibah, dan bersyukur ketika dalam kenikmatan disertai rasa takut kepada Allah SWT dalam keadaan sepi maupun ramai.”</span></p>
<p style="margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;" align="right">http://ummusalma.wordpress.com/2008/02/26/kisah-menakjubkan/</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yochaa.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yochaa.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yochaa.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yochaa.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yochaa.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yochaa.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yochaa.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yochaa.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yochaa.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yochaa.wordpress.com/154/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yochaa.wordpress.com&blog=1388824&post=154&subd=yochaa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yochaa.wordpress.com/2009/01/27/kisah-menakjubkan-abu-qilabah-al-jarami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a22c5cdb323919b894a65fbf16597b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yoru</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Uwais AlQarni : Terkenal Di Langit Tak Terkenal Di Bumi</title>
		<link>http://yochaa.wordpress.com/2009/01/27/uwais-alqarni-terkenal-di-langit-tak-terkenal-di-bumi/</link>
		<comments>http://yochaa.wordpress.com/2009/01/27/uwais-alqarni-terkenal-di-langit-tak-terkenal-di-bumi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jan 2009 07:26:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yoru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Penyejuk Hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yochaa.wordpress.com/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yochaa.wordpress.com&blog=1388824&post=157&subd=yochaa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. <!--–more–-->Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa’at, ternyata Allah memberi izin dia untuk memberi syafa’at sejumlah qobilah Robi’ah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan karenanya. Dia adalah “Uwais al-Qarni”. Ia tak dikenal banyak orang dan juga miskin, banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Seorang fuqoha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya, memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik, karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata : “Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya. Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya. Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur. Peraturan-peraturan yang  terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah “bertamu dan bertemu” dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum. Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Di ceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ? Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa. Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata : “Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”. Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman. Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli  penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya. Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatanganNabi SAW dari medan perang. Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas pulang”. Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada sayyidatina ‘Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rosulullah SAW, sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Rosulullah SAW bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada  sayyidina Ali k.w. dan sayyidina Umar r.a. dan bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka. Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil  bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar ! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais. Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan : “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?” Uwais kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”. Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah: “Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata: “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan istighfar dari anda”. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. “Wahai waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu kami berseru lagi,” Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!”Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: “Apa yang terjadi ?” “Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak ?”tanya kami. “Dekatkanlah diri kalian pada Allah ! “katanya. “Kami telah melakukannya.” “Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!” Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu orang itu berkata pada kami ,”Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat”. “Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? “Tanya kami. “Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan singkat. Kemudian kami berkata lagi kepadanya, “Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.” “Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?” tanyanya.”Ya,”jawab kami. Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya. Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar r.a.) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya : “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni ? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta ? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa “Uwais al-Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi tapi terkenal di langit.</span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><a title="afiqah_annisah" href="http://hanafishahdan.blogsome.com/go.php?http://fisan.wordpress.com/2007/03/18/uwais-alqarni-terkenal-di-langit-tak-terkenal-di-bumi/" target="_self"><em>D<em><span style="font-family:&quot;">ari content sebuah blog milik seorang muslimah</span></em></em></a></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yochaa.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yochaa.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yochaa.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yochaa.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yochaa.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yochaa.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yochaa.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yochaa.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yochaa.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yochaa.wordpress.com/157/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yochaa.wordpress.com&blog=1388824&post=157&subd=yochaa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yochaa.wordpress.com/2009/01/27/uwais-alqarni-terkenal-di-langit-tak-terkenal-di-bumi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a22c5cdb323919b894a65fbf16597b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yoru</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Maafkan Aku Saudaraku.. (Palestinaku)</title>
		<link>http://yochaa.wordpress.com/2009/01/14/maafkan-aku-saudaraku-palestinaku/</link>
		<comments>http://yochaa.wordpress.com/2009/01/14/maafkan-aku-saudaraku-palestinaku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jan 2009 08:55:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yoru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lautan Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yochaa.wordpress.com/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[
Hari ini aku mendengar dan melihat kabar kembali, dalam negaramu perang semakin manakutkan. Mata tak pernah lelap tetap terjaga, bersiap memegang senjata membela harta, nyawa dan izzah Islam. Satu, dua, tiga sampai akhirnya 63 saudaraku telah syahid di bumi palestina dalam 5 hari. Setiap kali mendengar dan melihat kabar, perasaan dendam terhadap musuh Allah kian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yochaa.wordpress.com&blog=1388824&post=146&subd=yochaa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft size-full wp-image-147" title="palestina" src="http://yochaa.files.wordpress.com/2009/01/palestina.jpg?w=497&#038;h=289" alt="palestina" width="497" height="289" /></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Hari ini aku mendengar dan melihat kabar kembali, dalam negaramu perang semakin manakutkan. Mata tak pernah lelap tetap terjaga, bersiap memegang senjata membela harta, nyawa dan izzah Islam. Satu, dua, tiga sampai akhirnya 63 saudaraku telah syahid di bumi palestina dalam 5 hari. Setiap kali mendengar dan melihat kabar, perasaan dendam terhadap musuh Allah kian memuncak, perasaan ingin membantu hanya sampai pada batas do’a ku. Disaat engkau merasa kesakitan, kepiluan, tersudutkan dan survival dalam mengarungi hidup mempertahankan Negara yang hakmu, kembali aku meneteskan air mata ini dan semakin bingung harus apa yang aku utarakan kepada Allah, engkau di kejar-kejar Israel laknatullah sedang di negaraku saudaramu yang lain lebih suka dan menangis mengejar episode novel dan film ayat-ayat cinta dan cerita fiktif , kisah satu tokoh yang tak sebanding untuk di tangis lebih di banding kisah-kisah para syuhada baru yang berkisah lebih nyata dalam membela akhlak serta akidah kebenaran ini. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Jika engkau menjerit dalam do’a mu ……….“ dimana sudaraku kaum muslimin yang lain, tidak kah peduli kepada kami, tidak kah mau membantu mengulurkan do’a.. do’a dalam tahajud, tidak kah dalam fikiran teruntai rasa iba ke pada kami, tidakkah mereka pernah iri untuk bisa mencari peluang syahid di Negara Kami…. Ya Allah.. para mujahid mengadu pada-Mu hanya ingin melihat saudaraku di sana yang hidup dalam kedamaian itu bersatu untuk menegakkan kebenaran dan jangan terlalaikan seperti masa kami dahulu… jika engkau ya Allah ambil nyawa Kami.. Kami Ikhlas dan ridho karena kebenaran-Mu.. karena Kami hanya ingin mati membela agama-Mu, tapi yang kami mohon… satukan saudaraku…”……………….” Biar kami yang di palestina, Irak, Afgan, Bosnia, Checnya dan Negara kecil lainnya yang menjadi korban ketidak adilan dunia ini…. Jangan biarkan ada Negara Islam dan juga umat Islam lain berikutnya yang akan di cipta sama seperti kami… kuatkan saudara kami agar lebih mampu menghadapi musuh-musuh Allah”……………. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sesungguhnya aku malu padamu saudaraku… engkau lebih peduli dalam kesudutan pada saudara muslim dunia di banding denganku yang mampu lelap memejam mata dalam selimut malam. Terimakasih ya Allah, ingatan ini, mata ini, cerita dan episode nyata ini mengembalikan semangat dalam langkah dakwah ini. Karaktermu dalam keseharian adalah sama karena engkau nyata bukan siapa sebagai siapa berperan apa dan berkarakter beda. Pribadimu syuhada nyata mata syahid ada di muka. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Saudaraku mujahid di ranah para syahid. Semoga suatu saat kita di pertemukan dalam kisah indah memperjuangkan kebenaran walau beda jarak, episode dan medan dakwah serta tak tercatat dalam tulisan tinta… adalah keyakinan Izzah Islam di tinggikan serta menyatu dalam kebenaran…. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><tt><span style="font-size:10pt;">“<em>Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup disisi Tuhan-Nya dengan mendapat rezeki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikanNya kepada mereka dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul mereka bahwa tidak ada kekawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman” (Ali Imraan:169-171)</em></span></tt></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Allahu Akbar untuk kemenangan dan kejayaan Islam.. Amien</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">By: g.sapta n.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yochaa.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yochaa.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yochaa.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yochaa.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yochaa.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yochaa.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yochaa.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yochaa.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yochaa.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yochaa.wordpress.com/146/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yochaa.wordpress.com&blog=1388824&post=146&subd=yochaa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yochaa.wordpress.com/2009/01/14/maafkan-aku-saudaraku-palestinaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a22c5cdb323919b894a65fbf16597b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yoru</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yochaa.files.wordpress.com/2009/01/palestina.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">palestina</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Betapa Cantiknya Allah SWT Membentuk Kita</title>
		<link>http://yochaa.wordpress.com/2008/12/12/betapa-cantiknya-tuhan-membentuk-kita/</link>
		<comments>http://yochaa.wordpress.com/2008/12/12/betapa-cantiknya-tuhan-membentuk-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Dec 2008 05:04:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yoru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat Jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yochaa.wordpress.com/?p=135</guid>
		<description><![CDATA[
Sepasang kakek dan nenek pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik. &#8220;Lihat cangkir itu,&#8221; kata si nenek kepada suaminya. &#8220;Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat,&#8221; ujar si kakek.
Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara &#8220;Terima [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yochaa.wordpress.com&blog=1388824&post=135&subd=yochaa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="aligncenter size-full wp-image-138" title="cantik-11" src="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/12/cantik-11.jpg?w=320&#038;h=255" alt="cantik-11" width="320" height="255" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sepasang kakek dan nenek pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik. &#8220;Lihat cangkir itu,&#8221; kata si nenek kepada suaminya. &#8220;Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat,&#8221; ujar si kakek.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara &#8220;<span class="yshortcuts"><span style="cursor:pointer;">Terima kasih</span></span> untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop ! Stop ! Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata &#8220;belum !&#8221; lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas ! Panas ! Teriakku dengan keras. Stop ! Cukup ! Teriakku lagi. Tapi orang ini berkata &#8220;belum !&#8221;</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku berteriak.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Wanita itu berkata &#8220;belum !&#8221; Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya! Tolong ! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku.Ia terus membakarku. Setelah puas &#8220;menyiksaku&#8221; kini aku dibiarkan dingin.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.</span></p>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="font-family:&quot;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Renungan :</span></span></strong></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Seperti inilah Allah SWT membentuk kita. Pada saat Allah membentuk kita, tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara bagi-Nya untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan-Nya.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">&#8220;Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan, sebab Anda tahu bahwa ujian terhadap kita menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya Anda menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.&#8221;</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Apabila Anda sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati, karena Dia sedang membentuk Anda. Bentukan-bentukan ini memang menyakitkan tetapi setelah semua proses itu selesai, Anda akan melihat betapa cantiknya Allah SWT membentuk Anda.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yochaa.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yochaa.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yochaa.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yochaa.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yochaa.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yochaa.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yochaa.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yochaa.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yochaa.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yochaa.wordpress.com/135/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yochaa.wordpress.com&blog=1388824&post=135&subd=yochaa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yochaa.wordpress.com/2008/12/12/betapa-cantiknya-tuhan-membentuk-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a22c5cdb323919b894a65fbf16597b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yoru</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/12/cantik-11.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">cantik-11</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cinta Aelia</title>
		<link>http://yochaa.wordpress.com/2008/11/21/cinta-aelia/</link>
		<comments>http://yochaa.wordpress.com/2008/11/21/cinta-aelia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Nov 2008 04:28:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yoru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen Islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yochaa.wordpress.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[Cinta Aelia
By. Sri Mulyani
I. Bulan Andimarsedonia 
Pada suatu masa, sebuah kerajaan kecil berdiri dengan sangat makmur dan damai.Walau kerajaan ini kecil, karena kekayaannya ia sangat disegani dan dihormati oleh kerajaan-kerajaan tetangganya. Kerajaan ini bernama Andimarsedonia. Andimarsedonia dipimpin oleh seorang raja yang masih muda tapi bijaksana dalam bernegara, beliau memiliki seorang permaisuri dan seorang adik yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yochaa.wordpress.com&blog=1388824&post=83&subd=yochaa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">Cinta Aelia</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;">By. Sri Mulyani</span></strong></p>
<h2 style="text-align:justify;page-break-after:avoid;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">I. Bulan Andimarsedonia </span></h2>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Pada suatu masa, sebuah kerajaan kecil berdiri dengan sangat makmur dan damai.Walau kerajaan ini kecil, karena kekayaannya ia sangat disegani dan dihormati oleh kerajaan-kerajaan tetangganya. Kerajaan ini bernama Andimarsedonia. Andimarsedonia dipimpin oleh seorang raja yang masih muda tapi bijaksana dalam bernegara, beliau memiliki seorang permaisuri dan seorang adik yang bernama Putri Aelia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Putri Aelia dikenal sebagai Bulan dari Andimarsedonia, karena dia berparas sangat rupawan, kulitnya putih dan bersinar, bibirnya semerah darah dengan senyum yang sangat merekah, suaranya sangat merdu dan lemah lembut, rambutnya yang panjang sehitam arang, tubuhnya harum seharum melati. Kecantikannya yang luar biasa tidak hanya tersebar hingga kesuluruh pelosok kerajaan, tapi berita itu juga mencapai keberbagai negri didunia. Tidak sedikit yang berlomba-lomba untuk melihat wajahnya walau hanya sekejap. Berdatangan pinangan dari pernjuru, tapi tak satupun yang dapat meluluhkan hati sang putri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Putri Aelia tidak hanya dikagumi dengan kecantikannya, tapi juga karena kecerdasannya dan kepiawaiannya diberbagai bidang. Jiwanya yang keras dan kesadaran akan kedudukannya inilah yang membuat Putri sangat pemilih dalam masalah percintaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Putri Aelia merupakan salah satu tangan kanan Raja dalam menjalankan roda pemerintahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>Pada suatu hari Putri Aelia sedang berjalan-jalan dihutan wilayah selatan bersama beberapa pengawal dan dayangnya. Tiba-tiba sebuah kuda melaju sangat kencang dari arah yang berlawanan. Ketika melihat rombongan putri, si penunggang kuda memperlambat jalan kudanya, lalu berhenti didepan rombongan sang putri dengan menganggukan kepalanya sekali sebagai tanda hormat. Ketika pandangan mata pemuda itu bertemu dengan pandangan sang putri, pemuda itu langsung menundukkan pandangannya. Putri merasa heran, selama hidupnya hampir semua laki-laki akan terpana akan kencantikannya sehingga tak akan mampu mengalihkan pandangan mereka dari wajahnya untuk beberapa lama. Tapi dalam sekejap saja pemuda dihadapannya ini langsung menundukkan pandangannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>Karena rasa herannya, putri meminta sang pemuda untuk mendekat. Pemuda itupun mendekat dengan masih saja menundukkan pandangannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Salaam hai pemuda. Siapakah kau dan sedang apa kau disini?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Walaikum salam Putri Aelia, Saya adalah Ali abdul Jabbar bin Abdullah, dan saya sedang berkuda berkeliling hutan.” Jawab pemuda itu tanpa sekejappun menaikkan pandangannya pada sang putri. Sikap pemuda bernama Ali semakin membuat putri penasaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Wahai Ali, mengapa kau selalu menundukkan pandanganmu ketika berbicara padaku, padahal aku tak berkeberatan dengan hal itu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Sungguhpun saya tahu Putri tidak berkeberatan, tapi Allah dan Rasul-Nya berkeberatan jika saya memandang Putri, dan saya takut akan murka Allah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>Putri Aelia merasa malu mendengar perkataan pemuda itu, karena selama berbicara, tak sekejapun ia menundukkan pandangannya dari Ali. Putri menyadari bahwa Ali memiliki wajah dan perawakan yang sangat tampan, tapi ketampanan budi dan akhlaknya semakin membuat Putri Aelia kagum. Bagi sang Putri, Ali adalah sosok yang sangat lain dari yang lain, Putri merasakan sesuatu pecah didadanya, ada perasaan riang yang tiba-tiba menggelitik relung hatinya, akhirnya dia menyadari bahwa Ali adalah laki-laki yang ia tunggu selama ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Wahai Ali, siapakah orang tuamu dan dimanakah rumahmu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ayah saya adalah Abdullah bin Mustofa, Bangsawan kerjaaan bagian selatan dan rumah kami…”tiba-tiba Putri memotong kalimat Ali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ah aku tahu, ternyata kau putra dari paman Abdullah, aku mengenalnya, tapi mengapa aku tidak pernah melihatmu berkunjung ke istana?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Karena sejak kecil saya tidak pernah berada dikerajaan ini, saya menetap kerajaan tetangga. Saat ini saya sedang berlibur disini untuk beberapa waktu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ah baiklah kalau begitu, apakah kau bersedia untuk berburu bersama rombonganku?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Terima kasih banyak tuan Putri, saya merasa terhormat, tetapi saya telah berjanji pada ayah untuk pulang pada saat makan siang, dan saya rasa saya telah sedikit terlambat. Jika Putri tidak berkeberatan, saya harus memenuhi janji saya pada beliau, saya mohon pamit.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>Putri menghela nafas kesekian kalinya, jika bukan Ali, tanpa sedetikpun berpikir laki-laki manapun akan menerima tawarannya itu dengan girangnya. “Sungguh kau ini laki-laki yang berbeda wahai Ali, tak sedikitpun kau bernafsu untuk menghabiskan waktu bersamaku. Baiklah Ali, senang berkenalan denganmu, sampaikan salamku pada paman Abdullah, dan percayalah Ali, aku akan menemuimu lagi diwaktu yang dekat.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Insyaallah Putri dan terima kasih, wasalammualaikum.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Walaikum salam,” jawab putri lembut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Ali pun melesat pergi dengan lari kudanya yang sangat kencang. Sambil melihat kepergian Ali bersama kudanya, Putri Aelia menarik nafas panjang-panjang, akhirnya dia<span> </span>menyandarkan kepalanya kedinding kereta dan berbisik pada pelayannya, “Ah Ali, tak sekalipun dia menoleh kebelakang… sungguh dayang, aku merasa melayang bersama larinya kuda Ali. Dayang, perintahkan rombongan untuk pulang ke istana!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Rombongan putripun kembali keistana, tetapi hati sang putri sangat kentara telah terbawa oleh pemuda Ali dan kudanya ke arah yang berlawanan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>Sesampai diistana Putri bergegas menuju Taman Keputrian, sebuah tempat khusus dalam istana yang merupakan berkumpulnya para putri dan istri bangsawan. Ia ingin sekali mencari kabar berita tentang pemuda yang baru saja ditemuinya. Seperti dugaannya, pada saat itu Taman Keputrian sangat ramai, dia mendekati segerombolan putri bangsawan yang sangat terkenal dan pandai, mereka adalah teman-teman dekat Putri Aelia</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Salam wahai saudariku, Aisya, Amina, Safira” Rombongan itu membalas salam putri dengan riangnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Walaikum salam Putri Aelia, masyaallah kau terlihat sangat ceria. Wajahmu tampak sangat kemerahan dan senyummu sungguh lebih merekah daripada biasanya! Ada apakah gerangan yang terjadi?” Putri Aelia tertegun, sejelas itukah pancaran kebahagiaan hatinya dari wajahnya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ah kalian memang teman dekatku, mungkin kalian dapat langsung membaca pikiranku tanpa kuberi tahu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ah Putri, jika aku tak mengenalmu lebih lama, aku akan berkata kau sedang jatuh cinta. Tapi setahuku tak satu pemudapun yang kau minati dinegeri ini. Jadi aku dengan jujur berkata padamu, aku tak tahu…” Jawab Aisya yang dibarengi anggukan kedua putri lainnya. Putri Aelia tertawa sangat kencang dan renyah, tidak seperti biasanya dia selalu tertawa lirih dan lembut, hal itu semakin membuat yang lain keheranan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Sungguh wahai saudariku, aku bertemu seorang pemuda hari ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dengan serempak, ketiga putri itu menjatuhkan gelasnya dengan mulut menganga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Masya Allah!!!…..siapakah pangeran impian ini???” tanya mereka hampir serempak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ah saudariku, aku baru saja mengenalnya, maukah kalian membantuku untuk mencari tahu segala sesuatu tentang dia? Karena sebagai seorang Putri aku malu untuk bertanya kesana kemari perihal seorang pemuda pada banyak orang.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Tentu saja kami mengerti, dan kami akan membantumu dengan senang hati. Katakan kepada kami, siapakah nama pemuda tersebut?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>Dengan wajah yang semakin memerah putri membisikan nama Ali abdul Jabbar bin Abdullah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ah, aku tahu tentang dia, aku bertemu dengannya dua hari yang lalu. Dia baru datang dari Kerajaan Dalusia, tapi aku tak sempat berbicara padanya… ehm, saat itu aku dengar dikalangan para gadis dia dikenal sebagai Pemuda Es, karena dia sama sekali tak pernah berbicara akrab dengan wanita.” Kemudian Safira dengan menggoda berbisik pada Putri Aelia, ”Tapi jangan kuatir putri, dia belum menikah.” Diikuti gelak tawa yang lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ah Putri, sungguh tak salah pilihanmu!” tiba-tiba Aisya berteriak girang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Sungguh jika aku belum bertunangan, aku akan meminta Ayah untuk meminang dia untuk diriku sendiri ha ha….” Canda Aisya lagi riang, lalu dengan serius dia meneruskan. “Aku baru teringat ketika Safira berkata tentang Pemuda Es, Dia memang jarang sekali berkunjung ke negeri ini. Seperti kau tahu, aku masih sepupu dengan Ali, karena dia menganggapku saudara, dia pernah berbicara padaku setahun yang lalu. Ah sungguh dia pemuda yang luar biasa! Tidak hanya tampan, tapi juga pandai dalam segala bidang, terlebih lagi, dia sangat rendah hati. Banyak sekali gadis dikerajaan ini ingin menikah dengannya, tapi lamaran orang tua mereka selalu ditolak oleh Ali dengan hormat. Aku sendiri tak mengerti mengapa, padahal dia saat itu belum memiliki kekasih. Akhirnya sampai saat ini semua orang tua segan untuk melamarnya lagi. Jika putri mereka meminta pada orang tua mereka untuk melamarkan Ali, mereka akan berkata …’Lebih baik kau tunggu Ali datang melamarmu’. Sungguh mereka tahu bahwa tak akan lamaran mereka itu diterima.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Waaah, benar! Para orang tua berhenti melamar Ali setahun yang lalu. Orang tuaku salah satunya. Mereka melamarkan Ali untuk Syafia kakak sulungku. Tapi Ali menolak karena alasannya dia belum ingin menikah dan ingin melanjutkan pendidikannya. Sungguh malang kakakku itu, aku beruntung tak pernah bertemu Ali, karena aku takut akan senasib seperti kakakku, yang kudengar, dia selalu menjauhi wanita dan menundukkan pandangannya setiap kali berbicara dengan wanita.” Kenang Amina.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ah Putriku yang cantik, kau telah bertemu orang yang sama dengan dirimu!” kata Amina lagi. Kemudian mereka terdiam untuk beberapa saat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Tapi siapakah yang mampu menolak kecantikan Putri??!!” teriak ketiga gadis itu dengan serempak sambil menggoda Putri Aelia, kemudian mereka semuanya tertawa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Mengapa aku tak pernah mendengar tentang dia dari kalian atau yang lain?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ah Putriku yang cantik, kami segan membicarakan tentang seorang pemuda yang jauh dari jangkauan kami. Lagipula kami bertiga sudah bertunangan, kami malu untuk membicarakan perihal seorang pemuda selain dari tunangan kami. Lapi pula, dia jarang sekali tinggal disini, hanya orang yang tinggal di daerah selatan yang banyak tahu tentang Ali, ehm…tentu saja hampir semua gadis dinegeri ini, sedangkan Kau jarang sekali keluar istana, apalagi bertanya tentang pemuda!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>Putri Aelia berpikir sejenak, lalu tiba-tiba dia berkata,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Aku akan menghadap kakakku.” Ketiga putri tersebut tertegun mendengar kalimat terakhir Putri Aelia, mereka tahu maksud dari perkataan adalah tekad Putri Aelia untuk mendapatkan Ali melalui sang Raja. Siapakah orang yang akan menolak lamaran seorang Raja negaranya. Dalam hati mereka berkata, “Ah Ali, sudah saatnya kau menerima lamaran seorang wanita!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Lalu Putri Aelia berpamitan meninggalkan ketiga temannya dengan keyakinan yang mantap, ketiga putri bangsawan itupun bubar masih dengan perasaan terkejut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">****</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Walaupun malam telah larut, Putri Aelia mengunjungi kamar peristirahatan kakaknya sang Raja. “Ah Adikku tersayang Aelia, tak biasanya kau ingin bertemu aku secara tergesa-gesa seperti ini, ada bintang apakah yang jatuh ditanganmu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Duhai kakakku tersayang, tak nampakkah olehmu cahaya bulan yang memancar dari wajahku?” Raja tertegun lalu memperhatikan mimik wajah adiknya yang rupawan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Masyaallah, mengapa wajahmu merona dan tersipu seperti itu? Apakah mungkin hal yang luar biasa terjadi padamu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ayolah kakak coba tebak jika kau mengenalku sedalam lautan!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Wahai adik, jangan kau permainkan kakakmu ini! Tak mungkin jika kau ini bertemu seorang pria?!” Mendengar tebakan Raja wajah putri semakin memerah dan senyumnya semakin merekah, kecantikannya terpancar lebih bercahaya dari biasanya. Rajapun sangat terkejut bercampur girang melihat anggukan malu adiknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Masya Allah!!! Benarkah ini? Adikku menemukan pujaan hatinya? Allohuakbar!” Raja memeluk adiknya dengan perasaan sangat berbunga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sungguh berita yang amat baik yang kau bawa malam ini wahai Aelia! Ceritakan padaku siapa orangnya!” Aeliapun menceritakan pertemuannya dengan Ali dan apa yang dia dengar tentang Ali dari teman-temannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ah Putra kedua Abdullah bin Mustofa! Aku sering mendengar tentang dia dari Abdullah dan bangsawan yang lain. Dia cukup dikagumi, tapi sejak kecil ia<span> </span>tinggal dan menetap dengan Paman dari pihak ibunya di Dalusia jadi aku tak pernah mengenalnya secara langsung. Aku percaya pada penilaianmu tentang Ali. Apapun kehendakmu aku percaya wahai adikku. Baiklah, aku akan memanggil Abdullah bin Mustofa menghadap besok pagi!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Terima kasih Kakakku tercinta.” Putri Aelia kembali ke pembaringannya dengan perasaan berbunga, perasaan yang tak pernah dia alami selama hidupnya. Semalaman dia terjaga karena tak mampu untuk memejamkan mata dan pikirannya yang telah penuh dengan sosok Ali.<span id="more-83"></span></span></p>
<p><strong><span style="font-family:&quot;">II. Berita Dari Istana<br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Pagi menjelang, kesegaran menerobos dengan lincah disela dedaunan berlomba dengan angin pagi. Abdullah menyeruput minuman madu yang masih panas dengan perlahan, sedangkan Ali baru keluar dari bilik mushola keluarganya setelah menjalankan shalat fajar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Salaam Ayah, selamat pagi.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Walaikum salam! Ah anakku Ali, Sungguh aku diberkahi Allah dengan memiliki anak yang tak lepas dari sajadahnya seperti dirimu Ali.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Alhamdulillah Ayah, segala pujian hanya kepada Allah semata. Tiada daya dan upaya tanpa pertolongan-Nya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ha ha ha, seperti biasanya, kau benar-benar sungkan dengan pujian Ali!” Ali duduk di kursi disebelah ayahnya. Taman mawar yang luas dihadapannya menyebarkan keharuman yang sangat menyegarkan. Taman mawar itu selalu mengingatkan Ali akan ibunya yang telah wafat dua tahun yang lalu. Taman mawar ini adalah peninggalan kelembutan dan pancaran kasih sayang dari ibunda Ali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ah kau lihat Ali, ibumu adalah wanita seperti mawar-mawar itu. Cantik dan selalu membawa kesegaran dirumah ini. Apalah arti taman itu tanpa mawar-mawar itu Ali?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Kosong dan membosankan Ayah.” Jawab Ali singkat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Benar Ali!… begitu pula hidup seorang laki-laki tanpa wanita.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apakah ayah ingin menikah lagi?” mendengar pertanyaan Ali yang spontan<span> </span>Abdulah tertawa terbahak-bahak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Oh Ali!!! Aku ini sudah tua dan banyak anak!… ibaratkan taman itu, tamanku telah penuh dengan buah-buahan!” Abdullah masih tertawa geli, sedangkan Ali sudah menangkap maksud dari ayahnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ali, kau jangan pura-pura bodoh. Kau tahu apa maksud dari “ayah tuamu” ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Ali menghela nafas pendek sambil tersenyum. Abdullah terkejut dengan expresi anaknya saat itu. Tidak seperti biasanya, Ali tersenyum, biasanya dia hanya akan menjawab dengan sikap segan dan wajah penuh keseganan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ayah… Aku tahu, maksud ayah tentang wanita untuk diriku… sebenarnya<span> </span>ayah…” Belum sempat Ali melanjutkan kalimatnya, seorang pelayan menghadap Abdullah dengan sebuah surat ditangannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span><span> </span>“Dari Raja?” Abdullah membaca surat perintah Raja dengan serius. Lalu dia melipat surat itu dan memandang tajam kearah anaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ali, sungguh senyum diwajahmu barusan amat membuatku penasaran, tapi aku harus menunggu jawabanmu dilain waktu, karena Raja memintaku datang sekarang juga.” Ali tertawa melihat kebingungan diwajah ayahnya, “Ya Ayahku, aku akan berada disini jika kau kembali aku tak akan lari dari pembicaraan ini, isnyaallah. Pergilah menghadap Raja Ayah.” Jawaban Ali semakin membuat Abdullah penasaran dan sedikit girang, jika Ali tak menghindar dari pembicaraan ini, apakah artinya Ali telah menemukan seorang gadis?… Abdullah merasa tersiksa akan rasa penasaran tentang anaknya, tapi dia harus bergegas pergi, karena titah Raja adalah tugas utamanya. Perjalanan dari tempat tinggal Abdullah menuju istana memakan waktu setengah hari dengan kuda yang dipacu kencang. Abdullah tak mau membuang waktu dengan mengendarai kereta kuda, dia menunggang kudanya yang terbaik lalu melesat pergi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sesampainya di istana Abdullah diundang minum teh bersama Raja di taman. Abdullah tahu, jika Raja bersikap demikian berarti Raja hendak membicarakan sesuatu yang serius.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Abdullah, assalammualaikum!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Walaikum salam Baginda, pagi yang amat segar dan mengherankan saya, apakah gerangan yang membuat Baginda ingin bertemu dengan saya dalam waktu singkat seperti ini?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sungguh Abdullah ada kabar baik kudengar malam tadi, sampai-sampai bulan negeri ini bersinar lebih terang dari sebelumnya!” Abdullah tertegun, ia tahu yang dimaksud Raja adalah Putri Aelia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ah! Subhanallah, berita gembira apakah yang sampai-sampai membuat kecantikan negeri ini bersinar lebih lagi?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Bulan negri ini telah menemukan bintang pendamping yang diingininya Abdullah!!” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Seperti semua orang, berita ini sangat mengejutkan Abdullah. Dia mengenal Putri Aelia dari kecil, dibalik kelambutan dan kecantikannya, Aelia memiliki sifat yang keras dan pendiriannya yang kuat. Menyadari kecantikan dan kedudukannya sebagai seorang Putri, Aelia sangat berhati-hati dalam memilih pasangan hidupnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Allohuakbar Ya Raja, benarkah itu? Siapakah pemuda yang sungguh beruntung ini?” Tanya Abdullah dengan mata yang membulat, Rajapun tertawa menggoda Abdullah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Hai Abdullah, tak bisakah kau menebak siapa pemuda itu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sungguh tak mampu saya menerkanya,”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ah Abdullah!!! Aku tahu aku sering memintamu datang seperti ini karena aku senang berbicara tentang berbagai masalah padamu karena pengetahuan dan intuisimu sangat tajam. Tapi sungguhkah kau tak bisa menebak siapa pemuda itu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Benar seperti yang Baginda katakan, tak jarang Baginda memanggil saya seperti ini, jika dalam masalah kenegaraan akan mudah bagi saya untuk memberikan terkaan. Tapi masalah yang satu ini sungguh saya tak bisa menerka.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Mereka terdiam beberapa saat, Raja memberikan kelonggaran waktu untuk bernafas pada Abdullah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sudahkah kau tenang dari keterkejutanmu hai Abdullah?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ah… Ya Baginda, saya baik-baik saja.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Adikku bertemu dengan pemuda itu kemarin di hutan daerah kekuasaanmu.” Kembali Raja diam dan menyelidik wajah Abdullah, seperti dugaannya, air muka Abdullah memancarkan keheranan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apakah saya mengenal pemuda ini Baginda?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ya Abdullah, kau mengenalnya dengan baik.” Abdullah semakin keheranan dan penasaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Dia tinggal didaerah kekuasaan saya dan saya mengenalnya, saya pikir sudah tidak ada satu pemudapun di kerajaan ini yang menarik perhatian Putri Aelia.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Benar hai Abdullah, tak ada satu pemudapun ‘di kerajaan ini’ yang menarik perhatian adikku, kecuali satu pemuda yang sedari kecil tidak tinggal disini, tapi secara kebetulan dia putra dari negeri ini. Pemuda itu hanya singgah beberapa waktu saja untuk mengunjungi ayahnya yang kebetulan Bangsawan Daerah Selatan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Bagai disambar petir Abdullah terperanjat hingga terbangun dari duduknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ali???!!!” Raja tersenyum simpul lalu menarik Abdullah untuk kembali duduk. Sungguh hari ini penuh dengan kejutan bagi Abdullah, sikap Ali yang lain dari biasanya dan sekarang berita dari Raja tentang anaknya tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ali abdul Jabbar bin Abdullah adalah nama pemuda itu, dan dia adalah putra keduamu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ya dia putra saya, tapi maaf Baginda, bagaimana Putri bisa mengenal putra saya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Seperti yang kukatakan sebelumnya, adikku bertemu dengan putramu kemarin siang disaat dia berkuda dihutan. Tampaknya pertemuan yang amat singkat itu membuat adikku terpikat dengan putramu. Jadi sekarang kau tentu tahu kemana arah pembicaraanku Abdullah.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ya, tapi saya tidak berani memberikan jawaban apapun saat ini, karena keputusan itu ada ditangan putra saya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Hum, aku mengerti Abdullah. Sampaikan pinanganku ini kepada Ali. Kabari aku selekasnya setelah kau mendapatkan jawaban Ali. Sekarang bergegaslah kau kembali, karena seperti adikku dan dirimu, aku tak sabar untuk mendapat jawaban Ali.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Abdullahpun undur diri dengan membawa beban berat dipundaknya. Ia mengenal sekali akan tabiat putranya yang selalu menolak lamaran yang datang kepadanya. Abdullah merasa khawatir akan penolakan yang mungkin datang dari Ali, tapi dia teringat akan senyum Ali pagi tadi. Apakah mungkin pertemuan Ali dan Putri Aelia itu yang ingin disampaikan Ali? Ah Bisa jadi!!! Pekiknya girang dalam hati. Siapa yang tak akan terpesona oleh kencantikan Putri Aelia, mentaripun akan turun jika Putri Aelia menerima lamarannya. Abdullah pulang dengan menghibur diri sendiri akan pertemuan Putri dan Ali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Matahari telah lama meninggalkan takhtanya ketika Abdullah sampai tempat tinggalnya. Ali masih terjaga menanti kepulangan Abdullah. Secangkir kopi dan sepiring makanan ringan telah disiapkan Ali, dia tahu benar ayahnya tak akan pergi tidur sebelum rasa penasarannya hilang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Assalammualaikum Ali,”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Walaikum salam Ayah, ada sesuatu yang hebatkah yang ayah dengar dari Raja hari ini? Wajahmu tampak lebih bingung daripada disaat kau berangkat tadi.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Abdullah merebahkan tubuhnya yang gembul sambil menghela nafas panjang sekali, “Ayah sebaiknya kau langsung istirahat, kau tampak lelah sekali.” Kata Ali kemudian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ah tidak…tidak!” Abdullah menggoyangkan tangannya dengan kencang,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Oh Ali anakku, aku tak akan mampu tidur dengan nyenyak sebelum berbicara padamu!” Ali tersenyum simpul, seperti biasa, dugaannya benar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ali, aku ingin bertanya padamu…” Abdullah menyeruput kopinya untuk menenangkan dirinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ya Ayah, apakah itu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Benarkah kemarin kau bertemu dengan Putri Aelia di hutan?” Abdullah menatap tajam berharap menangkap perubahan wajah Ali,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Astagfirullah!! Ya, hal itu benar. Maaf aku tidak sempat menyampaikan salamnya pada Ayah, aku benar-benar lupa, apakah Putri bertanya tentang hal itu diistana tadi? Sungguh bodoh diriku karena lupa menyampaikan amanah darinya. Lain kali ayah bertemu dengannya, tolong sampaikan maafku.” Jawab Ali dengan rasa sesal yang kentara, Abdullah tersenyum simpul, anaknya memang selalu panik jika lupa menyampaikan amanah siapapun. Tapi bukan perubahan expresi wajah ini yang diharapkan Abdullah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Kurasa kau harus menyampaikannya sendiri dilain waktu, karena. Ehm…..Bagaimana menurutmu tentang dia?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Seperti yang telah tersebar diseluruh negeri, dia wanita yang luar biasa kecantikan wajah dan parasnya. Alhamdulillah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apakah kalian lama berbicara?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Tidak Ayah, aku harus segera pulang karena aku berjanji kepada ayah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apa yang kalian bicarakan?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ayah, sungguh dia hanya bertanya dan aku menjawab pertanyaan beliau, dan pada saat itu aku terburu-buru.” Abdullah menghela nafas setengah mengeluh, kekhawatirannya semakin menjadi. Dengan perlahan dia melanjutkan,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ali anakku, kau ingat tentang mawar dikebun?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ya, pembicaraan kita yang terputus pagi ini.” Jawab Ali singkat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apakah Putri Aelia bisa menjadi mawar dikebunmu Ali?” Mendengar itu Ali tersenyum tertawa karena dia pikir Abdullah sedang bercanda untuk menggodanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ah Ayah!… jangan bercanda, dia seorang putri yang semua Raja diseluruh dunia ingin memilikinya. Apalah aku ini!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ali, aku tidak bercanda.” Jawaban Abdullah yang singkat dan serius menghentikan tawa Ali. Dengan wajah penuh harap Abdullah menjelaskan,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Baginda hari ini memanggilku untuk menyampaikan maksud hati sang Putri padamu.” Ali sangat terperanjat, matanya yang bulat semakin bulat sedangkan mulutnya terkatup rapat. Kemudian suasana membeku untuk beberapa saat. Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam, Abdullah menghela nafas panjang dan tubuhnya semakin lemas menempel dikursinya. Ia tahu tundukan kepala Ali berarti berita buruk. Beberapa saat<span> </span>kemudaian, dengan tenang Ali menatap ayahnya dalam-dalam dan berkata dengan perlahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Masya Allah Ayah, ini berita yang sangat mengejutkan. Aku sungguh tidak menyangka pertemuanku yang sedemikian singkat dengan Putri akan menimbulkan hasrat pada hatinya. Tapi ayah…” Abdullah memotong kalimat Putranya dengan gusar,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ali, alasan apakah lagi saat ini yang kau ingin ajukan? Kau telah terlalu lama dan banyak menolak pinangan dari negeri ini, bahkan dari negeri tempat kau tinggal. Apa lagi yang kau inginkan? Saat ini yang meminangmu adalah seorang putri yang tidak hanya luar biasa kecantikannya, tapi juga kecerdasan otaknya.” Dalam hati Ali sedikit sedih melihat kekecewaan diwajah Abdullah, dengan suara semakin direndahkan Ali kembali berbicara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ayah, sesungguhnya pagi ini sewaktu ayah bertanya, aku ingin menyampaikan kabar kepadamu bahwa aku telah bertemu dengan seorang gadis.” Dugaan Abdullah benar adanya tentang senyum yang tersungging di bibir Ali pagi itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ali, apakah gadis ini parasnya secantik Putri Aelia?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Tidak, dia memang cantik, tapi tidak ada yang mampu menandingi kecantikan paras Putri Aelia ayah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Lantas tidak bisakah kau merubah keputusanmu tentang gadis itu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Maaf ayah, tidak.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Mengapa Ali?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Karena aku bersumpah untuk menikahinya atas nama Allah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ah Ali, aku tahu sumpah itu sangat besar tapi…apakah karena sumpah itu saja sehingga kamu menolak lamaran Putri Aelia?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Bukan hanya itu Ayah, jikapun aku tidak bersumpah kepada gadis itu, aku akan tetap memilih dia daripada Putri Aelia.” Abdullah tertegun, kepastian kata-kata Ali menimbulkan rasa sangat penasaran dihatinya pada gadis yang dimaksud anaknya itu. Apa kelabihan gadis itu dibanding Putri Aelia, seberepa luar biasakah sosok gadis ini? pikirnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apakah dia datang dari keluarga bangsawan?” Selidik Abdullah lebih lanjut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Tidak, dia dari keluarga yang biasa saja.” Jawab Ali singkat. Abdullah berdiam diri beberapa saat, lalu dengan nada lembut dia berkata,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ali, Ayah mohon… ini adalah permintaan Raja, tolonglah ayah untuk mempertimbangkan keputusanmu lagi. Jika gadis itu benar mencintaimu, ayah yakin dia akan melepaskanmu dengan rela.” Mendengar permohonan ayahnya wajah Ali mengeras. Dengan pandangan lesu dan penuh penyesalan Ali menolak,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ayah, maafkan jika anakmu tidak berbudi. Tapi ayah, ayah memiliki alasan sendiri dalam keputusan ayah untuk menikahi ibu, begitupun diriku. Demi Allah aku telah bersumpah akan menikahi dia, dan aku akan melaksanakan sumpahku karena rasa takutku pada Allah, selain dari itu ayah, aku sungguh mencintai gadis itu. Jika aku menikah, aku hanya ingin menikah dengan gadis seperti itu atau tidak sama sekali, insyaallah. Dan Putri bukanlah gadis seperti dia.” Abdullah menghela nafas panjang untuk kesekian kalinya dalam sehari. Dia tahu jika Ali telah mengatakan Demi Allah, maka tak akan ada yang dapat merubah keputusannya. Dengan lembut Ali mengusap pundak ayahnya,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ayah, maafkan aku. Tapi keputusan seorang Putri dan Raja tak akan dapat merubah sumpah yang telah kuucapkan karena Allah. Sungguh aku takut kepada Allah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ali anakku, aku mengerti. Sungguh kau benar-benar mencintai gadis itu hingga kau berani bersumpah atas nama Allah. Akupun takut kepada Allah.” Mendengar keikhlasan dalam kalimat Abdullah, Ali merasa sangat lega. Kemudian Abdullah melanjutkan,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Katakan padaku siapa nama gadis itu dan dari mana asalnya. Sudah berapa lama kalian mengenal satu sama lain?”Akhirnya expresi wajah yang ditunggu Abdullah tampak diwajah Ali sewaktu menyebutkan nama gadis yang mematahkan pinangan Raja dan Putri Aelia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Zanimra, gadis dari belahan bumi seberang, dari Madagashphur. Aku mengenalnya hanya dalam waktu singkat, tapi masyaallah dialah gadis yang aku cari selama ini, ayah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Abdullah tertegun beberapa saat, diluar dugaannya nama gadis itu tidak mencerminkan nama Islam. Dia semakin penasaran dengan Zanimra, calon menantunya yang mampu mendahului Putri Aelia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ali, hiburlah ayahmu dari kekecawaan ini, undanglah Zanimra kemari.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Baik ayah, aku akan memintanya datang.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Segera Ali, kapan dia bisa datang?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Perjalanan dari negerinya memakan waktu beberapa hari, tapi ayah bersabarlah. Insyaallah dia pasti akan datang jika ayah yang mengundang.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ah sungguh berat!…Aku tak tahu harus bagaimana menyampaikan berita ini pada Raja, aaaahhh sungguh berat!!….” Abdullah menggelengkan kepalanya keras-keras. Ali merasa menyesal membuat ayahnya kecewa, tapi dia tahu Abdullah mendukung keputusannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ayah, jika ayah berkenan, aku pribadi yang akan menyampaikan jawabanku pada Baginda Raja atau Putri sendiri.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">”Hai anakku, sungguh itu hal yang baik. Akan kubawa kau besok menghadap Raja, sekarang aku benar-benar lelah.” Abdullah beranjak dari tempat duduknya, dia berlalu kekamarnya sambil menepuk-nepuk pundak Ali. Sambil lalu dia berkata “Ali, aku mendukung keputusanmu.” Mendengar perkataan ayahnya yang terakhir Ali merasa tenang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">III. Permintaan Raja</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Udara taman keputrian sangat segar pada pagi hari, bunga yang bermekaran sangat cantik terpuruk malu ketika Putri Aelia memasuki taman itu dengan riang. Kegirangan diwajahnya sungguh membuat kecantikannya semakin bersinar. Dari pagi hingga malam senyumnya membias tak pernah surut. Nama Ali terus terucap lirih dibibirnya. Raja memperhatikan adiknya dari kejauhan dengan rasa senang. Belum pernah selama hidupnya melihat adiknya benar-benar merasa bahagia semenjak kepergian ayah bundanya. Raja merasa yakin Ali tak akan menolak keinginan adiknya, terlebih lagi Putri Aelia terkenal selain dengan kecantikan parasnya juga kecantikan tingkah lakunya kepada sesama. Dia gadis yang baik dan sangat cantik, tak akan ada seorang pemudapun yang akan menolaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Tiba-tiba seorang punggawa kerajaan membuyarkan lamunannya. “Baginda, Abdullah beserta putranya hendak menghadap.” Dengan girang Raja memerintahkan kedua orang yang dinantinya untuk menemuinya di taman umum kerajaan, tempat biasa dia bercengkerama dengan Abdullah. Setelah Punggawa itu pergi raja memanggil adiknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Aleia, ikutlah denganku.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Baik kakak,” sambil berjalan Aelia melihat senyum diwajah kakaknya, “Kak ada apa?” Raja hanya menggelengkan kepala, beberapa langkah dari taman Raja menunjuk kearah dua sosok tubuh yang sangat dikenal Putri. Jantung Putri hampir berhenti melihat sosok Ali yang berdiri tak jauh dihadapannya, lututnya menjadi lemah lunglai seketika.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ali…” bisiknya lirih dengan bibir gemetar. Raja membimbing adiknya untuk mendekat, tapi tubuh putri mematung seperti es. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Kakak, aku takut tak mampu menguasai diriku, biarkan aku disini. Temuilah mereka dan kabarkanlah padaku berita yang terucap dari bibir Ali.” Raja mengangguk, lalu berlalu mendekati kedua sosok Ali dan Abdullah yang belum menyadari kehadiran Raja dan Putri, sementara itu putri bersembunyi dibalik rerumpunan mawar yang merambat. Dengan debaran jantung yang semakin mengeras Putri Aelia menunggu kakaknya, pandangan matanya tak sekejappun lepas dari sosok Ali. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>Beberapa langkah mendekati Abdullah dan Ali, Raja merasakan sesuatu yang kurang menyenangkan ketika dia menangkap mata Abdullah yang sayu. Setelah mereka bertiga duduk Raja memperhatikan Ali dalam waktu yang cukup lama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ah, rupanya inilah pemuda yang membuat adikku melayang diatas awan dan menari dilintasan pelangi.” Goda sang Raja pada Ali. Ali tersenyum gugup, tapi Abdullah lebih gugup lagi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ali, berbicaralah padaku. Bagaimana menurutmu tentang Aelia.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Baginda, Putri adalah wanita dengan paras tercantik yang pernah saya temui didunia ini.” Raja tersenyum simpul. Tapi dia menangkap nada datar dari kata-kata Ali, hal itu membuatnya sedikit gusar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Dan menurutmu, apakah dia akan menghibur seorang laki-laki sebagai istri?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Bagi pria yang menikahinya dia adalah berkah dari Allah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ah, jadi menurutmu dia berkah dari Allah bagimu!” Sahut Raja tajam. Abdullah hendak angkat bicara, tapi kemudian Ali mendahului dengan tenang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Dengan segala kerendahan hati dan beribu maaf, Ayah telah menyampaikan maksud Raja dan Putri kepada hamba, tapi dengan berat hati saya tidak dapat menerimanya.” Wajah Raja mengeras dan nada suarannya semakin merendah menahan getaran hatinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Hai Ali, apakah yang menyebabkan kamu menolak adikku?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Karena saya takut kepada Allah.” Raja tertegun, mendengar kata Allah kegeramannya sedikit mereda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Apa maksudmu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Alasan saya tidak dapat menerima pingangan ini karena Saya telah mengangkat sumpah atas nama Allah pada seorang gadis sebelum bertemu Putri. Saya telah bersumpah untuk menikahi gadis itu. Dan saya tidak mungkin melanggar sumpah tersebut karena saya takut kepada Allah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Hemh… kau takut kepada Allah karena sumpahmu aku bisa memahami, tapi jika gadis itu mau melapaskanmu dengan rela, apa yang akan kau lakukan Ali?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Tetap saya tidak dapat melanggar sumpah melainkan jika Allah berkehendak dia yang memutuskan untuk meninggalkan saya karena saya berbuat aniaya padanya. Sungguh saya takut kepada Allah, karena Allah berfirman dalam kitab-Nya,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><!--[if gte vml 1]&gt;                    &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><a href="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/12.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-113" title="12" src="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/12.jpg?w=497&#038;h=118" alt="12" width="497" height="118" /></a></span><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> Q.S. An Nahl:91. Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah (mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.”</span></em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-align:center;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;font-style:normal;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span></em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-align:justify;"><a href="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-114" title="2" src="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/2.jpg?w=497&#038;h=118" alt="2" width="497" height="118" /></a></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> Q.S. Al Baqarah : 225. Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.</span></em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;font-style:normal;">“Bagaimana jika gadis itu pergi meninggalkanmu?”</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;font-style:normal;">“Allah yang Kuasa atas segala kejadian dimuka bumi, saya percaya padanya. Sebagaimana saya telah bersumpah atas nama Allah, diapun telah berjanji atas nama Allah untuk menanti dan menikahi saya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Baiklah Ali, aku mengerti maksudmu. Bagaimana jika kau tak terikat sumpah dengan gadis itu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Maaf, dengan sejujurnya Saya yang tak akan rela melepaskan diri saya dari gadis itu Baginda.” Baginda terhenyak, seperti apakah gadis yang mengalahkan hasrat Ali dari kecantikan adiknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Jadi, tanpa sumpah-pun kau akan tetap menolak adikku?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Jika saya telah bertemu dengan gadis itu, gadis manapun dibumi akan saya tolak. Tapi jika saya belum bertemu dengan gadis itu, demi kebaikan ayah, saya akan menerima Putri sebaga istri saya.”<span> </span>Seperti halnya Abdullah, Raja sangat penasaran dengan gadis yang mengikat hati Ali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Begitu besarkah cintamu pada gadis itu Ali? Mengapa kalian begitu berani mengadakan perjanjian sekuat itu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Demi ketenangan jiwa kami bedua, Baginda.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Sungguh mengherankan kepercayaan kalian berdua pada satu sama lain.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Sebenarnya yang kami percayai bukanlah diri kami, tapi Allah semata. Saya memegang janji yang diucapkannya karena Allah, dan dia memegang sumpah yang saya ucapkan karena Allah. Pada Allah sajalah kami menaruh kepercayaan penuh.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Baiklah Ali, sungguh aku amat sangat menyayangkan hal ini. Aku menghargai keputusan dan pendirianmu. Tapi demi kebahagiaan adikku, aku akan memperjuangkan dirimu untuk menikahinya. Buatlah aku mengakui bahwa gadis pilihanmu itu jauh lebih baik dari Aelia, maka aku akan rela merestui pernikahanmu dengan gadis itu. Tapi jika ternyata dia tidak lebih baik dari Aelia, aku tak ingin kau kembali kenegeri ini karena airmata adikku yang akan terus mengalir. Undanglah gadis itu untuk tinggal diistana ini sebagai tamu kerajaan.” Mendengar titah Raja, Abdullah merasa gusar, dia melirik kepada Ali, diwajah anaknya terlukis ketenangan dan keyakinan yang luar biasa. Keyakinan Ali membuatnya semakin bertanya-tanya tentang Zanimra, sebesar itu keyakinan Ali tentang gadis pilihannya, bahkan dihadap Raja sekalipun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Jika itu kehendak Baginda, saya akan melaksanakannya. Sampaikan perasaan penyesalan saya yang terdalam kepada Putri Aelia, semoga Allah memberinya keselamatan dan rahmat.” Kemudian Raja meminta Ali meninggalkan beliau dan ayahnya sendiri. Setelah Ali berlalu Raja berkata dengan penuh kesedihan pada Abdullah. Terbayang dimatanya tangis Putri Aelia karena rasa kecewa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ah Abdullah, ternyata selama ini julukan Pemuda Es atas anakmu ini benar adanya. Sayang sekali aku tak bisa mengikat tali kekerabatan denganmu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Maafkan saya Baginda,”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Yah, aku tak menyalahkanmu Abdullah, hanya saja aku tak bisa melihat air mata adikku satu-satunya. Pahami keputusanku untuk mengembalikan kepercayaan adikku atas dirinya, satu-satunya jalan adalah hanya dengan mempertemukan dua putri ini dalam satu ruangan. Siapa tahu Ali memang benar akan pilihannya dan adikku bisa belajar sesuatu dari gadis tersebut. Aku hanya berharap cara ini akan membuat adikku rela melepaskan anakmu ini, Abdullah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Saya mengerti dan saya yakin putra saya juga memahaminya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ya! Ya!… aku kagum pada putramu, tapi keyakinan diwajahnya terhadap gadis ini benar-benar membuatku penasaran. Seperti apakah gadis itu yang bisa membuat mata anakmu berpaling dari keajaiban kecantikan adikku? Abdullah, titahku pasti, bawalah gadis itu sebagai tamu istanan ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Titah Baginda akan saya laksanakan, insyaallah dalam beberapa hari Zanimra<span> </span>akan tiba dikerajaan ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ah jadi itu namanya… darimana dia berasal?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Dari kerajaan Madagashphur.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Bukankah itu kerajaan Hindu??”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ya, benar. Tapi dia gadis muslim sejak lahir.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Baiklah, biarkan aku menilainya setelah aku bertemu dengannya. Sekarang sebaiknya kau cepatlah berlalu karena adikku sedang menunggu dibalik semak mawar itu….aahh…..bagaimana caraku menyampaikan berita ini pada Aelia hai Abdullah…” Abdullah menganggukkan kepalanya lalu berlalu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>Melihat Abdullah pergi, Putri Aelia berlari menghampiri kakaknya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ah adikku bulan negeri ini, duduklah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Aelia dengan patuh duduk dihadapan kakaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Aelia…walaupun kita ini orang terpenting dikerajaan ini, tapi tentu kau sadari bahwa kita tidak dapat memaksakan kehendak kita…” Sungguh dirasa sangat berat dada Raja ketika melihat mata wajah adikknya memucat seputih melati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Aelia, tabahkan hatimu, ternyata …”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ali… menolakku…” Air mata Putri mengalir membasahi pipinya yang memucat, rasa sakit dihatinya begitu pilu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Duhai kakak, kenapa aku merasa begitu hancur seperti ini? Mengapa aku merasa sangat bahagia pada semula waktu dan merasa mati disaat ini. Aduhai… pedih sekali rasanya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Raja memeluk kepala adiknya dengan lembut, tangis adiknya seperti pisau menyayat ulu hatinya. Sungguh jika dia bukanlah raja yang bijak, kekuasaan ditangannya akan dia gunakan demi kebahagiaan adiknya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Bersabarlah wahai adikku, dengarkan aku. Pintu belumlah sepenuhnya tertutup. Dengarlah.”<span> </span>Lalu Raja menceritakan rencananya untuk mengundang Zanimra, dia yakinkan bahwa ini adalah kesempatan kedua bagi Putri untuk merubah keputusan Ali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Aku ingin bertemu Ali Kak, ijinkan aku tinggal diwilayah selatan untuk berada dekat dengannya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Jika itu bisa membuatmu senang, pergilah. Tapi ingat, sebagai manusia kita tak boleh memaksakan kehendak atas manusia lain.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Aku mengerti.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Pada malam itu juga Putri Aelia pergi ke wilayah selatan dengan membawa harapan mampu merubah keputusan Ali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">IV. Kedatangan Zanimra</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>Ali berkuda dengan riang menuju hutan, pertemuannya dengan Raja semalam diluar dugaannya. Semula dia merasa khawatir jika Raja bukanlah raja yang bijak. Tapi ternyata Raja adalah seorang raja yang patut dikagumi ayahnya selama ini. Pikirannya melayang kepada kekasihnya Zanimra yang sebentar lagi akan datang. Pagi ini dia telah menerima surat kilat yang mengabarkan Zanimra akan datang. Sekilah terlintas bayangan Putri Aelia, sungguh dia wanita yang luar biasa kecantikannya dan baik budi pekertinya, tapi Ali tidak pernah tertarik pada kecantikan paras wanita. Ada sesuatu pada diri Zanimra yang tidak dimiliki sang putri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>Ali tersentak dari lamunanya ketika dia melihat serombongan tandu menghadang jalannya. Kereta Putri Aelia yang gemerlap berdiri dengan anggun dihadappannya, kemudian sosok cantik yang menyilaukan mata itupun turun dengan langkah yang hampir melayang seperti peri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Salaam ya Ali,”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Walaikum salam Putri,” jawabnya tenang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Putri melihat tajam ke arah Ali, lagi-lagi pemuda itu menundukkan pandangannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Hai Ali, kau tidak memiliki janji saat ini bukan? Sudikah kau menghormatiku dengan turun dari kudamu?” Dengan sekali anggukan Ali turun dari kudanya dengan mata tetap menunduk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Terima kasih Ali, aku ingin bertanya kepadamu, pernahkah sekalipun kau melihat wajahku?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Duhai tuan Putri, sungguh wajahmu telah terkenal akan kecantikannya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Aku tidak bertanya tentang apa yang kau pernah dengar, aku bertanya apakah kau pernah melihat wajahku?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Pernah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Pernahkan sedekat ini?” Tiba-tiba Putri telah berdiri sangat dekat dengan Ali, keharuman tubuhnya merebak sangan kuat dan memabukkan siapapun yang menciumnya. Ali dengan sigap mengambil langkah mundur, tapi tertahan ketika Putri menangkap tangannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ali, sekarang kau melihatku!” Putri membungkukan dirinya dengan wajah menengadah tepat di depan mata Ali yang tertunduk. Sungguh kecantikan yang luar biasa terpampang dihadapan Ali. Kemerduan tawanya sangar renyah dan menggemaskan. Tapi hal itu malah membuat Ali merasa geram. Menyadari posisi Raja yang dihormatinya, Ali menahan kegeramannya. Dengan sopan Ali melepaskan genggaman tangan Putri Aelia dan melangkah mundur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Maaf Putri, sungguh putri memiliki kecantikan yang luar biasa. Jadikanlah ia berkah Allah bagimu dan jangan jadikan kecantikan itu bencana bagimu. Sesungguhnya syaitan amat licik dalam membuat tipu daya, dan kecantikan wanita adalah salah satu senjata terampuh bagi mereka.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ah Ali, aku tak merasa beruntung dengan kecantikan ini, karena dengan kecantikan yang kumiliki inipun tak mampu mendapatkan apa yang paling aku mau, yaitu dirimu!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Demi Allah wahai Putri, sungguh kecantikanmu tak semua orang memilikinya, sungguh itu adalah berkah dari Allah jika Putri bersyukur.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ali!…Ali…tak tahukan betapa pedih rasa cinta yang kurasakan untukmu? Jika aku buruk kau mau mencintaiku, maka aku rela untuk menjadi buruk bagimu!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>Ali menghela nafas panjang, ia tahu apapun yang akan dia katakan hanya akan membuat Putri semakin galau. Ali hanya berkata lirih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Maafkan saya duhai Putri, sungguh saya telah terikat sumpah, maka saya tak </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">akan mengingkarinya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Yah aku tahu, sumpah pada seorang gadis. Sungguh Ali, jika dia tidak melebihi aku, aku akan terus berjuang untuk mendapatkan hatimu. Tapi jika kau bisa meyakinkan aku bahwa dia lebih baik dariku, aku akan rela melepaskanmu!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Saya tahu janji saya pada Raja, dan saya akan menepatinya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Oh Ali, ijinkan aku bersamamu sebelum dia datang… ijinkan aku berada disekelilingmu, berkuda bersamamu, apapun yang kau lakukan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Maaf Putri, sumpah saya adalah sumpah atas nama Allah, sebagaimana saya tidak akan rela jika kekasih saya menghabiskan waktu bersama laki-laki lain, begitupun dia tidak akan bahagia jika saya berbuat demikian.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ah Ali, mengapa begitu kejam dirimu padaku?”<br />
<span> </span>“Sesungguhnya aku hanya bersikap yang semestinya Putri.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Aku tahu Ali, aku hanya mengujimu. Ternyata memang kau seperti apa yang aku harapkan! Ini membuatku semakin menginginkanmu Ali. Aku akan berjuang demi dirimu Ali!” Putri lalu berbalik menuju keretanya. Beberapa langkah kemudian dia menghentikan langkahnya dan berbalik kearah Ali lagi,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ali, apakah kau pikir aku bertabiat buruk?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Saya banyak mendengar tentang Putri, sungguh Putri adalah seorang Putri yang dicintai rakyatnya. Jadi tidak mungkin Putri bertabiat buruk.” Jawaban Ali membuat Putri Aelia tersenyum pilu, lanjutnya lagi dengan lirih,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Jika kau belum bertemu gadis itu, apakah kau akan menerima pinanganku?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Demi kebaikan Raja dan kerajaan ini, insyaallah Putri.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Mengapa kau tak pernah sekalipun datang padaku sebelum kau bertemu gadis itu Ali?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Jikapun saya menemui dirimu, bukan berarti pada saat itu Putri akan berhasrat pada saya, boleh jadi pada saat itupun Putri akan menolak saya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Sungguh pandai kau bersilat lidah Ali! Aku semakin kagum padamu. Katakan Ali, aku tahu kau begitu percaya akan kekasihmu, tapi bagaimana jika dia melanggar janjinya padamu?” Dengan tenang Ali menjawab,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Na udzubillah, aku berlindung kepada Allah dari hal yang demikian. Tapi jika Allah berkehendak demikian, maka itu adalah urusan Allah dengan dirinya. Dan hidupku kupasrahkan sepenuhnya di tangan Allah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Aku masih tak mengerti, apa yang membuat kau terpaku pada gadis itu.” Gumam Putri Aelia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>Putri menaiki keretanya dan berlalu. Ali menghela nafas dengan lega, dia beristigfar untuk beberapa saat mengingat kejadian singkat dengan putri. Sebagai laki-laki sungguh kecantikan dan keharuman tubuh Putri Aelia sangat memabukkan, tapi rasa mabuk itu bagi Ali tidak lebih dari harumnya bau arak, semakin harum dan memabukkan semakin ia menjauhinya. Sungguh desakan Putri Aelia membuatnya gusar, tapi beberapa saat kemudia dia teringat akan kedatangan Zanimra, bayangan kekasihnya itu menyejukkan hati Ali seketika. Kecintaannya pada Zanimra bagi Ali adalah kecintaan yang menyejukkan jiwanya, kecintaan kepada wanita seperti Putri Aelia baginya adalah kecintaan yang memabukkan jiwanya. Ali menyadari bahwa tak semua orang akan mengerti jalan pikirannya, tapi dia tidak perduli, dengan tangkas Ali menaiki kudanya lalu melaju dengan pesat meninggalkan tempat itu, dalam hati dia berkeras tak akan mengunjungi hutan itu lagi selama Putri masih berada disana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">*****</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Assalammualaikum.” Abdullah dikejutkan oleh kemerduan suara seorang wanita dari belakangnya, “Walaikum salam.” Jawabnya bersemangat. Dia membalikkan tubuhnya dan melihat sosok anaknya Ali yang berdiri dengan seorang wanita disebelahnya dan seorang lelaki paruh baya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Zanimra, putriku! Selamat datang!” sambutnya riang. Untuk beberapa saat Abdullah memperhatikan Zanimra, kecantikan Zanimra sungguh biasa-biasa saja dan jauh dibandingkan dengan kencantikan Putri Aelia. Tubuhnya kecil dan tidak terlalu tinggi. Pakaiannya sederhana dan rapi, tapi tak satupun dari diri Zanimra yang bercahaya dan memukau pandangan. Hanya saja Zanimra tampak lebih muda dibanding Putri Aelia, mungkin karena tubuhnya yang kecil. Abdullah menyadari bahwa ukuran tubuh penduduk Madagashphur memang kecil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Terima kasih Tuan Abdullah, sangat senang saya berada disini. Sudah banyak sekali Ali bercerita tentang Anda. Alhamdulillah akhirnya saya bisa berkunjung.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ayah, ini calon menantumu bersama Pamannya Nagosh Abdurrahman.” Kemudian Abdullah merangkul paman Zanimra</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Selamat datang sahabatku Nagosh Abdurrahman, sungguh suatu kehormatan bertemu kalian.” Paman Zanimra membalas pelukan Abdullah dengan ramah tapi tak bersuara sedikitpun. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Maaf Tuan, Paman saya tidak dapat berbicara, tapi dia bisa mendengar.” Kata Zanimra kemudian. Abdullah melepaskan pelukannya lalu mempersilahkan semuanya duduk. “Ah maaf jika begitu, silahkan duduk, kalian pasti sangat lelah…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Terima kasih.” Sahut Zanimra lembut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ah yaaah, aku merasa senang ketika mengetahui akhirnya Ali menemukan wanita yang bisa membuatnya jatuh hati! Sungguh aku pikir hanya wanita yang luar biasa sajalah yang mampu meluruhkan hati Ali! Sungguh sahabatku Nagosh, keponakanmu ini membuat kerajaan ini geger.” Nagosh tertawa mendengar ucapan Abdullah yang dikiranya hanya sebagai lelucon.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Alhamdulillah…segala puji hanya bagi Allah.”<span> </span>Jawab Zanimra tersipu segan, Abdullah terhenyak melihat mimik wajah Zanimra dan reaksinya yang sama persis seperti Ali jika dia menerima pujian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Sungguh aneh Ali, aku seperti melihat dirimu dalam sosok wanita pada Zanimra!” Ali tertawa kencang mendengar kalimat jujur ayahnya sedangkan Zanimra hanya tersenyum simpul. Tiba-tiba Zanimra membisikan sesuatu pada Ali lalu Ali tersenyum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Maaf Ayah, Zanimra takut jika dia tidak sopan, tetapi ini sudah waktunya shalat dan dia belum sempat membersihkan diri dari perjalanan jauhnya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ah! Bodohnya Abdullah,” Jawab Abdullah memaki dirinya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Aku yang tidak sopan wahai putriku! Aku tahu kau pasti sangat lelah dan memang ini sudah waktunya shalat. Baik- baik…bersihkan dirimu dan kita shalat bersama.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Insyaallah Tuan Abdullah, terima kasih banyak, Anda benar-benar Tuan rumah yang sangat menyenangkan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ah Zanimra! Berhenti memanggilku Tuan! Panggil aku Ayah!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Baiklah Ayah, dengan senang hati. Saya permisi dulu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ya, aku akan tunggu kalian di Mushalah.” Abdullah tidak melepaskan pandangan dari Zanimra dan anaknya sewaktu mereka berjalan meninggalkannya. Semula ia merasa kecewa dengan perawakan Zanimra yang biasa saja, tapi setelah berbicara dengan gadis itu, Abdullah merasakan sesuatu yang berbeda dan sangat kuat, seperti yang selalu ia rasakan bila bersama anaknya. Zanimra adalah bentuk lain dari Ali! Sebagai ayah kini ia mengerti mengapa Ali memilih Zanimra, tapi apakah Raja dan Putri akan memahami apa yang dia rasakan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Hari itu berlalu dengan riang hingga tibalah malam, Abdullah melihat gairah hidup pada mata anaknya. Gairah hidup yang tak pernah dia temukan selama dia mengenal Ali. Abdullah dapat menangkap keyakinan Ali pada Zanimra dan hal sama pada sebaliknya, kekuatan hubungan batin kedua insan didepannya dijalin oleh sesuatu ikatan kuat. Abdullah melihat keindahan yang manis dari jalinan cinta anaknya, tapi Abdullah juga menyadari, tak semua orang mampu memahaminya. Semakin lama dia melihat Zanimra dan Ali, Abdullah semakin merasa lapang dan damai. Waktu makan malampun tiba, tetapi sayangnya Nagosh harus menghabiskan waktu di tempat tidur karena kelelahan. Ditengah kehangatan makan malam tiba-tiba seorang pelayan masuk dengat tergesa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Maaf Tuan, Putri Aelia datang berkunjung.” Abdullah dan Ali terhenyak. Ali tak ingin memberitakan perihal Putri Aelia pada Zanimra melalui surat, tapi karena begitu bahagia Ali lupa untuk memberitahu Zanimra pada hari itu. Lagipula kedatangan Putri Aelia sungguh diluar dugaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Kami akan menjemputnya di ruang utama.” Jawab Abdullah singkat, pelayan itu bergegas kembali keruang utama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Putri Aelia, Putri yang terkenal dengan kecantikannya itu datang? Subhanallah, kecantikan seperti apakah yang Allah limpahkan padanya hingga namanya terucap disetiap bibir laki-laki diseluruh dunia?” ujar Zanimra dengan penuh rasa keingin tahuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Mari anak-anakku, kita sambut tamu agung kita terlebih dahulu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>Lalu ketiganya beranjak dari kursi makan mereka. Sewaktu memasuki ruang tamu utama langkah Zanimra terhenti. Matanya begitu silau seperti melihat bidadari. Ali menyadari keterpanaan kekasihnya, sedangkan Abdullah yang berjalan didepannya terus menyambut Putri dengan ramah. Zanimra menoleh pada Ali lalu berbisik,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Subhanallah wahai kekasihku, demi Allah dia begitu elok rupanya dan merdu suaranya. Subhanallah, Maha Besar Allah dengan ciptaan yang berdiri didepanku ini.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Mendengar kekaguman Ali berbisik ketelinga kekasihnya, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ya Zanimra, sungguh kecantikan yang kau miliki lebih memikat hatiku daripada seribu kecantikan paras wanita yang kau kagumi itu. Kutahu kau mengerti benar akan maksudku.” Zanimra tersenyum simpul lalu menjawab, “Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah. Tiada daya dan upaya tanpa pertolongan-Nya. Aku mengenalmu wahai Ali seperti engkau mengenalku, aku percaya padamu Ali seperti engkau percaya padaku. Aku hanya mengagumi kebesaran Allah yang terlihat didepan mataku.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>Ali dan Zanimra tidak menyadari keakrabannya menjadi sorotan tajam Putri Aelia, Abdullah yang melihat hal tersebut mencoba mencairkan kebekuan sikap Putri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ah Putri Aelia, mari aku perkenalkan tamu terhormatku Zanimra.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>Zanimra dan Ali tersadar lalu dengan tersipu Zanimra mendekati sang Putri dan menghulurkan tangannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Assalammualaikum Putri Aelia, subhanallah sungguh senang bertemu dengan Anda.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Walaikum salam Zanimra, senang juga bertemu denganmu. Kami tidak sabar menunggu kehadiranmu diistana.” Zanimra tertegun mendengar perkataan putri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Istana?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ah, jadi Paman Abdullah dan Ali belum memberi kabar padamu bahwa Raja mengundangmu untuk tinggal diistana?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Maaf Putri, Zanimra baru saja datang hari ini, belum sempat kami mengabarkan apapun tentang undangan Raja.” Jawab Abdullah menengahi, lalu ia melanjutkan,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span><span> </span>“Tuan Putri, jika tidak berkeberatan, kami hendak memulai makan malam. Apakah Putri berkenan bergabung bersama kami?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ah maafkan aku mengganggu makan malam kalian, tentu saja aku merasa terhormat menerima tawaranmu Paman.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Kehormatan berada pada kami Putri Aelia.”<span> </span>Putri menyadari bahwa kecantikannya jauh diatas Zanimra, dengan sengaja dia menjajari Zanimra dengan ramah dan mengajaknya berjalan didepan Ali. Abdullah tahu perilaku ramah itu hanya siasat Putri untuk membuat Ali melihat perbandingan kecantikan kedua gadis itu. Abdullah melirik anaknya yang sedang tersenyum geli, tak ayal Abdullahpun ikut tersenyum geli. Putri belum juga memahami bahwa apa yang dilihat Ali bukanlah kecantikan paras Zanimra. Dalam jamuan makan pembicaraanpun berlanjut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Bagaimana menurutmu tentang kerajaan kami Zanimra?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Alhamdulillah kerajaan ini sangat menyenangkan, dari pelabuhan yang sangat tertib sudah mencerminkan betapa baiknya ketata negaraan kerajaan ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Hmmm… apakah kau pikir kerajaan ini aman?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Inshyaallah. Alhamdulillah, kerajaan ini adalah negri yang sangat makmur, sebuah kerajaan hanya bisa mencapai kemakmuran seperti kerajaan ini jika keamaan terjaga baik didalamnya Putri. Tapi selain dari hal itu, saya sering mendengar bahwa Putri Aelia memiliki kesenangan menjelajah hutan dengan sedikit pengawal dan dayang. Dari kebiasaan tersebut tercermin betapa amannya kerajaan ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ah, jadi kau tahu beberapa hal mengenai diriku?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Insyaallah, Putri Aelia…alhamdulillah, Anda sangat terkenal dengan keelokan rupanya. Saya belajar banyak tentang negara ini dari Ali.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Oh? Ali pernah berbicara perihal diriku padamu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ya, dia berkata bahwa Putri adalah Bulan dari Andimarsedonia.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Zanimra, apa menurutmu tentang diriku sekarang setelah kau bertemu denganku?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Maha Besar Allah, kecantikan Putri jauh lebih daripada yang saya bayangkan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apa menurutmu laki-laki yang menikah denganku aku bahagia?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Zanimra terdiam sesaat, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Putri terkenal dengan kebaikannya diseluruh negri, kecantikannya juga tak terperi. Insyaallah barang siapa yang menikahi putri akan bahagia.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apakah kau ikhlas jika orang yang kau sayangi mendapatkan wanita seperti aku?” Zanimra tersenyum lalu dengan perlahan dia menjawab.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Demi Allah, jika kecantikan akhlak Putri sebaik kecantikan paras Putri, laki-laki manapun dibumi akan sangat beruntung. Jika orang yang saya sayangi mendapatkan yang demikian, maka saya ikhlas.” Lalu putri menoleh pada Ali dengan tajam,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ah! Kau dengar itu Ali? Zanimra rela dan ikhlas jika memang aku lebih baik darinya!” Zanimra tertegun mendengar kalimat Putri Aelia, sedangkan Ali tersenyum dengan penuh keyakinan dan melancarkan pandangan tepat pada mata Putri. Putri tersentak gugup ketika menangkap tatapan tajam Ali yang sungguh diluar dugaan. Putri Aelia dapat mengangkap keyakianan luar biasa di mata Ali pada Zanimra.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ah Paman, putramu ini sungguh menyiksaku!” Katanya singkat pada Abdullah. Zanimra yang masih gamang terhadap situasi itu hanya diam seribu bahasa. Abdullah hanya terdiam menahan senyum. Abdullah merasa kagum pada putranya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Paman, terima kasih atas makan malamnya, saya rasa hari sudah larut. Sebaiknya saya mohon pamit.” Ucap Putri kemudian dengan lembut dan sopan berusaha menutupi kekacauan dihatinya. Ingin sekali Putri berteriak pada Zanimra bahwa ia mencintai Ali, tapi ia tahu ini bukan saatnya. Dengan berwibawa dan anggun Putri kemudian bertitah,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“ Zanimra, kakakku menunggu kedatanganmu segera.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Terima kasih Putri, entah karena apa saya mendapat kehormatan dengan undangan Raja ini. Saya menerimanya dengan senang hati, insyaallah saya akan bersedia.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Paman, berangkatlah dengan Zanimra bersama rombonganku besok pagi.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Baik Putri Aelia. Tapi Ali akan berangkat lusa karena saya memiliki tugas penting yang harus dia kerjakan besok.” Jawab Abdullah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Oh Ali! Kau akan membiarkan Zanimra bersama kami sendirian?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Putri, Zanimra bersama ayah saya, isnyaallah saya akan datang keesokan harinya.” Jawab Ali tenang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Baiklah, sekali lagi terima kasih dan selamat malam.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Abdullah, Ali dan Zanimra melepas Putri Aelia, setelah kereta putri tidak terlihat lagi Abdullah tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Ali hanya tersenyum geli. Zanimra hanya memandang keheranan. Ada banyak pertanyaan dalam otaknya, dengan akrab Abdullah merangkul pundak Zanimra, sambil memasuki ruang duduk Abdullah mulai berbicara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ah putriku Zanimra yang manis, pasti kami telah membuatmu kebingungan dengan kehadiran Putri Aelia dan undangannya itu. Maafkan kami!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Abdullah duduk di kursi besarnya, Ali dan Zanimra duduk dikursi panjang yang berhadapan dengan Abdullah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Baiklah Ali, sebaiknya kau ceritakan apa yang telah terjadi pada putri manisku ini.” Dengan pelan dan hati-hati Ali menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi antara dia dan Putri Aelia. Zanimra mendengarkannya dengan takjub, tapi tak nampak sedikitpun perasaan galau atau gusar dimatanya. Setelah selesai mendengarkan cerita Ali Zanimrapun tersenyum kaku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Masyaallah, sungguh diluar dugaanku! Ternyata wanita secantik bidadari itu menyatakan perang dengan diriku?” Mendengar ucapan polos Zanimra Ali dan ayahnya tertawa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Zanimra, aku tak mengenalmu sejauh Ali mengenalmu. Aku minta kau jujur padaku, katakan apa pendapatmu tentang masalah ini?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ayah, apalah arti dunia? Ketidak kekalan. Apa yang terjadi didunia ini hanyalah bagian dari dunia itu sendiri. Dan bagi Ali dan aku, bukanlah dunia tujuan akhir kami. Aku percaya pada Ali, tapi terlepas dari itu, aku percaya pada Allah diatas segala sesuatu. Maka tenanglah selalu hatiku.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ha ha ha! Putri manisku Zanimra, sungguh aku akan dengar hal yang sama dari mulut putraku. Demi Allah jika urusan Raja dan Putri ini selasai, akan kunikahkan kalian segera!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Alhamdulillah, Insyaallah Ayah.” Jawab keduanya dengan tersipu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Hemh, aku hanya berharap Putri akan memahami cara pandang kalian. Pada Raja aku optimis dia akan mengerti, tapi Putri Aelia…..aku tak tahu.” Abdullah menggelengkan kepalanya sambil melenguh…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ayah, tenanglah… percayalah pada Zanimra.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ha ha ha, yah aku percaya sebesar rasa percayamu padanya, Ali, Aku akan tinggalkan kalian berdua. Sungguh kalian tak sempat melepas rindu, apalagi besok pagi kita harus keistana Zanimra.” Abdullah meninggalkan kedua insan itu, Ali lalu memanggil seorang dayang terdekatnya untuk menemani mereka berbincang-bincang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Bibi Alima, kau mengasuhku sedari kecil dan mengenalku seperti ibuku sendiri, tolong jaga kami berdua karena sungguh tidak baik jika kami hanya berdua karena<span> </span>syaitanlah ketiganya, jika kita bertiga Allahlah ke-empatnya.” Dayang itu tersenyum lalu duduk diam dipojok ruangan yang sama. Ujar Ali kepada dayangnya, lalu dia mendekati Zanimra.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Wahai kesejukan jiwaku Zanimra, sungguh aku rindu akan dirimu.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Demi Allah, akupun rindu, tapi jarak yang memisahkan kita adalah hijab yang sangat baik bagi kita Ali.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Yah akupun setuju, sungguh aku ingin segera menikahimu sewaktu aku datang menemui ayah. Dan kau tau tujuanku itu. Diluar dugaan dan kuasaku Putri bertemu denganku dan membuat hambatan ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Allah hendak mencoba kesabaran kita, dan hanya orang yang bersabar yang berhak mendapatkan tempat kembali yang baik.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Kau benar Zanimra, ini mungkin ujian bagi kita, atau mungkin pula teguran bagi kita. Sungguh aku selalu beristighfar memohon ampunan Allah dari kesalahanku dan dirimu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Aku juga berpikir demikian, sungguh Allah Maha Pengasih dan Maha Bijaksana, kita percaya pada-Nya, apapun yang telah dan akan terjadi adalah demi kebaikan kita juga. Sungguh aku takut akan murka Allah padaku.” Ucap Zanimra lirih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Semoga Allah memberikan jalan keluar yang terbaik bagi kita. Aku percaya padamu Zanimra. Percayalah padaku, hatiku tak akan goyah karena kecantikan atau kekayaan Putri itu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Wahai Ali, aku percaya padamu, jika kau tak benar-benar mencintaiku maka tak akan berani kau bersumpah padaku atas nama Allah.” Lalu keduanya tersenyum geli mengingat semua yang terjadi, lama kelamaan senyum mereka pecah menjadi tawa yang riang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Aku benar-benar tak tahu apa rencana Raja padamu Zanimra, berhati-hatilah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Relakah jika kau harus keluar dari negri ini selama-lamanya Ali?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Dunia…apalah artinya dunia Zanimra?” kembali keduanya tersenyum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dayang Alima yang sedari tadi memperhatikan menggelengkan kepalanya dengan kagum pada pasangan majikannya itu. Dia dapat mendengar semua pembicaraan majikannya karena memang majikannya tak ingin ada fitnah atau aib yang muncul. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Baiklah, sebaiknya kau tidur Zanimra, aku harus lebih bersabar dengan kerinduanku padamu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ya Ali, demikian halnya sama denganku. Kita memang harus lebih bersabar.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Ali mengantarkan Zanimra ke kamarnya diikuti Alima, lalu dia bergegas kekamarnya sendiri penuh senyuman bahagia dan syukur.</span></p>
<p><strong><span style="font-family:&quot;">V. Pengakuan Abdullah<br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> Pagi menjelang tanpa terasa, Abdullah tergopoh-gopoh menuju keretanya diikuti Zanimra dan Ali. Tiba saatnya ujian bagi mereka yang datang dari Raja. Zanimra telah menunggu bersama Ali dipintu kereta kuda, Nagosh yang masih kelelahan tidak dapat menemani Zanimra keistana, sehingga Zanimra harus pergi sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ayah, aku titip Zanimra padamu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ali, apakah kau tak melihat? Zanimra terlihat jauh lebih tenang daripada aku. Aku rasa dia yang malah akan menjagaku nantinya,” gurau Abdullah menggoda Ali. Zanimra hanya tersenyum simpul.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Insyaallah Ya Ayahku,” Sambut Ali dengan tawa. Abdullah masuk kedalam kereta kudanya terlebih dahulu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Hati-hatilh Penyejuk mataku,” bisik Ali lirih pada kekasihnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Kau juga, semoga Allah selalu bersama kita, amin.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Amin, assalammualaikum.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Walaikum salam.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Keretapun berlalu, Ali amat pasrah kepada Allah akan nasib kekasihnya. Ali berdoa semoga Allah menjaga hati Raja dari godaan syaitan sehingga dapat melihat kelebihan Zanimra yang sesungguhnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Didalam kereta Abdullah diam-diam memperhatikan Zanimra yang sedang sibuk memperhatikan sekelilingnya sepanjang perjalanan. Dia menangkap expresi wajah Zanimra yang sering berubah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Hai Zanimra, apa yang sedang kau pikirkan? Sedari tadi aku perhatikan, reaksi wajahmu selalu berubah. Kadang kau tersenyum, lalu termenung sedih dan mulutmu selalu bergerak.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ah maaf Ayah, sudah menjadi kebiasaanku yang sulit hilang. Aku mengerti, Ayah bukan satu-satunya orang yang bertanya. Baiklah, semoga penjelasanku akan menyingkirkan prasangka buruk.” Zanimra meluruskan duduknya yang sedari tadi dimiringkan menghadap jendela. Sama seperti Ali, jika dia berbicara pada orang, dia selalu dengan penuh menghadapkan tubuh dan pandangannya pada orang yang diajaknya bicara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ayah,<span> </span>Ini adalah kali pertama aku di kerajaan ini. Tak sedikitpun aku ingin membuang kesempatan dalam perjalanan ini untuk memperhatikan segala sesuatu yang terjadi disepanjang jalan yang kulalui. Tak pernahkan Paman memperhatikan, bahwa banyak sekali adegan kehidupan nyata yang secara sekilas yang kita lewati dapat menjadi pelajaran bagi kita?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Hm, aku mulai tertarik. Lanjutkan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Banyak Ayat dalam Al-Qur’an yang memperingati tentang banyak kejadian dimuka bumi ini, dan sebagian besar dari peringatan itu akan diikuti dengan kalimat…<em>”… Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir”. </em>Lalu banyak juga ayat dalam Al-Qur’an yang berbunyi, ‘…sesungguhnya segala sesuatu yang terjadi telah tertulis dalam kitab Allah.’ </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dari ayat-ayat tersebut, kita dapat mengambil makna global, bahwa sesungguhnya segala sesuatu yang terjadi dimuka bumi ini, bahkan perjalanan yang kita lakukan ini telah diatur oleh Tuhan Yang Maha Agung, Allah. Bahkan jatuhnya selembar daun dari pohonnya juga sudah merencanakan rencana tertulis dari Allah. Tidak satupun yang kita anggap sebagai kebetulan diluar dari rencana dan diluar dari pengetahuan Allah. Dan sungguh sangat banyak ayat dalam Al Qur’an yang meminta kita untuk berfikir. Berfikir itu dapat mematahkan sihir, insyaallah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Abdullah tersenyum, semangat yang dipancarkan mata Zanimra membiaskan rasa kecintaan yang dalam pada apa yang sedang ia utarakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ya Zanimra, kau benar.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Alhamdulillah, Ayah tuaku yang bijak, apakah tidak akan menarik hatimu untuk melihat mencari petunjuk Allah<span> </span>dan mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian yang terjadi disepanjang jalan ini?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Abdullah termenung, sungguh Zanimra lain dari kebanyakan gadis yang pernah dia temui selama ini. Bagi kebanyakan orang, kejadian sekelilingnya hanyalah kegiatan sehari-hari dan mereka tak akan memperhatikan hal-hal itu seperti Zanimra.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sungguh menarik apa kata-katamu itu Zanimra, kalau begitu katakan padaku, apa yang sejauh ini kau dapatkan dari balik jendela kereta ini? Kulihat kau tersenyum, apa yang membuatmu tersenyum?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Entah kejadian mana yang pasti yang dimaksud ayah, ada beberapa kejadian yang membuatku tersenyum. Tapi ada satu kejadian yang paling membuatku terharu. Dipersimpangan pertama memasuki gerbang kota kita berhenti beberapa waktu untuk memperbaiki roda depan yang rusak. Ada seorang pemuda yang tiba-tiba berhenti ditengah jalan lalu menjatukhan tas besar bawaannya tepat didepan sebuah kereta yang datang dari arah berlawanan. Kusir kereta kebingungan karena tiba-tiba pemuda itu berlari ketepi jalan yang semula dengan meninggalkan tas besarnya. Ternyata seorang kakek sangat renta dengan tongkatnya melambai-lambai ingin ikut menyeberang. Lalu lintas kota ini memang tak terlalu ramai, tapi untuk kakek yang jalannya sangat lambat, jalan kereta yang lambatpun akan membuat lututnya kelu. Pemuda itu menghampiri kakek itu lalu menggendongnya dibelakang, lalu ia lari lagi mengambil tas besarnya dan karena beban bertambah, akhirnya dia berjalan menyeberang sambil minta maaf dan berterima kasih pada sang kusir.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ah, tapi mengapa pemuda itu mempertaruhkan tas besarnya dengan resiko digilas kusir kereta atau dibuang ketepi oleh sikusir. Mengapa dia tidak kembali ketepi jalan lalu menunggu<span> </span>bersama si kakek hingga kereta itu lewat saja?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Aku juga sempat berpikir demikian ayah, sewaktu pemuda itu lari menjemput si kakek aku melihat keseberang jalan yang hendak mereka tuju, ternyata disana telah menunggu sebuah perahu angkutan yang akan berjalan. Pemuda itu tak ingin ditinggalkan perahu angkutan itu dan juga tak ingin membiarkan kakek itu. Seperti dugaan pemuda itu, kakek itupun sedang mengejar perahu yang sama.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ha ha ha! Ternyata si tua Abdullah ini mendapat pelajaran dari seorang gadis belia sepertimu hai Zanimra, sangat menarik! Kurasa mulai sekarang aku akan lebih banyak memperhatikan jalan daripada tidur dalam kereta, ha ha ha….” Lalu Abdullah berbicara serius,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apakah kau ingat wajah pemuda itu Zanimra?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sungguh Ayah , aku memiliki kekurangan dalam mengingat wajah orang. Maafkan aku. Tapi aku rasa aku akan ingat si kakek tua itu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ah kurasa itu sudah cukup, aku sedang mencari kurir yang bisa kupercaya. Kurasa pemuda itu cocok, ah Zanimra, jika saja aku melakukan apa yang kau lakukan, niscaya aku sudah memiliki seorang pegawai yang cakap dan berbudi!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Semoga kita berjodoh untuk bertemu dengannya lagi Ayah, insyaallah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Insyaallah, lalu adegan seperti apa yang membuatmu sedih Zanimra?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Segala sesuatu yang membuat Allah murka dan benci adalah hal yang membuatku sangat takut dan sedih Ayah.” Air muka Zanimra yang semula ceria berubah dengan drastisnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sungguh Ayah, banyak sekali manusia yang lupa akan Penciptanya. Itu yang membuatku amat takut dan sedih. Aku sedih akan nasib mereka di hari akhir nanti, tapi terlabih aku takut jika aku menjadi salah satu dari mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Ketika aku memasuki keramaian kota, aku lihat hal seperti itu. Aku tahu kerajaan ini adalah negri yang sangat makmur. Karen kemakmuran itulah kulihat banyak ke-alpaan yang manusia lakukan. Aku banyak melihat laki-laki yang memakai pakaian dan jubah terbuat dari sutra penuh, sungguh Rasulullah pernah bersabda, tidak akan memakai sutra di surga bagi laki-laki yang memakai sutra lebih dari selebar ini,” ujar Zanimra memperlihatkan selendang kecilnya. Abdullah mengangguk setuju.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Kerajaan ini adalah kerajaan dengan mayoritas penduduk beragama Islam, tapi yang kulihat didalam kota banyak wanita yang mempertontonkan kecantikannya dan mencabut alisnya… Ah Ayah, sungguh itu membuatku ngeri, Rasulullah bersabda, “Laknatullah…. Laknat Allah …bagi wanita yang menyukur alisnya. Betapa pedih murka Allah, terlebih lagi ‘Laknat’ Allah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Abdullah sungguh terpana dengan tutur Zanimra selama ini. Segala keraguan dan rasa was-was didalam hatinya tentang nasib anaknya dan Zanimra hilang. Abdullah mengakui secara tulus, Putri Aelia sedang berhadapan dengan lawan yang amat sulit. Abdullah semakin mengerti akan perasaan Ali pada Zanimra dan mengapa tak sedetikpun Ali ragu akan keputusannya. Tapi walaupun Putri Aelia sangat cerdas, kebijakan hatinya yang belia masihlah berdiri dibalik dinding kecintaan pada dunia, seperti apa yang diucapkan Zanimra, banyak manusia yang melupakan Penciptanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Masya Allah Zanimra, sungguh kau adalah pilihan dari Ali.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Alhamdulillah Ayah, tiada daya dan upaya tanpa pertolongan Allah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Abdullah menahan pertanyaannya tentang bibir Zanimra yang terus bergerak, karena ia sudah tahu jawabannya. Meskipun semula Abdullah ingin memperingati Zanimra, karena dia sadar akan banyak orang berprasangka buruk tentang perilaku Zanimra di istana nanti. Abdullah merebahkan kepalanya dengan damai di sandaran kereta, dengan perlahan dia menggumam hingga tak terdengar oleh Zanimra.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ah putriku Zanimra, meskipun bulan cantik, tetapi saja<span> </span>tetap saja tak mampu mengalahkan cahaya matahari.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Melihat Abdullah memejamkan mata, Zanimra kembali asyik dengan jendela keretanya. Tiba-tiba Abdullah berkata masih dengan mata terpejam,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Zanimra, jadilah mataku saat ini dan ceritakan padaku hal-hal yang menarik yang kau lihat nanti malam padaku.” Zanimra tersenyum, “Baik Ayah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Kereta Abdullah akhirnya tiba di istana peristirahatan Putri Aleia, dia telah menunggu disana. Putri Aelia bersikeras agar Abdullah dan Zanimra duduk satu kereta dengannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Zanimra, bagaimana tidurmu malam ini?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Alhamdulillah, tidur saya nyenyak. Semoga Putri mengalami hal yang sama.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Masya Allah, belumkah Abdullah dan Ali bercerita padamu?” Tanya putri terheran mendengar jawaban Zanimra yang sangat tenang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Jika yang Putri maksudkan adalah lamaran Putri terhadap Ali, kami telah memberitahukan hal itu pada Zanimra.” Sahut Abdullah dengan hormat. Putri Aelia merasa amat takjub, setelah mengetahui bahwa Zanimra tengah bersaing dengannya, tak sedikitpun ia menangkap kegusaran dimata Zanimra.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Zanimra, apakah kau juga terbuat dari es seperti Ali?” ucapnya tanpa sadar, Abdullah yang mendengarnya tak mampu menahan tawanya. Sedangkan Zanimra hanya tersenyum manis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Mengapa tak terpancar sedikitpun rasa khawatir dirimu Zanimra? Apakah yang membuatmu sangat percaya diri?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Zanimra menjawab dengan satu kata sambil tersenyum,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Allah.” Abdullah diam-diam tertawa geli melihat kebingungan diwajah Putri Aelia, seperti dugaannya, Putri Aelia belum bisa memahami jalan pikiran Zanimra.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Tidakkah kau takut atau benci pada diriku Zanimra?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Mengapa saya harus merasa demikian?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Karena aku ingin merebut Ali darimu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Saya akui, kecantikan paras tuan Putri tak tertandingi. Tapi jika Putri benar-benar mengenal Ali, maka putri akan merasakan apa yang saya rasakan saat ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Zanimra! Bukankah laki-laki dimuka bumi ini semua sama saja? Hiburan apalagikah dari wanita yang mereka dambakan selain dari kesempurnaan wajah, otak dan budi pekertinya? Seperti ucapanmu semalam, kau menilaiku sebagai wanita yang bertabiat baik dan terpelajar sepertimu. Apa yang membuatmu merasa tenang seperti itu, sedangkan aku memiliki beberapa kelebihan atasmu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Putri Aelia yang bijak, bukankah karena Ali tidak seperti kebanyakan laki-laki dimuka bumi ini Putri menginginkannya?” tak ayal Abdullah merasa sakit perut karena begitu hebat dia mencoba menahan tawanya. Zanimra membalikan pertanyaan Putri Aelia dengan amat telak. Putri Aelia tampak salah tingkah dibuatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sungguhkah kau seyakin itu bahwa Ali tak akan berubah pikiran, ingat kata-katamu semalam Zanimra, kau akan ikhlas jika orang yang kau kasihi memiliki yang lebih baik?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Baiklah Putri, bolehkah saya balik bertanya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Silahkan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apakah Putri benar-benar mencintai Ali.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Jika tidak, aku tak akan memperjuangkan dia seperti ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ya, dan Putri mencintai Ali karena dia laki-laki terhormat yang jujur dan baik bukan?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Benar adanya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apakah perasaan Putri akan berubah jika tiba-tiba wajah Ali rusak?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Tidak! Aku akan terus mencintainya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Jika demikian, mengapa Putri begitu yakin Ali akan merubah cintanya hanya karena wajah dan tubuh saya tidak secantik Putri?” tenggorokan Putri Aelia tercekat, Abdullah sekuat tenaga untuk tidak tertawa melihat expresi wajah bidadari didepannya itu memerah semerah tomat segar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Putri Aelia sadar akan posisinya, dia memilih untuk diam sebelum pertanyaannya membuat dia semakin kecil dihadapan Zanimra. Didalam hati Abdullah menyayangkan kondisi mental Putri yang kacau karena cintanya yang begitu membara pada Ali. Ketangkasan berpikir dan bersilat lidahnya menjadi kabur, Putri Aelia mulai kehilangan kepercayaan dirinya. Yang membuat Zanimra dapat mematahkan setiap kalimat Putri Aelia hanyalah ketenangan dan keyakinan Zanimra yang begitu kuat sehingga pikirannya jernih. Abdullah mengenal Putri sejak kecil, kecerdasan intelektual Putri tak kalah dengan Zanimra, tapi pengendalian emosi dan keyakinan Putri masih jauh dibawah Zanimra.<span> </span>Akhirnya Putri memutuskan untuk berbincang-bincang dengan Abdullah tentang masalah-masalah kerajaan. Zanimra mendengarkan dengan penuh rasa tertarik. </span></p>
<p><strong><span style="font-family:&quot;">VI. Gadis Bertelanjang Kaki dan Perjanjiannya<br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Perjalanan menempuh waktu tiga perempat hari, di tengah perjalanan rombongan Putri beristirahat di tempat peristirahatan keluarga kerajaan yang terdapat dipinggir sebuah desa pertanian yang sangat rapi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Begitu turun dari kereta, Putri Aelia disambut sangat hangat oleh penduduk setempat. Zanimra dapat melihat keramahan Putri pada rakyatnya. Dia tersenyum ketika Putri turun ketengah ladang sayur dan berbicara langsung dengan petani yang sedang bekerja disana. Sungguh sosoknya amat menyilaukan ditengah ladang itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ayah, desa ini kecil tapi sangat menarik,”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Tentu saja, desa ini khusus dibangun sebagai tempat persinggahan bangsawan. Hasil pertanian disini juga diperuntukan bagi keluarga kerajaan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Putri Aelia nampak seperti bidadari ditengah penduduk yang berkerumun itu.” Guman Zanimra.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Hei Putriku, apakah kau kehilangan rasa percaya dirimu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Masyaallah Ayah, bukan begitu. Hanya saja aku tak bisa berhenti mengagumi keindahan yang sedemikian rupa sampai aku tak bisa membayangkan bagaimanakah keindahan bidadari disyurga nanti. Jika seluruh penghuni syurga keindahannya dapat melebihi Putri Aelia, bagaimanakah keindahan syurga itu sendiri?… Terlebih lagi, bagaimanakah keindahan dari Dzat Penciptanya?……Sungguh aku gemetar jika membayangkannya….subhanallah….subhanallah…….” Abdullah tertegun, selama ini diapun mengagumi kecantikan Putri Aelia, tapi tak pernah dia berpikir sejauh Zanimra.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Hem, bagaimana menurutmu sejauh ini tentang Putri Aelia?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Saya kagum akan kecerdasannya dibidang ketata negaraan, terlebih lagi sekarang ini, kecantikannya tidak membuatnya angkuh. Tak segan dia turun keladang untuk berbicara pada petani tentang tanaman-tanaman itu. Dia adalah Putri sejati, seorang wanita pemimpin yang baik. Sayang sekali dia sedang berjalan diatas pematang yang salah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Pematang yang salah? Apa maksudmu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Rasa cintanya Ayah, rasa cintanya yang dapat menghancurkan.” Guman Zanimra sedih. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sayang memang, dia mencintai Ali setelah Ali bertemu denganmu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Bukan itu Ayah, jikapun dia mendapatkan Ali sebelum Ali bertemu denganku, cinta yang dimiliki putri tetap akan menghancurnya.” Abdullah mengangguk setuju.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apa yang akan kau lakukan Zanimra?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Semoga Allah memberikan aku kekuatan untuk menolongnya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Amin.” Sahut Abdullah tulus. Sekarang dia benar-benar mengerti mengapa Ali begitu yakin akan kekasihnya ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Tiba-tiba sebuah bola menggelinding dikaki Zanimra, seorang anak perempuan melihat bola itu dengan malu-malu. Zanimra memungut bola itu dan menghampiri gadis kecil yang dibelakangnya berdiri segerombolan anak lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Assalammualaikum, gadis cantik, apakah ini bolamu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Walaikum salam, Iya itu bola saya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Boleh aku bermain dengan kalian?” Anak itu terkejut, mendadak anak laki-laki dibelakang gadis cilik itu berkata lantang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Wah tidak adil nanti jadinya!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“O? kenapa begitu?” tanya Zanimra menggoda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Tubuhmu lebih besar dari kami, kami pasti kalah.” Ujar anak laki-laki itu lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Hummm…… tapi aku pakai rok yang panjang, lariku tak dapat secepat kalian. Apakah itu masih tidak adil?” Gerombolan anak itu saling memandang untuk beberapa saat, kemudian tertawa kecil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Iyah, kakak larinya jadi pendek seperti kami!” canda anak-anak itu riang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Jadi…aku boleh ikut bermain?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“IYA…” jawab anak-anak itu serempak. Maka Zanimra melepaskan sepatunya lalu ikut berlarian bersama anak-anak petani itu. Abdullah tertawa terpingkal-pingkal melihatnya. Dia sungguh tak habis pikir pada Zanimra, didepan keanggunan dan keindahan Putri Aelia yang luar biasa, dia melepas sandalnya untuk bermain bersama anak-anak diatas tanah berumput. Dari seberang yang berlawanan Putri Aelia tercengang melihat kejadian itu. Dia bersaing dengan seorang gadis yang saat ini bertelanjang kaki berlarian kesana kemari mengejar bola bersama anak-anak kecil. Dalam hati dia merasa malu untuk mengakui bahwa dia sedang bersaing dengan gadis itu. Putri merasa khawatir dengan penilain penduduk karena Zanimra turun dari satu kereta dengannya. Seperti yang dia duga perhatian para petani didekatnya tertuju pada Zanimra, Tapi diluar dugaannya, mereka tertawa bahkan beberapa diantaranya ikut bersorak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sungguh baik sekali putri itu, dia mau bermain bersama anak-anak kita seperti itu!”<span> </span>Celetuk seorang wanita paruh baya tanpa sadar bahwa didekatnya a berdiri Putri Aelia</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Iya, putri kepala desa saja tak akan sudi melepas sandalnya untuk bermain bersama mereka.” Sahut petani lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ah aku merasa seperti sungguh dihormati sebagai bangsawan!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Ketika menyadari keadaannya dia buru-buru minta maaf dengan muka pucat pada Putri Aelia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Maafkan perkataan saya Putri, saya tidak bermaksud merendahkan Putri dengan perkataan tadi.” Putri Aelia hanya tersenyum mengangguk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Kamu tak bersalah.” Jawabnya singkat sambil tersenyum. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Maaf Putri, jika diijinkan saya bertanya, siapakah putri itu? Bukankah dia datang satu kereta dengan Tuan Putri?” Tanya kepala perkebunan dengan sedikit ragu pada Putri Aelia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Dia tamu undangan Raja.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“MasyaAllah, Sungguh luar biasa! Jarang anak-anak dapat menerima orang dewasa untuk bermain bola bersama mereka. Terlebih lagi, sungguh langka seorang tamu kehormatan raja bersikap ramah seperti itu. Siapakah namanya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Zanimra.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Nama yang sangat asing.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Putri Aelia jadi merasa canggung berdiri disana sedangkan sekelilingnya memperhatikan Zanimra dengan pandangan cinta. Mereka baru saja melihat Zanimra, tapi dengan cepat Zanimra dapat memikat hati banyak orang. Diapun berpamitan pergi, lalu menghampiri Abdullah yang masih terus tertawa.Untuk kesekian kalinya Putri merasa dipatahkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ya Abdullah, sungguh apa yang dilakukan Zanimra?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Oh Putri, maafkan saya, sungguh lucu sekali putriku itu berlari dengan rok panjangnya yang sedikit sempit. Anak-anak terus tertawa sambil mengejarnya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Yah, aku dapat melihatnya, dan seluruh orang disinipun memperhatikannya.” Jawab Putri dingin. Mendengar nada datar Putri, Abdullahpun menghentikan tawanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Aku mendengar dari Ali, Zanimra sangat menyukai anak-anak, jika melihat anak-anak dia akan berubah seperti anak-anak. Sekarang saya bisa melihatnya secara langsung.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apakah kau pikir pantas jika seorang Putri undangan Raja bertingkah laku demikian Abdullah?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ehm, maafkan saya Putri, yang saya lihat dari mata penduduk adalah rasa kagum dan hormat pada Zanimra, apakah itu suatu hal yang buruk?” Putri tertegun, dalam hati diapun mengakui bahwan Abdullah benar. Tapi rasa persaingan dihatinya telah membuatnya memupuk rasa iri yang semakin mengaburkan presepsinya. Akhirnya Putri Aelia mengajak Abdullah menemaninya untuk duduk di beranda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Tak lama kemudian permainan anak-anak dan Zanimra selesai, mereka duduk diatas tikar yang disediakan penduduk. Satu persatu petani mendatangi dan memberi salam pada Zanimra. Mereka tampak sangat senang ketika Zanimra dengan lahap memakan buah yang diberikan penduduk. Mereka lebih takjub lagi ketika Zanimra menyuapi beberapa anak yang bersandar dipangkuannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sungguh siapakah dirimu wahai putri yang baik?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Alhamdulillah jika kau menganggapku baik. Aku adalah orang biasa seperti kalian juga, janganlah panggil aku Putri, karena aku bukan berasal dari keluarga bangsawan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Tapi Putri Aelia mengatakan bahwa, kau adalah tamu undangan kerajaan.<span> </span>Sungguh kedudukanmu diatas kami semua wahai Putri. Kami hanya petani.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Alhamdulillah aku mendapat kehormatan itu dari Raja, pemimpin dari negara ini. Tapi tetap saja aku ini adalah tamu kalian dan kalian adalah tuan rumahnya. Makanan yang kumakan sekarang ini adalah pemberian kalian, mengapa kedudukanku lebih tinggi dari kalian sedangkan kalian yang memberi hadiah dan aku yang menerima?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sungguh kami merasa terhormat dengan duduk ditikar yang sama denganmu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sesungguhnya aku lebih merasa terhormat diijinkan bermain dengan anak-anak kalian.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Kakak, gelangmu bagus!” celetuk gadis kecil yang sedang bermain dengan tangan Zanimra.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ah, Salama, kau suka?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Iyah, indah sekali warnanya!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ambillah jika kau mau.” Penduduk makin tercengang melihat Zanimra membiarkan gadis kecil itu membuka gelang dari tangannya,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Eh, tunggu dulu. Kau boleh memilikinya jika kau janji dua hal padaku.” Kata Zanimra tiba-tiba sambil menahan tangan anak yang dipanggil Salamah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apa itu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Patuh pada orang tuamu dan takutlah pada Allah, jangan pernah tinggalkan shalatmu.” Gadis itu mengangguk setuju.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Jika lain kali, insyaallah jika kakak datang dan orang tuamu mengatakan bahwa kamu melanggar janji, aku akan meminta kembali gelang ini darimu. Setuju?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Iya, aku berjanji kakak!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Baik, siapa orang tua dari Salama?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Saya Pamannya, Hasan”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Baik, Paman Hasan sebagai saksi! Salama, Insyaallah jika kau memegang janjimu disaat aku datang nanti, aku akan memberi hadiah yang lebih lagi dari gelang ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Benarkah? Kakak aku janji!” Kemudian Hasan, paman dari Salama bertanya heran, “Nona Zanimra, mengapa kau mengadakan perjanjian dengan Salama, bukankan dia hanya seorang anak kecil?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Paman Hasan, sesungguhnya anak-anak akan mengingat janji dan memegangnya dengan seluruh kepercayaannya yang tulus. Jika kita melanggar janji pada mereka, maka kepercayaan mereka kepada kita akan musnah. Jadi berhati-hatilah dalam memegang janji pada siapapun, terutama pada anak-anak.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Jadi kakak janji akan datang lagi?” tanya Salama lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Tidak Salama, aku berkata Jika aku datang lagi, Insyaallah. Aku tidak tahu apakah aku bisa datang lagi atau tidak dikemudian hari, tapi jika aku datang lagi aku akan menagih janjimu dan jika kau menepatinya<span> </span>aku akan memberikan hadiah yang lain padamu. Dan aku berjanji, jika Allah mengijinkan, aku akan datang lagi.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Aku berharap kakak akan datang lagi dan lagi!” Ucap Salama keras-keras, mengundang tawa yang lain.<br />
<span> </span>“Insyaallah Salama, selalu ucapkan Insyaallah.” Sahut Zanimra lembut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Insyaallah!” celetuk Salama dengan logat yang lucu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Nah, untuk anak-anak lainnya, apakah mau mengikat perjanjian denganku? Jika mau aku akan mencarikan beberapa hadiah untuk kalian.” Kata Zanimra lagi pada anak-anak yang lain. Serentak yang lain menyetujui. Zanimra tersenyum ceria, diapun melangkah pergi menuju kereta kuda. Abdullah dan Putri melihat Zanimra yang tergopoh-gopoh membuka tas besarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sedang apa kau Zanimra?” Tanya Abdullah penasaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Aku hendak mengadakan perjanjian dengan anak-anak Ayah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Perjanjian dengan anak-anak? Apa maksudmu?” Tanya Abdullah semakin heran. Putri Aeliapun ikut penasaran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Jika Ayah ingin tahu, ikutlah denganku.” Abdulahpun meminta ijin pada putri, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Bolehkah saya permisi untuk melihat perjanjian itu Putri?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Aku sendiri penasaran hai Abdullah, sungguh Zanimra itu aneh-aneh saja.” Maka mereka berdua turun dari beranda Pondok dan menghampiri Zanimra.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ah Ayah, adakah sesuatu benda yang bisa kau berikan padaku sebagai hadiah yang cocok bagi anak laki-laki?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Hem…yang kumiliki hanya teleskop kecil ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Bagus sekali! Bolehkah aku memintanya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ambillah putriku.” Zanimra meletakkan beberapa benda kecil diatas selembar kain hijabnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Yang kumiliki kurasa sudah cukup untuk enam anak, dua gadis kecil dan empat anak laki-laki, nilai masing-masing benda tak jauh berbeda, kurasa ini cukup adil.”<span> </span>Gumamnya pada diri sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Bagaiman menurutmu ayah, apakah nilai benda-benda ini cukup adil?”<span> </span>Abdullah memperhatikan benda-benda tersebut dan dia mengangguk setuju. Zanimra mengambil beberapa selendang lagi dari tasnya lalu bergegas menghampiri petani yang masih duduk menunggunya diikuti Abdullah dan Putri Aelia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Setibanya disana Zanimra membagikan benda-benda tadi sesuai dengan pilihan setiap anak,. Lalu Zanimra melakukan perjanjian yang sama seperti yang dilakukannya dengan Salamah. Dari setiap anak dimintanya seorang saksi laki-laki atau dua orang saksi perempuan. Setelah selesai dengan semua anak-anak diapun bertanya,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apakah kalian semuanya senang dan ikhlas?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Kami senang sekali!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Anak-anak, ingat, apapun hadiah yang ada ditangan kalian bukanlah dariku, tapi dari Allah semata. Aku hanya sebagai alat penyalur berkah dan rahmatnya, jadi ucapkanlah…. Alhamdulillah. Sebagaimana benda yang ada ditanganmu itu Rahmat/pemberian Allah yang datang melalui tanganku, jika kalian melanggar janji, maka karena Allah pulalah aku akan mengambilnya kembali, apakah kalian mengerti?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Kami mengerti,”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Jika kalian mengerti, sekarang katakan kepadaku, Demi siapakah kalian memegang akan memegang janji?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Demi Allah!” jawab anak-anak serempak,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Mengapa demikian?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Karena Allah-lah yang memberikan hadiah ini melalui tangan kakak dan Allah pula yang akan mengambilnya dari kami melalui tangan kakak jika kami melanggar janji.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Insyaallah jika Allah memberi kesempatan pada kakak. Alhamdulillah kalian mengerti….. subhanallah, kalian memang anak-anak yang cerdas.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ingat janji kalian baik-baik, patuhlah pada orang tua, takutlah pada Allah dan dan kerjakanlah shalat lima waktu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><a href="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-115" title="3" src="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/3.jpg?w=497&#038;h=165" alt="3" width="497" height="165" /></a></span><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> Q.S. Al Fath:10. Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> ”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Kami berjanji.” Jawab anak-anak secara serempak lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Para saksi, aku sangat berterima kasih atas kesediaan kalian menjadi saksi, sungguh aku hanya dapat memberikan ini sebagai ucapan terima kasihku yang sangat.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Zanimra membagikan beberapa selendang sutra miliknya yang diterima dengan suka ria.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Nona, seharusnya kamilah yang berterima kasih padamu, karena perjanjianmu membuat kami sadar akan dari mana datangnya rezeki yang kami dapatkan sekarang ini. Sungguh kami jarang sekali bersyukur. Berjanjilah untuk sering berkunjung jika kau berkesempatan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Insyaallah jika memang saya memiliki kesempatan dilain hari, jagalah anak-anak ini dalam memegang janjinya, sesungguhnya janji yang mereka ucapkan adalah janji seluruh manusia kepada Allah. Aku hanya mencoba mengingatkan mereka. Semoga pada usianya yang tepat mereka akan mengerti keseluruhan dari maksud perjanjian ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Amin.” Jawab semua yang hadir secara serempak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Baiklah, selagi aku sempat, maukah kalian mendengar sebuah kisah tentang dua petani dan kebunnya?” Dengan hampir berbarengan yang hadir menyetujui,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Kami akan senang mendengarkannya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Insyaallah, alhamdulillah… cerita ini terdapat didalam Al-Qur’an, semoga kita semua mendapat Rahmat Allah untuk mendapat pelajaran darinya.” Zanimra diam sebentar lalu membuka Al-Qur’an kecil yang selalu dibawanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Bismillahirohmaan nirrohiim, Surat Al Kahf ayat 32-46;</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> <em>32. Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">33. Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">34. dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mu&#8217;min) ketika ia bercakap-cakap dengan dia: &#8220;Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat&#8221;.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">35. Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: &#8220;Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">36. dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku di kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu&#8221;.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">37. Kawannya (yang mu&#8217;min) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya: &#8220;Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">38. Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">39. Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu &#8220;MAA SYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH&#8221; (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">40. maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu, hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">41. atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi&#8221;.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">42. Dan harta kekayaannya dibinasakan, lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: &#8220;Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku&#8221;.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">43. Dan tidak ada bagi dia segolonganpun yang akan menolongnya selain Allah; dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">44. Di sana pertolongan itu hanya dari Allah Yang Hak. Dia adalah sebaik-baik Pemberi pahala dan sebaik-baik Pemberi balasan.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">45. Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">46. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.” Zanimra menutup Qur’annya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sungguh ceritamu membuat kami semakin sadar dan takut kepada Allah, kami berlindung kepada Allah dari kesombongan seperti yang dilakukan petani pertama itu.” Kata seorang petani dengan tulus, yang lainnya mengangguk-angguk setuju. Zanimra tersenyun bahagia, dia begitu bersyukur karena Allah begitu Pemurah melembutkan hati orang-orang yang ditemuinya hari ini, dengan senyum lebar dia berkata lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sungguh banyak sekali cerita menarik dan pengajaran penuh rahmat dari Allah di dalam Al Qur’an. Bacalah Al Qur’an, hatimu akan merasa tenang dan bahagia, insyaallah.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> <em>Q.S. Yusuf:111. Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur&#8217;an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Abdullah kali ini benar-benar dibuat tercengang oleh tingkah laku Zanimra, tak jauh beda dengan Putri Aelia, dia semakin tercekat melihat kejadian itu. Akhirnya Zanimra minta Abdullah untuk memimpin shalat berjama’ah dibawah pohon itu. Selesai shalat merekapun melanjutkan perjalanan ke istana. Suasana hening karena tak satupun berbicara, Zanimra masih asyik dengan kain katun yang diberikan penduduk setempat sebagai kenang-kenangan.Tiba-tiba Putri melontarkan pertanyaan karena tak tahan menahan rasa penasarannya, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Zanimra mengapa kau melakukan perjanjian seperti ini dengan anak-anak?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Karena aku ingin mengajarkan pada anak-anak tentang perjanjian.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apakah kau pikir mereka akan memegang janjinya? Mereka hanya anak-anak.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Bukankan pelajaran lebih baik dimulai dari dini? Anak-anak sangat kuat daya ingatnya dan sangat rapuh kepercayaannya. Jika aku melanggar janjiku, mereka akan mencabut kepercayaannya dariku dan akan mengingat hal itu selamanya. Tapi yang terpenting disini, anak-anak mengerti dari siapa hadiah itu datang dan untuk siapa perjanjian itu sebenarnya dilaksanakan. Dan demi siapa mereka akan memegang janjinya. Semua karena Allah semata. Aku ingin anak-anak memahami, bahwa darimanapun atau siapapun datangnya rezeki sesungguhnya semua itu datang dari Allah. Dan hanya pada Allah seharusnya mereka bersyukur.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apakah kau merencanakan hari ini Zanimra?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Bagaimana mungkin saya merencanakannya jika saya baru saja menginjak pedesaan itu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Bagaiman kau bisa berbuat demikian jika tidak kau rencanakan?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Alhamdulillah, Allah-lah yang menginginkannya terjadi. Hal itu terlintas dipikiranku ketika si kecil Salamah meminta gelangku.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Jika Salamah tidak menerima perjanjian itu, kau tak akan memberikan gelang itu padanya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Tidak.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Bukankah itu kejam?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Yang kutawarkan dalam perjanjian itu jauh lebih berharga dari gelangku Tuan Putri.” Putri tertegun mendengar jawaban Zanimra.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Yang kuminta pada Salamah adalah menjalankan shalat dan patuh kepada orang tuanya. Hal itu tidak sulit bagi Salamah, karena dia lahir dari keluarga muslim. Shalat dan patuh pada orang tua adalah hal yang sudah biasa mereka kerjakan karena memang itu diwajibkan. Yang kulakukan hanyalah memberi mereka motivasi dalam menjaganya lebih baik. Salamah menyadari hal itu, oleh karenanya dia dengan berani menyetujui perjanjian itu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Bagaimana dengan anak yang lain? Bukankah tidak semua anak berpikiran sama?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sebagaimana Salamah, aku tanya tantang kerelaan mereka terlebih dahulu, dan mereka merasa rela mengadakan perjanjian itu. Dan mereka tak merasa dirugikan sedikitpun, terlebih lagi dengan hadiah imbalan yang kujanjikan jika mereka menjalankan janji mereka.” Lalu Zanimra mengarahkan pandangannya pada Abdullah dan berkata,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ayah, kau dengar tentang janjiku kepada mereka bukan?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Bahwa kau akan mempertanyakan tanggung jawab mereka dalam memegang janji atau tidak. Dan jika mereka melanggar janji, kau akan mengambil kembali hadiah itu, tapi jika mereka memegang janji, kau akan memberikan hadiah lain lagi bagi mereka. Ya! Aku dengar Zanimra.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Sudikah ayah membantu aku dalam memegang janjiku?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Tentu saja, insyaallah jika aku bisa putriku, Aku akan merasa senang sekali jika bisa ikut serta dalam perjanjian mulia ini!” sahut Abdullah dengan semangat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Aku akan menitipkan beberapa hadiah yang kujanjikan itu kepadamu. Jika dalam setahun aku tak bisa kembali kesini, maukah paman menyampaikan hadiah-hadiah itu bagi mereka yang memegang janji dan mengambil hadiah yang mereka miliki jika mereka melanggar janji?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ha ha ha, subhanallah, tentu saja. Insyaallah jika umurku masih panjang. Dan insyaallah aku akan menambahkan beberapa hadiah lagi!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Alhamdulillah, terima kasih Ayah.” Jawab Zanimra dengan riang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Zanimra, kau memberikan pelajaran yang sangat berharga kepadaku. Jika kau bisa melakukan hal itu pada anak-anak di negri yang baru saja kau kunjungi, mengapa aku tak bisa? Aaaahh, aku sungguh malu padamu Zanimra!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sungguh segala sesuatu datangnya dari Allah Ayah, aku hanya seorang hamba. Alhamdulillah.” Abdullah tersenyum bahagia karena ia mendapatkan Zanimra sebagai calon menantu. Dia tak dapat berkata terlalu banyak demi menjaga perasaan Putri. Karena kelelahan bermain dengan anak-anak akhirnya Zanimra jatuh tertidur. Perjalananpun menjadi kembali hening, bertolak belakang dengan isi kepala Putri Aelia yang semakin berkecamuk. Dalam beberapa jam saja Putri sudah merasakan kelebihan-kelabihan yang dimiliki Zanimra, hatinya semakin gusar. Jika dirinya bisa mengakui kelebihan Zanimra seperti ini, apalagi orang lain dan kakaknya. Kereta memasuki gerbang istana ditengah malam buta. Abdullah dan Zanimra langsung di antarkan ke kamar mereka. </span></p>
<p><strong><span style="font-family:&quot;">VII. Dialog Zanimra Dan Raja<br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Abdullah dibangunkan oleh sebuah ketukan dipintu kamarnya, seorang pelayan masuk dengan seragam yang rapi dan sisiran rambut yang licin. Pelayan itu menyampaikan undangan Raja untuk sarapan di ruang makan pribadinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Hmm, hanya aku sendiri?” Lalu Abdullah bergegas mempersiapkan dirinya. Dalam perjalanan menemui Raja, Abdullah menyempatkan diri untuk menengok keadaan Zanimra, tapi Abdullah tak menemukan Zanimra dikamarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Raja menyambut Abdullah dengan secangkir teh sajian pagi yang masih hangat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Assalammualaikum Baginda.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Walaikum salam Abdullah, duduklah dan temani aku.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Terima kasih Baginda.” Setelah duduk, Abdullah dan Raja menyantap hidangannya. Setelah selesai Raja memulai pembicaraan tentang Zanimra.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Baiklah Abdullah, aku telah lama mengenalmu, kau seperti ayahku sendiri. Kau laki-laki yang jujur dan adil. Ceritakan padaku tentang Zanimra dan apa pendapatmu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Terima kasih atas kepercayaan Baginda. Bulan amatlah cantik dan bercahaya, semua orang yang memandangnya akan mengagumi dan memuji. Sedangkan matahari, tak satupun yang memandangnya atau memuji keindahannya, tapi cahaya bulan masihlah kalah dari cahaya matahari.” Raja tertegun mendengar perumpaan yang diajukan Abdullah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Jadi, Zanimra tak secantik Aelia, tapi cahayanya jauh lebih terang. Ceritakan padaku, apa yang membuatmu memiliki penilaian demikian.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Abdullah lalu menceritakan seluruh kejadian yang dialaminya sepanjang perjalanan menuju istana. Ketika Abdullah selesai dengan penuturannya Raja berdiri dari duduknya dan berjalan mondar-mandir dengan gusar. Abdullah memahami reaksi<span> </span>rajanya. Kemudia Raja kembali duduk dan memandang tajam Abdullah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apakah kebenaran yang kau katakan tadi hai Abdullah?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Demi Allah, begitulah adanya Baginda.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Masyaallah, tak mungkin usia gadis itu sama seperti Aelia!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Memang usia Zanimra tiga tahun lebih tua.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Tidak Abdullah, Zanimra seharusnya jauh lebih tua, bahkan mungkin lebih tua dari usiamu!” Abdullah tersenyum geli, ada rasa bersalah dalam hatinya karena Raja tampak gusar menyadari kelebihan Zanimra. Seperti dugaannya, Raja dengan mudah dapat menangkap kelebihan yang dimiliki Zanimra, cahaya yang tidak dimiliki Putri Aelia itulah yang membuat Ali merasa yakin akan keputusannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Baiklah, dimanakah dia sekarang?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Maaf Baginda, pagi ini saya belum sempat menemui Zanimra.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Hem, perintahkan dia untuk bergabung bersamaku setelah makan siang untuk berkeliling kota.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Titah Baginda akan saya laksanakan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sekarang kau boleh pergi, terima kasih Abdullah, Assalammualaikum.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Terima kasih kembali, walaikum salam.” Abdullah bangkit dari duduknya dan melangkah pergi. Baginda mengerutkan dahinya, dia merasa takjub dengan penuturan Abdullah. Untuk seorang gadis seusia Zanimra jalan pikirannya sangatlah unik dan tak biasa. Yang paling membuat Raja heran adalah kepercayaan diri dan ketenangan Zanimra.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>Tepat setelah makan siang Abdullah dan Zanimra menghadap Raja. Disana Raja dan Putri Aelia telah menunggu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“ Assalammualaikum Zanimra, selamat datang di kerajaan kami.” Sambut Raja dengan ramah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Walaikum salam, saya sangat berterima kasih dan merasa terhormat atas undangan Baginda.” Sahut Zanimra dengan senyum. Dari cara bicara Zanimra, Raja dapat menangkap ketenangan dan kepercayaan diri yang amat kuat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Bagaimana menurutmu tentang kerajaanku Zanimra?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Subhanallah. Seperti yang telah tersohor, kerajaan Baginda adalah kerajaan yang makmur dan kaya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Dan bagaimana menurutmu istanaku?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Subhanallah, Allah menurunkan keindahan yang mengagumkan diistana ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Apa yang menurutmu paling indah di istana ini?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Sejauh yang dapat saya temui sepanjang hari ini, Putri Aelia adalah keindahan utama dunia yang Allah turunkan di istana ini.” Raja dan Putri Aelia terkejut mendengar jawaban yang tak terduga dari Zanimra. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Mengapa demikian?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Karena belum pernah saya temui suatu keindahan dari ciptaan Allah yang lebih indah dari Putri Aelia.” Jawab Zanimra kembali dengan jujur tanpa ada kesan nada menjilat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ah, jujurkah kau atau sekedar memujiku Zanimra?” Sahut Putri dengan senyum yang semakin membuatnya menyilaukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Demi Allah, sesungguhnya saya memuji Allah atas kebesaran-Nya yang nampak<span> </span>padamu Putri. Maha Suci Allah yang MenciptakanMu.” Putri merasa malu mendengar jawaban Zanimra.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Apa yang akan kau lakukan jika kau memiliki kecantikan seperti yang dimiliki adikku Zanimra?” Tanya Raja kemudian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Saya akan sangat takut.” Raja dan Putri kembali dibuat terkejut dengan pernyataan Zanimra.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Sungguh kau gadis yang aneh, dari seluruh gadis dimuka bumi mengharapkan kecantikan seperti Aelia, tapi kau malah sebaliknya. Katakan padaku alasanmu.” Pinta Raja kemudian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Saya takutkan, karena dengan kecantikan itu akan bertambah beban saya dalam perjuangan melawan tipu daya setan dan nafsu saya sendiri. Dengan kecantikan yang demikian, akan sulit bagi saya menghindar dari berbagai pujian. Dan sesungguhnya pujian adalah sangat jahat bagi jiwa, karena ia sungguh memabukkan dan dapat mengikis iman. Dari pujian pulalah tumbuh rasa kesombongan, dan sesungguhnya ‘kesombongan’ adalah sebab terkutuknya iblis hingga akhir jaman. Sungguh saya takutkan hal itu terlebih lagi segala pujian itu Hanya Milik Allah.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>Mendengar jawaban Zanimra, Raja tersenyum getir, ujarnya kemudian,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Demi Allah, Hai Abdullah, sungguh aku melihat apa yang kau lihat dari gadis ini.” Putri memandang Zanimra dengan rasa semakin enggan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Baiklah Zanimra, kurasa Abdullah telah menyampaikan undanganku kepadamu untuk menemaniku berkeliling kota kerajaan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Betul Baginda, terima kasih atas undangannya, saya merasa sangat terhormat.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Baiklah, mari kita berangkat sekarang.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Akhirnya Raja beranjak dari singgasananya diikuti Abdullah, Zanimra dan beberapa petinggi kerajaan, sedangkan Putri tinggal di istana. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Selama perjalanan Raja terus memperhatikan tingkah laku Zanimra, seperti yang dikatakan Abdullah, Zanimra lebih banyak diam sepanjang perjalanan dan mimik wajahnya selalu berubah-ubah seperti layaknya seseorang yang sedang menikmati drama panggung. Raja seperti melihat dirinya sendiri pada Zanimra. Sama halnya dengan dirinya, bagi Zanimra setiap kejadian kecilpun yang dia temui dimanapun dirasakan sangat menarik baginya. Dari kejadian-kejadian kecil itu dapat diambil banyak pelajaran dan hikmah kehidupan. Hal inilah yang pertama kali diajarkan ayahnya pada Raja sebagai dasar kepemimpinan seorang Raja. Pada sore hari rombongan Raja kembali ke istana kecuali Abdullah, dia harus tinggal di kota untuk menyelesaikan beberapa urusan hingga malam. Setibanya di istana, dengan rasa penasaran Raja akhirnya bertanya pada Zanimra.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Zanimra, selama perjalanan aku memperhatikanmu. Kulihat pikiranmu selalu sibuk dengan perubahan demi perubahan yang kulihat dari mimik wajahmu dan gerakan bibirmu yang terus menerus. Maukah kau ceritakan padaku mengapa kau demikian?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Pikiran saya terus sibuk karena mata saya tak henti-hentinya menangkap hal-hal yang menarik terjadi sepanjang perjalanan ini. Bibir saya selalu bergerak karena timbul oleh rasa tasbih kesyukuran atau istighfar ketakutan dari segala sesuatu yang saya lihat.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sesungguhnya aku mengerti apa maksudmu karena Zanimra, yang sebenarnya ingin kuketahui, siapakah yang mengajarkanmu untuk berbuat demikian?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Saya mendapatkan hikmah tersebut dari Allah melalui kitab-Nya Al-Qur’an Baginda.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sungguh Al-Qur’an telah mengajarkanmu suatu kebijakan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Tidakkah Al Qur’an mengajarkan hal yang sama pada Baginda?” Baginda tertegun, dia menyadari bahwa sesungguhnya Raja jarang benar-benar membaca Al Qur’an. Kesibukannya dalam menjalani kerajaan membuatnya hampir tidak sempat untuk membaca kitabullah itu. Semua ilmu yang dia dapat dalam kepemimpinan dan kerajaan dia pelajari dari ayahnya dan petinggi negara serta pengalaman hidupnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sungguh aku malu padamu Zanimra, tapi ketahuilah kesibukanku sebagai raja seringkali menahanku darinya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Masyaallah, sungguh dalam Al-Qur’an terdapat obat bagi semua penyakit dan petunjuk bagi mereka yang bertakwa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:.5in;"><a href="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/4.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-116" title="4" src="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/4.jpg?w=497&#038;h=71" alt="4" width="497" height="71" /></a><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--></span><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> Q.S Al An’Aam : 155. Dan Al Qur&#8217;an itu adalah kitab yang Kami turunkan ini, penuh keberkatan,hebat kegunaannya. Karean itu ikutilah petunjuk Tuhan di dalamnya, dan bertaqwalah menjauhi larangan-Nya, semoga kamu diberi rahmat.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Tapi Zanimra, Al-Qur’an adalah sebuah kitab agama, apa yang bisa kutemui didalamnya tentang cara menjalankan suatu pemerintahan bernegara?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sungguh Nabi Muhammad adalah pemimpin yang menyatukan seluruh tanah Arab dalam waktu yang sangat singkat dan Beliau adalah jendral perang yang luar biasa, pembimbing Beliau tidak lain dan tidak bukan adalah Al-Qur’an. Qur’an bukanlah kitab yang mengatur hablum minallah (hubungan antara Tuhan dan manusia) saja, tapi juga mengatur hablum minan-naas (hubungan antar sesama manusia).”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Zanimra, seperti yang kau lihat, walau bagaimanapun aku berhasil membawa kerajaan ini dalam kemakmuran. Apakah menurutmu yang kuperbuat belum cukup?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Saya akui kerajaan ini sangat makmur dengan kekayaan yang berlimpah, tapi apakah ini saja yang Baginda kejar?” Tanya Zanimra dengan sangat hati-hati. Baginda mengernyitkan alisnya,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apa maksudmu kemakmuran ini tidak cukup bagi rakyatku? Kerajaanku walau kecil adalah kerajaan kaya dan rakyatku hidup dalam kemakmuran.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Benar sekali, saya akui demikian adanya. Tapi seberapa kekalkah kehidupan dunia ini Baginda? Apakah terlupa dari ingatan, bahwa tujuan akhir manusia adalah negeri Akhirat? Manakah yang lebih baik, kehidupan dunia atau akhirat?” Baginda terhenyak dengan pertanyaan Zanimra. Zanimrapun melanjutkan,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Kekayaan dan kemakmuran yang ada pada dunia ini pada saatnya akan ditinggalkan, lalu kepada siapakah kita akan dikembalikan? Sungguh apa yang Baginda raih saat ini hanyalah keberhasilan dunia yang bersifat sementara. Apakah hanya sampai sini akhir perjalanan Baginda?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Zanimra!” kecam Raja tiba-tiba. Dia terkejut dengan keberanian Zanimra dalam mengajukan pernyataan yang mempertanyakan kebijaksanaannya dalam menjalankan roda pemerintahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Maafkan saya jika saya menyinggung perasaan Baginda, saya hanya berbicara sebagai seorang hamba Allah. Kerajaan ini adalah kerajaan mayoritas perpenduduk Islam, tapi sangat disayangkan jika roda pemerintahan jauh dari Islam itu sendiri. Saya sungguh sedih, saya datang dari kerajaan Hindu, kebebasan kami dalam menjalankan ibadah beragama sangat terbatas, tapi alhamdulillah, kebanyakan muslim yang berada dinegeri saya jauh lebih mencerminkan ke-Islamannya daripada dikerajaan ini.”</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Zanimra, sungguh berani kau menyampaikan kritik tajam padaku. Tidak adakah sedikit rasa takutpun padamu terhadap Raja seperti aku ini?”<br />
<span> </span>“Demi Allah saya menghormati Baginda sebagai seorang pemimpin, tapi hanya pada Allah sajalah seluruh makhluk itu harus takut, karena Allah adalah Raja dari segala raja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:.5in;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><a href="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/5.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-117" title="5" src="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/5.jpg?w=454&#038;h=72" alt="5" width="454" height="72" /></a></span><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> Qur’an Surat Al Mu’minuun:116. Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) `Arsy yang mulia</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Kembali Raja tergagap, tak terbayang olehnya ada seorang gadis biasa yang begitu berani pada seorang Raja seperti dirinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Dan bolehkah saya bertanya pada Baginda, takutkah Baginda kepada Allah?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Tentu saja aku takut!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sesungguhnya seorang pemimpin seperti Baginda akan dimintai pertanggung jawabannya oleh Allah di hari Perhitungan nanti. Apakah dalih Baginda jika Allah bertanya pada Baginda dengan apakah dan bagaimanakah Baginda memimpin rakyat? Mengapa<span> </span>rakyat yang Baginda pimpin jauh dari jalan Allah sedangkan mereka beragama Islam?”<span> </span>Mendengar pertanyaan Zanimra tubuh Raja bergetar hebat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Lihatlah disekeliling Baginda, para wanita dari rakyat baginda berjalan dengan setengah telanjang di hampir seluruh penjuru kota. Padahal</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><a href="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/6.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-118" title="6" src="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/6.jpg?w=497&#038;h=294" alt="6" width="497" height="294" /></a>kita tahu perintah dari Allah, dalam Surat An-Nuur:31</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><a href="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/7.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-119" title="7" src="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/7.jpg?w=497&#038;h=165" alt="7" width="497" height="165" /></a><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Katakanlah kepada wanita yang beriman: &#8220;Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> “</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Para laki-laki memakai jubah sutra hingga menyapu tanah. Sungguh seperti inikah ajaran Islam? Memakai perhiasan emas hampir diseluruh bagian tubuh yang nampak,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Diriwayatkan daripada al-Bara&#8217; bin Azib r.a berkata: Rasulullah s.a.w memerintahkan kami dengan tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara &#8230; Baginda melarang kami memakai cincin atau bercincin emas, minum dengan bekas minuman dari perak, hamparan sutera, pakaian buatan Qasiy yaitu dari sutera, serta mengenakan pakaian sutera, sutera tebal dan sutera halus” (Hadis sahih Bukhari-Muslim)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Tidakkah Baginda sadari, keadaan rakyat dan keluarga Baginda sangat sedikit sekali yang patuh pada perintah Allah dalam Al Qur’an maupun dalam hadist Rasulullah yang telah saya sebutkan. Astaghfirullah…Kebanyakan orang yang saya temui selama saya berada disini melanggarnya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Bibir Raja terkatup rapat. Bagai dihantam badai yang amat keras, saat itu jiwa baginda terombang-ambing amat keras. Pikirannya bergelut amat hebat, kata-kata Zanimra bagaikan sebuat hantaman dasyat yang membuatnya terbangun dari mimpi. Keterkejutannya membuat raja tak mampu menerima bahwa yang dikatakan Zanimra adalah benar,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sungguh kau gadis yang sangat berani Zanimra, tak tahukah kau berada dikerajaanku?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Saya lebih takut kepada Allah jika saya berdiam diri melihat seorang yang saya kagumi terbelenggu dalam keadaan lupa wahai Baginda.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Aku selalu meminta Abdullah pergi setiap kali dia mulai berbicara tentang hal ini, mengapa kau pikir aku mau mendengarkanmu?” Zanimra tersenyum sedih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Yang manakah teman yang baik bagi Baginda? Seorang teman yang mengingatkan Baginda atau seorang teman yang tak ambil perduli akan keselamatan Baginda dari kecelakaan yang sesungguhnya dan kekal?” Baginda terhenyak mendengar pertanyaan Zanimra tanpa bisa manjawab.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apa kau pikir aku ini sungguh celaka dan bukan Raja yang bijak.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Baginda adalah raja yang bijak, hanya saja baginda lupa… bahwa baginda adalah juga seorang hamba Allah dan Baginda pemimpin dari berjuta hamba Allah yang lainnya, renungkanlah peringatan penuh kasih dari Allah dalam Al-Qur’an;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><a href="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/8.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-120" title="8" src="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/8.jpg?w=497&#038;h=118" alt="8" width="497" height="118" /></a><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> Surat Yunus: (7) Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, (8) mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.</span></em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;font-style:normal;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><a href="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/9.jpg"><img class="size-full wp-image-121 aligncenter" title="9" src="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/9.jpg?w=497&#038;h=165" alt="9" width="497" height="165" /></a></span><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> Surat Ali Imran:185. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Baginda yang bijak, Anda lupa, bahwa akhirat adalah tujuan sesungguhnya dari manusia, dan sebagai Raja, kepemimpinan Baginda akan dimintai pertanggung jawabannya. Saya sekedar mengingatkan, berhati-hatilah menanti datangnya panggilan Allah di hari kiamat nanti;</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: Allah s.w.t menggenggam bumi pada Hari Kiamat dan melipat langit dengan tangan kananNya kemudian berfirman: Akulah Raja! Di manakah raja-raja bumi?” (Sahih Bukhari-Muslim)</span></em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> Surat An Nahl 93. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. <strong>Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.”</strong></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Raja menjadi amat gusar, sebagian hatinya mengakui kebenaran kalimat Zanimra, tapi sebagian hatinya merasa tersinggung. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Hentikan pembicaraan ini Zanimra, ijinkanlah aku berpikir. Sejujurnya perkataanmu seperti menamparku dengan sangat keras. Berilah aku ruang untuk bernafas. Pergilah sekarang, hadirlah pada jamuan malam kerajaan nanti.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Terima kasih Baginda, maafkan saya telah merepotkan, insyaallah saya akan hadir dijamuan kerajaan malam nanti. Assalammualaikum.” Zanimra akhirnya meninggalkan Raja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ah Abdullah, bukan saja gadis itu memporak-porandakan jiwa adikku, sekarang dia juga memporak-porandakan jiwaku!” gumamnya dengan galau pada diri sendiri.<span> </span><span> </span>Selama hidupnya Raja berpikir bahwa dirinya telah menjadi Raja yang baik, karena keberhasilannya dalam membawa rakyatnya dalam kemakmuran duniawi. Urusan kenegaraan dan agama baginya adalah hal yang berbeda. Dia tidak pernah berpikir sebagaimana yang dituturkan Zanimra, baginya akhirat masihlah sekedar dongeng sebelum tidur yang tidak pernah dipikirkannya secara serius. Lisannya selalu berkata dia muslim dan takut kepada Allah, tapi kenyataannya dia sangat jauh dari Islam, sangat jauh dari Al Qur’an dan alpa akan keberadaan Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Hatinya terpukau penuh kekeruhan, dia tak menyangka seorang gadis biasa dapat berkata dengan lantang tentang kesalahannya. Sungguh gadis itu tak takut pada dirinya, tapi dia takut pada Tuhan-Nya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Raja menggapai sebuah Al-Qur’an yang berdebu disudut meja kerjanya, dibukanya secara acak, matanya tertumbuk pada sebuah surat yang berbunyi,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><a href="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/10.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-122" title="10" src="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/10.jpg?w=497&#038;h=118" alt="10" width="497" height="118" /></a></span><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (Q.S Al An-‘Aam:32)</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Tiba-tiba dadanya menjadi berat, hatinya berkecamuk antara pengakuan diri dengan kesombongannya sebagai Raja, ia masih tidak rela menerima bahwa gadis biasa yang lebih muda itu benar perkataannya. Akhirnya Raja menenggelamkan diri pada badai dihatinya yang tiba-tiba berkecamuk.</span></p>
<h4 style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">VIII. Selendang Kebesaran Raja</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></h4>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Makan malampun tiba, semua tamu undangan dan petinggi negara telah hadir dan duduk dimejanya masing-masing. Mereka serentak berdiri menghormati kehadiran Raja, Permaisuri dan Putri Aelia. Setelah ketiga orang utama tersebut duduk, yang lainnyapun kembali duduk. Raja menyapu ruangan dengan seksama, dia terhenyak ketika mendapati sebuah kursi masih kosong.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Siapakah yang belum hadir disini?” Tanya Raja lantang. Para tamu dan petinggi kerajaan saling berbisik dan melihat ke kanan kiri mereka. Lalu Putri Aleia berbisik pada Raja,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Zanimra yang belum hadir.” Raja sangat gusar dibuatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Pelayan, cepat cari gadis itu dan bawa dia kemari!” Titah Raja kemudian, dia merasa terhina dengan kejadian itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Tak lama kemudian Zanimra muncul dengan langkah yang cepat. Serta merta seluruh pandangan tertuju tajam padanya. Zanimra berhenti disebelah kursinya, lalu dengan sangat tenang dia berkata,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Beribu maaf atas keterlambatan saya Baginda.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apa alasan dari keterlambatanmu ini Zanimra?”<br />
<span> </span>“Sekali lagi saya minta maaf, sewaktu saya sedang bersiap untuk hadir disini, saya mendengar adzan tanda waktu shalat tiba, maka dari itu saya shalat terlebih dahulu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Tidak tahukah bahwa dirimu telah menghinaku, dengan menghinaku kau juga menghina seluruh kerajaan ini?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sungguh bukan maksud saya berbuat demikian.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Zanimra, bukankah kau tahu bahwa shalat terakhir (Isha) sangat panjang waktunya? Mengapa tidak kau tangguhkan dulu, tidakkah kau menghormati undanganku ini?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Demi Allah, bukan maksud saya menghina Paduka, tapi…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Zanimra? Ketahuialah, terlambat dari undangan makan seorang Raja berarti telah menghina Raja dan seluruh rakyatnya!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Astaghfirullah, sekali lagi saya minta maaf dan Demi Allah saya tidak bermaksud menghina siapapun. Jika Baginda masih murka juga, maafkan jika saya bertanya, Masya Allah, apakah Baginda menganggap diri Baginda lebih tinggi dari pada Allah?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Serta merta seluruh ruangan riuh rendah mendengar pertanyaan Zanimra yang sangat berani. Tak urung Raja membelalakkan matanya, begitupun Putri Aleia dan Permaisuri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Zanimra! Apa maksud dari perkataanmu itu?!!” Tanya Raja dengan nada meninggi. Zanimra memandang tepat kearah Raja lalu berkata dengan merendahkan suaranya tanpa rasa takut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Maaf Baginda, saya mendengar dua panggilan secara bersamaan, yang satu datang dari seorang pemimpin yang saya hormati, dan yang satu lagi datang dari Tuhan yang saya takuti. Jika saya memilih untuk memenuhi panggilan dari Baginda, maka sama saja saya meletakkan keberadaan Baginda diatas Allah.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Astagfirullah!!!” Teriak Raja kemudian. Tubuhnya menggigil karena rasa terkejut yang hebat. Serta merta keadaan menjadi riuh rendah, para petinggi kerajaan sangat terkejut dengan keberanian tamu undangan Raja tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Berani sekali kau terhadap Raja!” Teriak beberapa orang petinggi kemudian dengan geram. Suasanapun menjadi riuh rendah dengan ucapan keheranan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Ditengah suasana yang kritis itu masuklah Abdullah bersamaan dengan Ali. Mereka tertegun melihat keadaan ruangan yang sedemikian rupa, terlebih lagi ketika melihat sosok Zanimra yang masih berdiri dan Raja yang juga berdiri dengan tatapan tajam kearah Zanimra. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Kau benar-benar tidak menghormati Raja! Bersyukurlah jika Raja tidak menghukummu!” Teriak seorang petinggi lagi. Abdullah dan Ali yang mendengar teriakan itu menjadi panik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Diamlah kalian!” Teriak Raja kemudian menggelegar keseluruh ruangan, serta merta seluruh ruangan menjadi sunyi. Raja menatap Zanimra dalam-dalam, tak ada rasa takut atau gusar sedikitpun terpancar dimata Zanimra. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Baiklah Zanimra.” Lanjut Raja kemudian,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sekarang apa usulmu? Apakah sebaiknya sekarang sebaiknya kami semua meninggalkan meja makan ini dan shalat terlebih dahulu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Tidak, Baginda.” Keadaan menjadi riuh rendah kembali mendengar jawaban ‘tidak’ dari Zanimra.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Bukankah kita harus mendahulukan shalat diatas apapun?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sungguh Baginda, Allah adalah Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Allah juga Maha Bijaksana. </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> <em></em></span><em>“Diriwayatkan daripada Ibnu Umar r.a Berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila makanan dihidangkan kepada kamu sedangkan sembahyang hendak didirikan, maka hendaklah kamu makan terlebih dahulu. Janganlah kamu terburu-buru hinggalah kamu selesai makan.” (Sahih Bukhari-Muslim)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Saya melaksanakan shalat terlebih dahulu karena saya jauh dari meja ini sehingga saya belum melihat hidangan ini tersaji. Sedangkan Baginda dan yang lain telah berada disini, maka sebaiknyalah Baginda makan terlebih dahulu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Mengapa demikian? Apa alasannya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“KarenaAllah ingin hambanya menghadap dengan sepenuh hati tanpa memikirkan makanan yang telah terhidang dimeja atau merasakan perut yang terus menggoda.”</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">“Siapakah diantara kalian yang tahu akan hadis dan ketentuan ini?&#8221; tanya Baginda kemudian kepada semua yang hadir. Dari 70 orang yang ada hanya sembilan belas orang yang mengangkat tangannya termasuk Ali dan Abdullah. Pada saat itu kehadiran Abdullah dan Ali baru disadari. Mata Putri Aelia langsung tertumbuk pada Ali, hatinya kecut ketika dilihatnya Ali tengah memandang Zanimra sambil tersenyum.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Raja masih tetap berdiri mematung, tiba-tiba air mata meleleh membasahi pipinya. Pemandangan itu sangat mengejutkan seluruh penghuni ruangan. Dia menyadari betapa dia telah membiarkan diri dan rakyatnya begitu jauh dari Islam, dari 70 orang petinggi yang hadir, tidak ada setengahnya yang mengetahui akan kesalahan mereka, dan meskipun mereka tahu, mereka tetap melanggarnya karena lebih takut kepada dirinya daripada kepada Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Hai Zanimra, sungguh apa yang kau katakan sore tadi dan malam ini adalah benar adanya. Demi Allah aku bertobat!” Katanya kemudian dengan gemetar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Makanlah kalian semua, setelah itu adakan shalat Isha berjama’ah.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Akhirnya makan malam berlangsung dengan sangat sunyi karena Raja nampak tenggelam dalam pikirannya sendiri. Wajahnya terus tertunduk lesu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Setelah shalat Raja mengumpulkan semua orang di Balai Kerajaan lalu memperkenalkan Zanimra sebagai tamu undangannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Wahai orang-orang kepercayaanku, sesungguhnya Zanimra ini adalah cahaya matahari yang singgah dikerajaan ini untuk membagikan cahayanya. Hormatilah dia sebagai tamu istimewa dan kasihilah dia sebagai salah satu anggota keluarga besar kerajaan ini.” Lalu baginda menyampirkan selendang kebesarannya pada Zanimra sebagai tanda penghormatan dan pengakuan Raja. Selendang kebesaran Raja adalah pengakuan kerajaan bagi Zanimra sebagai salah seorang anggota keluarga kerajaan. Melihat hal itu Abdullah dan Ali saling memandang, keduanya mengucap syukur dan pujian kepada Allah tak henti-henti. Dengan demikian Raja telah mengakui keberadaan Zanimra dan merestui hubungannya dengan Ali. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dilain pihak Putri Aelia menggigil hebat menahan gejolak yang berkecamuk di dalam jiwanya. Raja menyadari hal itu, lalu dengan perlahan dia mengisyaratkan Permaisurinya untuk membawa Putri Aleia keruangan lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Zanimra, selamat bergabung sebagai salah satu anggota keluarga kerajaan, kedudukanmu di kerajaan ini adalah setaraf dengan bangsawan tertinggi.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Alhamdulillah, subhanallah…segala puji bagi Allah. Terima kasih yang tak terhingga kuucapkan kepadamu Baginda.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ali, Abdullah dan Zanimra. Ikutlah denganku.” Lalu Raja meninggalkan singgasananya menuju ruangan tempat Putri Aelia dan Permaisurinya berada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Disana Putri Aelia tengah menyembunyikan wajahnya dipelukan Permaisuri. Menyadari kedatangan Raja dia melepaskan diri dari pelukan Permaisuri dan berdiri dengan tegar, tampak sekali dari wajahnya, Putri Aelia berusaha sekuat tenaga membendung air matanya. Harga diri sebagai seorang Putri masih dia pertahankan hingga saat-saat terakhir. Tapi Raja sangat mengenal adiknya. Ia mendekati adiknya lalu membelai kepalanya dengan lembut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Adikku Aelia. Maafkan Aku.” Bisik Raja kemudian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Percayakah kau bahwa Aku akan menyakitimu?” tanyanya lagi pada adiknya yang dijawab gelengan lemah oleh Putri Aelia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apakah menurutmu keputusanku ini keji dan tidak adil bagimu?” Lagi-lagi Putri Aelia menggeleng.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Relakah kau menerima keputusanku?” Kali ini Putri mengangguk</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Aku tahu dari tatapan matamu bahwa sejak kedatanganmu bersama dengan Zanimra, kau telah mengakui kekalahanmu. Hanya saja kau tak mau menerimanya. Saat ini akupun tak berdaya untuk menolak kenyataan bahwa Zanimra dengan telak telah melumpuhkan aku didepan rakyatku sendiri. Aku harus mengakui bahwa Ali memiliki alasan yang kuat dan Zanimra telah membuktikan dirinya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sudahlah Kak, aku mengerti.” Kata Putri dengan lemah, lalu dia memandang nanar kearah Ali dan Zanimra.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Kuucapkan selamat bagi kalian berdua. Maafkan aku yang selama ini menyusahkan kalian.” Kata putri dengan nada datar dan pandangan yang dingin. Dengan langkah pasti dia berbalik. Ali menundukkan kepalanya, Zanimra lalu membisikan sesuatu pada Ali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ada sesuatu yang ingin kau katakan Zanimra?” Tanya Baginda ketika melihatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Maaf, Baginda. Jangan berburuk sangka dahulu. Jika diijinkan, saya ingin menyusul Putri Aelia untuk berbicara padanya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apakah kau pikir itu bijak? Sedangkan karenamulah dia hancur. “Apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan membuat adikku itu lebih hancur?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Tidak Baginda.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Lalu? Kau akan merelakan Ali padanya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Tidak juga.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Mengapa? Karena kau takut kau yang akan hancur?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Bukan karena itu Baginda.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Jelaskan padaku.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Karena bukan saya ataupun Ali yang membuat Putri hancur, tapi rasa cintanya itulah yang membuat dia demikian. Meskipun Putri mendapatkan Ali, rasa cintanya tetap akan membakarnya dalam derita.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apa dalihmu tentang itu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Pernahkan Baginda mendengar pepatah atau syair-syair masyur tentang cinta?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Katakan padaku.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Cinta, tawanya sehari tangisnya seribu tahun.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Banyak manusia setuju bahwa cinta itu memang begitu adanya, Cinta butuh pengorbanan dan penuh penderitaan. Dan masih banyak pepatah lain yang melukiskan kepedihan cinta.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ya, aku mengerti. Lalu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sesungguhnya anggapan kebanyakan manusia itulah yang telah menyesatkan arti dari cinta hakiki yang sesungguhnya. Cinta menjadi bumerang karena manusia sangat salah menilai tentang cinta. Cinta bagi kebanyakan manusia bukan lagi sekedar perasaan hati, tapi sudah menjadi tuhan yang menguasai tubuh dan jiwa, hidup dan mati mereka. Kecelakaan apakah yang lebih besar daripada menuhankan yang lain selain Allah?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Raja untuk kesekian kalinya dibuat diam oleh Zanimra.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Ijinkanlah Zanimra berbicara dengan Putri Aelia, Baginda.” Pinta Ali dan Abdullah hampir berbarengan. Akhirnya Rajapun menganggukan kepalanya dan Zanimrapun melangkah pergi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Zanimra…” Panggilan raja yang tiba-tiba menghentikan langkah Zanimra.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">”Terima Kasih.” Lanjut Raja. Zanimra menganggukan kepala lalu bergegas pergi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sebaiknya kita kembali ke Balai Kerajaan, tamu yang lain masih menunggu.” Ujar Raja sambil melangkah. Ali dan Abdullah mengikuti dibelakangnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">IX. Cinta Yang Hakiki</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dari salah seorang dayang Zanimra mengetahui bahwa Putri pergi ke danau dibelakang istana. Sesampai disana Zanimra menemukan Putri Aelia sedang duduk dengan menenggelamkan wajahnya dalam-dalam disela lututnya. Cahaya lentera membias redup disepanjang tepian danau, kunang-kunang terbang berkeliling dengan indahnya. Tapi keindahan itu tak dapat mengalahkan kecantikan putri yang tengah kalut hatinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Assalammualaikum.” Salam Zanimra dengan hati-hati. Putri Aelia tersentak dan melihat kearah Zanimra dengan sangat tajam. Tampak pipinya yang putih mulus basah degan air mata.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apa tujuanmu kemari? Ingin melihatku menangis? Atau ingin mengejek kekalahanku?” Tanyanya ketus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apakah seburuk itu tabiat saya dimata Putri?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Tidak perlu bersopan santun saat ini, aku sungguh muak.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Baiklah, maafkan aku.” Putri tidak menjawab, dia hanya membuang muka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Putri, aku tahu kau marah dan benci padaku. Maka dari itu aku datang kemari untuk kau caci dan kau maki agar lega hatimu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apa kau juga ingin aku membunuhmu?” sahut Putri Aelia semakin ketus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apa kau ingin melakukannya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Tidak, Aku lebih ingin membunuh diriku sendiri.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Astaghfirullah…” bisik Zanimra pelan mendengar keputus asa-an Putri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Putri, pukulah aku jika itu bisa meringankan bebanmu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Zanimra! Mengapa kau seperti ini? Dari pertama kali aku bertemu denganmu sebenarnya aku telah menyadari aku telah kalah, semakin hari aku bersamamupun aku semakin tahu dirimu dan apa yang kuketahui malah membuatku kagum padamu! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Ya! Aku membencimu karena kau sungguh beruntung! Aku membencimu karena kau lebih dari aku!” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Putri…aku mengerti akan perasaanmu…” Tiba-tiba Putri Aelia memotong perkataan Zanimra dengan nada yang amat tinggi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Jangan kau mengatakan padaku bahwa kau mengerti akan perasaanku! Tahu apa dirimu tentang hancurnya hatiku?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sesungguhnya aku tidak selalu seperti sekarang ini. Hanya karena Kasih Allah-lah aku bisa kembali untuk menyembah Allah. Lembaran kehidupanku memiliki coretan-coretan hitamnya sendiri. Kehilangan demi kehilangan aku rasakan beberapa kali. Kehancuran dan kegelapan kuhadapi dengan amarah dan kebencian. Jadi, aku memang tahu akan apa yang kau rasakan karena aku pernah sepertimu sekarang ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Aku memang tak seberuntung dirimu! Bahagiakah kau sekarang karena membuatku begitu iri padamu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sesungguhnya Putri tidak perlu iri, tidakkah putri menyadari bahwa yang ada padaku sebenarnya dapat diraih oleh semua orang, sedangkan kelebihan yang ada pada dirimu hanya dirimulah yang dapat meraihnya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apa maksudmu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apa yang kumiliki dapat juga kau miliki, tapi kelebihan yang kau miliki tak akan pernah dapat aku raih selama hidupku didunia ini. Sesungguhnya kau tak perlu mengeluh karena Allah Maha Adil.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Benarkah Allah Maha Adil? Dimanakah keadilan yang kau lihat itu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Putri, kau bisa menjadi aku yang sekarang ini. Merubah jalan pikiran, merubah tingkah laku dapat dilakukan semua orang jika mereka benar-benar berusaha. Tapi, apakah orang bisa merubah dirinya menjadi secantik dirimu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Jika kecantikan yang kumiliki ini dapat kugadaikan demi mendapatkan Ali, maka aku akan senang melepaskannya!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Jikapun kau menggadaikan kecantikanmu dan mendapatkan Ali, kau tetap tak akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Bagaimana tidak? Jika hidupku adalah Ali?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Karena Ali yang akan kau dapatkan bukanlah Ali yang sekarang ini kau kenal.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Dengan kata lain kau berkata bahwa Ali tak akan pernah mencintaiku walaupun telah kugadai kecantikanku?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Putri, walaupun wajah dan tubuhku dapat menghibur hati Ali, tapi bukanlan wajah atau tubuhku yang membuat Ali mencintaiku.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sungguh lidahmu licin seperti Ali, tutur katamupun tak ubahnya seperti tutur katanya. Berbaik hatilah padaku Zanimra, katakan kepadaku apa yang membuat Ali mencintaimu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Yang membuat Ali mencintaiku adalah karena caraku mencintainya.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Bagaimana caramu mencintainya hai Zanimra?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Aku mencintainya karena Ali mencintai Allah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Allah….Allah…selalu itu yang terucap dibibirmu dan Ali, sebegitu besarkah cinta kalian pada-Nya, bagaimana jika Allah memisahkan kalian berdua, apakah kau masih mencintai Allah?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ya,”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Mengapa?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Karena kami percaya apapun keputusan Allah adalah yang terbaik bagi hambanya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Mengapa kau sepasrah itu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Karena<span> </span>Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Adil dan Bijaksana.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Zanimra, jika kau mencintai Ali, tidakkah kau akan merasa sakit jika Allah mengambil Ali darimu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Tentu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Lalu kau masih berpikir Allah mencintaimu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Mengapa? Bukankah Allah telah membuat hatimu sakit?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Karena aku masih memiliki cinta kepada Allah. Dengan mengingat Allah maka jiwaku merasa tenang.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sungguh kau dusta! Kau tak mengerti cinta! Kau tak mencintai Ali sebesar aku mencintainya! Dan mengapa Ali masih memilihmu?!” Teriak Putri Aelia dengan geram.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Zanimra tertegun sedih karena merasa kasihan pada Putri Aelia yang sedemikian marahnya sehingga buta akan kebenaran. Dengan lembut Zanimra menjawab.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Tidakkah kau bisa mengambil kesimpulan wahai Putri yang cerdas, cinta yang terjalin diantara kami dikarenakan kecintaan kami kepada Allah. Cinta kami kepada Allah diatas cinta kami kepada apapun atau siapapun, bahkan diatas cinta kami berdua.” Zanimra menarik nafas lalu melanjutkan,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Cinta dunia bukanlah yang kami kejar, kami merasa cukup dan tenang dengan keduniaan yang kami dapatkan, karena Allah telah menetapkan takarannya sedari mula kita diciptakan. Akan tetapi kami tak akan pernah merasa cukup dengan rasa rindu dan cinta kami kepada Allah dan hari kemudian. Kami berdua memiliki tujuan yang sama dalam hidup, untuk bersama berjuang dijalan Allah dan menjadi hambaNya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apapun yang aku lakukan didunia ini hanya karena Allah, aku mencintai Alipun juga karena Allah. Jika Allah mengambil Ali, maka aku percaya itu yang terbaik bagi diriku. Aku mencintai Allah bukan karena Ali, tapi aku mencintai Ali karena Allah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sungguh jika benar demikian, cintamu pada Ali palsu! Dan ketetapan Allah itu kejam dan keji!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Astaghfirullah………” Mata Zanimra berkaca mendengar kalimat Putri. Kesedihannya bertambah melihat syaitan semakin menguasai hati rapuh Putri Aelia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sungguh Putri, Allah itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Jika memang demikian. Mengapa Allah memberikan aku begitu banyak derita padahal aku selalu berbuat baik pada sesama.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Karena cinta yang kau kenal adalah salah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apa maksudmu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Putriku yang bijak, kekalkah diri kita ini?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Tidak.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Kekallah kecantikanmu hingga akhir jaman?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Tidak.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Kekalkah Ali?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Tidak.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Tidakkah kau mengerti juga? Apapun yang kita dapati didunia ini tidaklah kekal dan memiliki akhir. Hanya Allah yang Maha Pengasihlah yang Kekal, maka dari itu Allah Maha Mengetahui dan Mengerti akan ciptaan-Nya. Masihkah kau tak mengerti?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Zanimra, jangan cemooh kecerdasanku. Aku telah merasakan bagaimana sakitnya kehilangan orang yang amat aku cintai berulang kali, ayahku, bundaku, dan kini Ali. Mengapa Allah mempertemukan aku dengan Ali jika aku tak bisa memilikinya. Tidak perdulika Allah jika hal itu akan menghancurkan jiwaku? Bagaimana aku bisa percaya Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Mengerti akan ciptaan-Nya jika kepedihan hatiku ini tak tertahankan dan terjadi berulang-ulang?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sesungguhnya Engkau telah menjawab pertanyaanmu sendiri duhai Putri yang Cantik.” Putri Aelia terhenyak lalu menatap Zanimra dengan tajam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apa maksudmu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Putri, Kau merasakan pilu dan sakit yang sangat dalam karena kehilangan mereka yang kau cintai, sekarang aku bertanya padamu.” Zanimra merapatkan dirinya lalu memegang lembut wajah Putri Aelia dan berkata lirih penuh kesungguhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apakah Engkau akan merasakan sakit jika yang kau cintai itu KEKAL?”</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Tidak.”<strong><em></em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Adakah makhluk atau benda dibumi ini yang kekal?”<strong><em></em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Tidak&#8230;” Putri Aelia terperangah dengan jawabannya sendiri, kemarahan diwajahnya tiba-tiba pecah dan luruh. Mata yang semula penuh kebencian dan kekecewaan kini berkaca-kaca. Pertanyaan Zanimra seperti tamparan yang membuatnya tersadar dari mimpi buruk yang<span> </span>panjang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Dan siapakah yang <strong>kekal</strong> dan tak akan meninggalkanmu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Bibir Putri bergetar tak mampu menjawab pertanyaan Zanimra, dengan lembut Zanimra berbisik, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Laa illaa haillallaah.” Lalu ia melanjutkan,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apakah kejam dan keji jika Allah memintamu untuk mencintai Dirinya Yang Maha KEKAL?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“T…i…dak…” Jawab Putri Aelia semakin melambat, airmatanya yang menggenang dipipinya bergulir membasahi pipinya yang putih dengan derasnya. Zanimra semakin melembutkan suaranya melanjutkan pertanyaannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Mengapa wahai Putri yang bijak?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Tangis Putri pecah hingga tubuhnya bergetar hebat, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Duhai Zanimra, karena Allah ingin Menjagaku dari rasa sakit yang amat sangat seperti yang telah dan tengah kurasakan ini.” Jawab Putri Aelia dengan terbata disela isak tangisnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Alhamdulillah….subhanallah…tiada daya dan upaya tanpa pertolongan Allah.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> Q.S. Al Baqarah : 165. Dan diantara manusia itu ada yang mempertuhankan sesuatu yang lain daripada Allah sebagai tuhan-tandingan; dicintainya seperti mencintai Allah. Orang yang beriman hanya mencintai Allah semata…”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Zanimra bertasbih penuh rasa syukur akan kebesaran Allah tuhan semesta alam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><span> </span>“Duhai Zanimra, aku telah hidup dalam kesesatan yang nyata dengan mata buta dan telinga yang tuli.” Tangisnya semakin menjadi, Putri Aelia menjatuhkan dirinya pada pelukan Zanimra.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sungguh Cinta Hakiki hanyalah pada Allah semata. Kasihilah manusia karena Allah, maka hidupmu akan tenang.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Setelah tangisnya sedikit reda, Putri Aelia berkata lirih,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sungguh sekarang aku mengerti mengapa Ali mencintaimu, karena Ali percaya kau akan menjaga cintanya kepada Allah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Dan begitupun sebaliknya Putri, aku mencintai Ali karena dia akan menjadi pemimpin yang baik bagiku untuk menuju cinta Allah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Zanimra…berjanjilah padaku satu hal.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Jika aku bisa. Insyaallah”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ajari aku bagaimana mencintai Allah dan panggilah aku adik karena begitu ingin aku mengikat tali persaudaraan denganmu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Insyaallah, aku sendiripun sedang belajar unutk mencintai Allah, duhai Putri,”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Katakan padaku, apa yang pertama kali harus kulakukan untuk menunjukan rasa cintaku kepada Allah.” Zanimra tersenyum penuh haru, ditariknya selendang yang tersampir dibahu putri. Dengan halus Zanimra menutup rambut dan pundak putri hingga nampak wajahnya yang putri saja dari balik selandang itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Kepatuhan akan Perintah-Nya adalah tanda cinta kita pada Allah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sungguh ajaib cinta kepada Allah wahai Zanimra, seluruh badai dalam jiwaku luruh berganti dengan ketenangan dan kebahagiaan yang nyata dalam sekejap. Sekarang aku mengerti mengapa kau selalu terlihat tenang.” Putri Aelia menggengam erat tangan Zanimra lalu menariknya setengah berlari menuju balai kerajaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Setibanya disana, berpuluh mata tertuju pada dua sosok wanita itu. Seluruh penghuni ruangan amat terkejut melihat penampilan baru Putri Aelia dengan kerudungnya. Kulit tubuhnya yang putih bersinar kini penuh tertutup, rambutnya yang panjang dan hitam legampun tersembunyi dibalik kerudung putihnya. Sedangkan disudut lain, Abdullah dan Ali tersenyum penuh haru. Sedangkan Raja tertegun keheranan seperti yang lain, melihat perubahan Putri Aelia yang begitu cepat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dengan tenang dan anggunnya Putri Aelia melangkah mendekati singgasana Raja. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Wahai Aelia adikku, sungguh sekarang kau mengejutkan aku. Apa yang terjadi padamu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Duhai kakakku Raja dari negri ini, aku mendapat cahaya matahari ditengah malamku yang gelap dan penuh badai.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Dan bagaimanakah keadaanmu saat ini?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Terang dan damai dengan sirnanya kegelapan dari jiwaku.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sungguh, cahaya matahari yang bagaimanakah yang kau telah dapatkan?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Cahaya Cinta yang Hakiki.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Cinta Hakiki?” Tanya Raja penasaran,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Cinta yang sama yang dimiliki Zanimra.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Maksudmu Ali?” Raja tampak agak terkejut,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Bukan.” Jawab Putri Aelia mantap,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Bukankah cinta yang dimiliki Zanimra adalah Ali?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Benar duhai Kakakku Raja dari negri ini, tapi yang kudapati adalah cinta diatas cinta Zanimra pada Ali.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Dan siapakah itu?” Raja tertegun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Cinta kepada Allah.” Jawab putri dengan rasa haru, Raja tersenyum bahagia dan bertasbih penuh syukur. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Terima kasih kuucapkan padamu Zanimra, sungguh akupun merasa malu padamu dan Ali. Kecintaan kalian pada Allah menyadarkan aku betapa selama ini aku memimpin negriku dengan kecintaan pada dunia semata. Jikalah Allah bukan Tuhan Yang Maha Pengasih, tak akan didatangkan Ali dan dirimu untuk membuka mataku.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Kerajaan ini adalah kerajaan Islam, tapi penduduknya kebanyakan melupakan Tuhannya. Sungguh celaka diriku dihari akhir nanti jika aku masih memimpin kerajaanku seperti sekarang ini. Allah akan menghukumku dengan sangat pedih karena kesombonganku dan kelalaianku sebagai seorang pemimpin.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Raja kemudian memanggil Ali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ali abdul Jabbar bin Abdullah, menghadaplah kepadaku.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Alipun keluar dari sela-sela kerumunan petinggi kerajaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apakah Kau dengar dengan jelas apa yang kukatakan barusan Ali?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ya! Baginda, dan saya berterima kasih atas pujian Baginda, Alhamdulillah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Apakah kau setuju dengan yang kukatakan?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Ya, saya setuju Baginda.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Kalau begitu, bersediakah kau membantuku menata kembali kerajaan ini di jalan Allah?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Insyaallah, sebagai seorang muslim saya berkewajiban kepada tanah air, saya bersedia.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Baiklah, sebagai pemimpin kerajaan ini kuperintahkan dirimu tinggal di istana sebagai Penasihat Utamaku.” Lalu raja mengalihkan pandangannya pada Zanimra,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Zanimra.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Saya Baginda.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sungguh kau adalah satu-satunya wanita yang berani menentangku di atas meja makanku sendiri. Kukagumi keberanianmu dan kukagumi kecerdasanmu. Entah apa yang kau lakukan sehingga dalam sekejap adikku tak mau melepaskan tangannya darimu. Begitu cepat kau rubah kebencian dengan kecintaan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Segala Puji hanya bagi Allah. Sungguh Allah-lah yang Maha Kuasa dalam menentukan perubahan, saya hanyalah seorang hamba yang hina dari-Nya. Atas Kasih dan Kuasa Allah sajalah Putri menemukan kebahagiaan pada cintanya yang hakiki.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Sungguh kau telah mengajarkan aku apa itu kesombongan Zanimra! Dan aku sungguh hamba yang celaka karena kesombonganku kepada Allah. Kupikir selama ini aku Raja yang bijak, tapi ternyata pujian rakyat dan kerajaan tetanggaku membuat aku lupa bahwa aku ini hanyalah seorang hamba yang hina dari Tuhan-Nya.” Mata Raja berkaca-kaca, dengan lembutnya terdengar suara Ali melantunkan ayat-ayat dari Al-Qur’an, Al Hadid : 20-23;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><a href="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/112.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-125" title="112" src="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/112.jpg?w=497&#038;h=211" alt="112" width="497" height="211" /></a><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">20. “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:.5in;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><a href="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/121.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-124" title="121" src="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/121.jpg?w=497&#038;h=165" alt="121" width="497" height="165" /></a></span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> 21. Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:.5in;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><a href="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/13.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-126" title="13" src="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/13.jpg?w=497&#038;h=118" alt="13" width="497" height="118" /></a></span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> 22. Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:.5in;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span></em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><a href="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/141.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-128" title="141" src="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/141.jpg?w=497&#038;h=118" alt="141" width="497" height="118" /></a></span></em><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><em> 23. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu (sukses yang telah kamu capai). Dan</em> </span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-align:justify;text-indent:0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,”</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">“Astagfirullah……” tiba-tiba Raja tersungkur dan bersujud dilantai sambil menangis. Serentak seluruh penghuni ruangan hingar bingar penuh keterkejutan. Ali, Abdullah dan Zanimra ikut bersujud diikuti oleh Putri Aelia yang kembali menangis. Satu demi satu bangsawan yang hadir menundukan dirinya. Rasa hormat dan rakyat pada Raja sangatlah besar karena kebaikan budinya dan kebijaksanaannya selama ini, mereka merasa takjub melihat junjungannya tersungkur mencium tanah dengan tubuh gemetar ketakutan. Perasaan Raja terbias menembus nurani pengikutnya, satu demi satu merekapun turut menjatuhkan diri kelantai dan bersujud.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Pada hari itu, nama Allah diagungkan dan pada hari itulah kerajaan Andimarsedonia diberkahi. Raja merayakan pernikahan Ali sebagai hadiah bagi Ali dan Zanimra. Zanimra diangkat sebagai Penasihat umum kaum wanita kerajaan. Semenjak hari itu kerajaan Andimarsedonia menjalankan roda pemerintahan dibawah panji bendera Islam secara menyeluruh. Pembimbingan akhlak diutamakan bagi seluruh lapisan masyarakat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sungguh Cinta yang Hakiki dan kekal kebahagiaannya hanyalah cinta kepada Allah semata. Allahuakbar.……</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><br />
</span></p>
<p><strong><span style="font-family:&quot;">Cinta Hakiki<br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">By. Raihan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><br />
</span></p>
<pre style="text-align:justify;">Telah lama cinta terbiar</pre>
<pre style="text-align:justify;">Dari cinta yang suci</pre>
<pre style="text-align:justify;">Telah lama cinta tersasar</pre>
<pre style="text-align:justify;">Dari cinta hakiki</pre>
<pre style="text-align:justify;">Kerna sekian lamanya</pre>
<pre style="text-align:justify;">Manusia dibuai cinta nafsu</pre>
<pre style="text-align:justify;">Kita sering menyangka</pre>
<pre style="text-align:justify;">Cinta manusia itu yang sejati</pre>
<pre style="text-align:justify;">Telah lama cinta terbiar</pre>
<pre style="text-align:justify;">Dari cinta yang suci</pre>
<pre style="text-align:justify;">Telah lama cinta tersasar</pre>
<pre style="text-align:justify;">Dari cinta hakiki</pre>
<pre style="text-align:justify;">Namun lupakah kita</pre>
<pre style="text-align:justify;">Cinta nafsu selalu mengecewakan</pre>
<pre style="text-align:justify;">Sering berubah tidak menentu</pre>
<pre style="text-align:justify;">Seperti pantai dipukul ombak</pre>
<pre style="text-align:justify;">Telah lama cinta terbiar</pre>
<pre style="text-align:justify;">Dari cinta yang suci</pre>
<pre style="text-align:justify;">Telah lama cinta tersasar</pre>
<pre style="text-align:justify;">Dari cinta hakiki</pre>
<pre style="text-align:justify;">Cinta kan Allah cinta sebenarnya</pre>
<pre style="text-align:justify;">Itulah cinta yang sejati</pre>
<pre style="text-align:justify;">Khasihlah sesama manusia</pre>
<pre style="text-align:justify;">Kerna cinta yang hakiki</pre>
<pre style="text-align:justify;">Hanya untuk Tuhan yang Esa</pre>
<pre style="text-align:justify;">Telah lama cinta terbiar</pre>
<pre style="text-align:justify;">Dari cinta yang suci</pre>
<pre style="text-align:justify;">Telah lama cinta tersasar</pre>
<pre style="text-align:justify;">Dari cinta hakiki</pre>
<pre style="text-align:justify;">Telah lama cinta terbiar</pre>
<pre style="text-align:justify;">Dari cinta yang suci</pre>
<pre style="text-align:justify;">Cintakan Allah tiada kecewa</pre>
<pre style="text-align:justify;">Engkau kan tenang diwaktu susah</pre>
<pre style="text-align:justify;">Telah hilang kepada Tuhan</pre>
<pre style="text-align:justify;">Diakan tetap menanti</pre>
<pre style="text-align:justify;">Kehadiran tak banyak yang sebenar pasrah</pre>
<pre style="text-align:justify;">Cinta kasih sayangnya tidak bertepi</pre>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:.5in;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Alhamdulillah…. Tiada daya dan upaya tanpa pertolongan Allah,</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:.5in;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang lemah dan bodoh.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:.5in;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:.5in;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">-End-</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:.5in;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"><br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;text-indent:.5in;" align="center"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">* Terima kasih cerpennya sobat (Syarif Hidayatullah)</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yochaa.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yochaa.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yochaa.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yochaa.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yochaa.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yochaa.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yochaa.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yochaa.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yochaa.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yochaa.wordpress.com/83/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yochaa.wordpress.com&blog=1388824&post=83&subd=yochaa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yochaa.wordpress.com/2008/11/21/cinta-aelia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a22c5cdb323919b894a65fbf16597b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yoru</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/12.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">12</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/5.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/6.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">6</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/7.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">7</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/8.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">8</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/9.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">9</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/10.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">10</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/112.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">112</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/121.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">121</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/13.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">13</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/141.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">141</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Alhamdulilah&#8230; Thank U Allah</title>
		<link>http://yochaa.wordpress.com/2008/11/19/alhamdulilah-thank-u-allah/</link>
		<comments>http://yochaa.wordpress.com/2008/11/19/alhamdulilah-thank-u-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 10:48:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yoru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat Jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yochaa.wordpress.com/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yochaa.wordpress.com&blog=1388824&post=102&subd=yochaa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/23127-muslimah1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-103" title="23127-muslimah1" src="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/23127-muslimah1.jpg?w=497&#038;h=368" alt="23127-muslimah1" width="497" height="368" /></a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yochaa.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yochaa.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yochaa.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yochaa.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yochaa.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yochaa.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yochaa.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yochaa.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yochaa.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yochaa.wordpress.com/102/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yochaa.wordpress.com&blog=1388824&post=102&subd=yochaa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yochaa.wordpress.com/2008/11/19/alhamdulilah-thank-u-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a22c5cdb323919b894a65fbf16597b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yoru</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/23127-muslimah1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">23127-muslimah1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sesungguhnya Mengingat Mati Itu Adalah Bijak</title>
		<link>http://yochaa.wordpress.com/2008/11/18/sesungguhnya-mengingat-mati-itu-adalah-bijak/</link>
		<comments>http://yochaa.wordpress.com/2008/11/18/sesungguhnya-mengingat-mati-itu-adalah-bijak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Nov 2008 09:12:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yoru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nasehat Jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yochaa.wordpress.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[

&#8220;Tanda 100 hari menjelang meninggal&#8221;
Ini adalah tanda pertama dari Tuhan kepada hamba-Nya dan hanya akan disadari oleh mereka yang dikehendaki-Nya&#8230;&#8230;Walau bagaimanapun semua orang akan mendapat tanda ini, hanya saja ada yang menyadari ada pula yang tidak&#8230;..
Tanda ini akan terjadi lazimnya selepas waktu Ashar, dimana seluruh tubuh yaitu dari ujung rambut hingga ke ujung kaki akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yochaa.wordpress.com&blog=1388824&post=37&subd=yochaa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/blue_angel.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-41" title="blue_angel" src="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/blue_angel.jpg?w=305&#038;h=305" alt="blue_angel" width="305" height="305" /></a></p>
<p class="MsoNormal"><strong></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">&#8220;Tanda 100 hari menjelang meninggal&#8221;</span></span></strong></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Ini adalah tanda pertama dari Tuhan kepada hamba-Nya dan hanya akan disadari oleh mereka yang dikehendaki-Nya&#8230;&#8230;Walau bagaimanapun semua orang akan mendapat tanda ini, hanya saja ada yang menyadari ada pula yang tidak&#8230;..<br />
Tanda ini akan terjadi lazimnya selepas waktu <strong><span style="text-decoration:underline;">Ashar</span></strong>, dimana seluruh tubuh yaitu dari ujung rambut hingga ke ujung kaki akan mengalami getaran atau seakan-akan menggigil, contohnya seperti daging sapi yang baru saja disembelih dimana jika diperhatikan dengan teliti, kita akan mendapati daging tersebut seakan-akan bergetar&#8230;&#8230; Tanda ini memberi rasa nikmat dan bagi mereka yang sadar dan jika hati kita tergelitik bahwa mungkin ini adalah tanda ajal menjelang, maka getaran ini akan berhenti dan hilang setelah kita sadar akan kehadiran tanda ini. Bagi mereka yang tidak diberi kesadaran atau mereka yang hanyut dengan kenikmatan tanpa memikirkan soal kematian, tanda ini akan lenyap begitu saja tanpa ada manfaatnya &#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="IN"><br />
<strong><span style="text-decoration:underline;">Bagi yang sadar</span></strong> dengan kehadiran tanda ini, maka ini adalah peluang terbaik untuk memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mempersiapkan diri dengan amal ibadah dan urusan yang akan dibawa atau ditinggalkan sesudah mati.</span></span></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">&#8220;Tanda 40 hari&#8221;</span></span></strong></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Tanda ini juga akan terjadi sesudah waktu <strong><span style="text-decoration:underline;">Ashar,</span></strong> dimana bahagian pusar kita akan berdenyut-denyut. Pada saat itu daun yang bertuliskan nama kita akan gugur dari pohon yang letaknya di atas Singgasana Tuhan. Maka Malaikat Maut akan mengambil daun tersebut dan mulai melakukan persiapan atas diri kita, diantaranya adalah mengikuti kita sepanjang waktu &#8230; Dapat saja terjadi Malaikat Maut ini memperlihatkan wujudnya yang asli secara sekilas. Jika hal ini terjadi, mereka yang terpilih ini akan merasakan seakan-akan bingung seketika&#8230; Malaikat maut ini hanya 1, tetapi kewenangan untuk<br />
mencabut nyawa adalah sama dengan jumlah nyawa yang akan dicabutnya&#8230;&#8230;&#8230;</span></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">&#8220;Tanda 7 hari&#8221;</span></span></strong></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Adapun tanda ini akan diberikan hanya kepada mereka yang diuji dengan musibah sakit, dimana orang sakit yang tidak nafsu makan, secara tiba- tiba berselera untuk makan&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;"><strong><span style="text-decoration:underline;">&#8220;Tanda 3 hari&#8221;</span></strong></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Pada saat ini akan terasa denyutan di bahagian tengah dahi kita yaitu diantara dahi kanan dan kiri. Jika tanda ini dapat dirasakan maka berpuasalah kita selepas terjadinya hal itu supaya perut kita tidak mengandung banyak najis dan ini akan memudahkan urusan orang yang akan memandikan jenazah kita nanti&#8230;. Saat itu juga bagian hitam mata kita tidak akan bersinar lagi, dan bagi orang yang sakit, hidungnya<br />
akan perlahan-lahan jatuh dan ini dapat diperiksa jika kita melihatnya dari bahagian sisi&#8230; Telinganya akan layu dimana bagian ujungnya akan beransur-ansur masuk ke dalam&#8230; Telapak kakinya yang terlunjur akan perlahan-lahan jatuh ke depan dan sukar ditegakan&#8230;</span></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">&#8220;Tanda 1 hari&#8221;</span></span></strong></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Akan terjadi <strong><span style="text-decoration:underline;">sesudah Ashar</span></strong> dimana kita akan merasakan satu denyutan di bagian belakang kepala, yaitu di sekitar ubun-ubun dimana hal ini menandakan kita tidak akan sempat untuk menemui<strong><span style="text-decoration:underline;"> waktu Ashar keesokan harinya</span></strong>&#8230;.</span></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">&#8220;Tanda akhir&#8221;</span></span></strong></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Akan terjadi keadaan dimana kita akan merasakan sejuk di bahagian pusar dan rasa itu akan turun kepinggang dan seterusnya akan naik<br />
ke bahagian tenggorokan&#8230; Pada saat ini hendaklah kita terus berdo&#8217;a dan berdiam diri dan menantikan kedatangan Malaikat Maut untuk menjemput kita kembali kepada Tuhan yang telah<br />
menghidupkan kita dan sekarang akan mematikan kita pula&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yochaa.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yochaa.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yochaa.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yochaa.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yochaa.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yochaa.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yochaa.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yochaa.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yochaa.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yochaa.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yochaa.wordpress.com&blog=1388824&post=37&subd=yochaa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yochaa.wordpress.com/2008/11/18/sesungguhnya-mengingat-mati-itu-adalah-bijak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a22c5cdb323919b894a65fbf16597b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yoru</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/blue_angel.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">blue_angel</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah Itu Cinta ?</title>
		<link>http://yochaa.wordpress.com/2008/11/12/apakah-itu-cinta/</link>
		<comments>http://yochaa.wordpress.com/2008/11/12/apakah-itu-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Nov 2008 08:39:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yoru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lautan Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yochaa.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[


 



Bila telapak tanganmu berkeringat,
Hatimu dag dig dug,
Suaramu bagai tersangkut di tenggorokan,
Itu bukan cinta, tetapi SUKA? 

Bila tanganmu tidak dapat berhenti memegang dan menyentuhnya,
Itu bukan cinta tetapi BERAHI?
Bila kamu menginginkannya karena tahu
Ia akan selalu berada di sampingmu,
Itu bukan cinta tetapi KESEPIAN?
Bila kamu menerima pernyataan cintanya
Karena kamu tak mau menyakiti hatinya,
Itu bukan cinta tetapi KASIHAN?
Bila kamu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yochaa.wordpress.com&blog=1388824&post=30&subd=yochaa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/love-purple.png"><img class="alignleft size-full wp-image-100" title="love-purple" src="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/love-purple.png?w=117&#038;h=108" alt="love-purple" width="117" height="108" /></a></p>
<p><a href="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/love-purple13.jpg"><br />
</a></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Comic Sans MS;color:#655a7f;font-size:small;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:#655a7f;"> </span></span></p>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Comic Sans MS;color:#655a7f;font-size:small;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;color:#655a7f;"><img src="http://f335.mail.yahoo.com/ya/download?mid=1%5f45662%5fAJbOjkQAAL%2f0SRkiyAPJ%2fgmyJHs&amp;pid=2&amp;fid=Inbox&amp;inline=1" border="0" alt="" width="100" height="20" /></span></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Bila telapak tanganmu berkeringat,<br />
Hatimu dag dig dug,<br />
Suaramu bagai tersangkut di tenggorokan,<br />
Itu bukan cinta, tetapi </span><span class="yshortcuts"><span style="cursor:pointer;background-attachment:scroll;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:red;">SUKA</span></span></span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:red;">?</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#655a7f;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#655a7f;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"><br />
Bila tanganmu tidak dapat berhenti memegang dan menyentuhnya,<br />
Itu bukan cinta tetapi </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:red;">BERAHI?</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Bila kamu menginginkannya karena tahu<br />
Ia akan selalu berada di sampingmu,<br />
Itu bukan cinta tetapi <span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:red;">KESEPIAN?</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Bila kamu menerima pernyataan cintanya<br />
Karena kamu tak mau menyakiti hatinya,<br />
Itu bukan cinta tetapi <span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:red;">KASIHAN?</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Bila kamu bersedia memberikan semua<br />
Yang kamu sukai demi dia,<br />
Itu bukan cinta tetapi <span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:red;">KEMURAHAN <span style="cursor:pointer;"><span class="yshortcuts">HATI</span></span>?</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#655a7f;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Bila kamu bangga dan selalu ingin memamerkannya<br />
Kepada semua orang,<br />
Itu bukan cinta tetapi </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:red;">KEMUJURAN?</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Bila kamu mengatakan padanya bahwa ia adalah<br />
Satu-satunya hal yang kamu pikirkan,<br />
<span class="yshortcuts">Itu</span> bukan cinta tetapi <span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:red;">GOMBAL?</span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Kamu MENCINTAINYA,<br />
Ketika kamu MENERIMA KESALAHAN DIA,<br />
Karena itu adalah bagian dari kepribadiannya.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Ketika kamu RELA MEMBERIKAN HATIMU, KEHIDUPANMU, BAHKAN KEMATIANMU;</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Ketika HATIMU TERCABIK BILA IA SEDIH,<br />
dan BERBUNGA BILA IA BAHAGIA;</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Ketika kamu MENANGIS UNTUK KEPEDIHANNYA<br />
Biarpun ia cukup tegar menghadapinya;</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Ketika kamu tertarik kepada orang lain<br />
Tetapi kamu masih SETIA bersamanya.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">CINTA adalah PENGORBANAN;</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">MENCINTAI berarti MEMBERI DIRI.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">CINTA adalah KEMATIAN ATAS EGOISME dan EGOSENTRISME.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Kadang itu menyakitkan, tetapi itulah harga yang harus dibayar&#8230;<br />
Untuk sebuah CINTA&#8230;</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Semua diatas adalah kata perumpamaan, tapi..</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Awal dari cinta adalah membiarkan orang yang kita cintai menjadi<br />
dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan.<br />
Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan di dalam dia<span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#ff80ff;">.</span></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yochaa.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yochaa.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yochaa.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yochaa.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yochaa.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yochaa.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yochaa.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yochaa.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yochaa.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yochaa.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yochaa.wordpress.com&blog=1388824&post=30&subd=yochaa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yochaa.wordpress.com/2008/11/12/apakah-itu-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a22c5cdb323919b894a65fbf16597b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yoru</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/love-purple.png" medium="image">
			<media:title type="html">love-purple</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://f335.mail.yahoo.com/ya/download?mid=1%5f45662%5fAJbOjkQAAL%2f0SRkiyAPJ%2fgmyJHs&#38;pid=2&#38;fid=Inbox&#38;inline=1" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Cinta Yang Tersembunyi</title>
		<link>http://yochaa.wordpress.com/2008/11/12/cinta-yang-tersembunyi/</link>
		<comments>http://yochaa.wordpress.com/2008/11/12/cinta-yang-tersembunyi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Nov 2008 08:05:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yoru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lautan Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yochaa.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[

Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur?
ketika kita menangis? ketika kita
membayangkan?
Ini karena hal terindah di dunia tidak
terlihat.
Ketika kita menemukan seseorang yang
keunikannya sejalan dengan kita, kita bergabung
dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan
serupa yang dinamakan Cinta.
Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan,
seseorang yang tidak ingin kita tinggalkan,
tapi melepaskan bukan akhir dari dunia,
melainkan awal suatu kehidupan baru,
kebahagiaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yochaa.wordpress.com&blog=1388824&post=12&subd=yochaa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/love-rain2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-17" title="love-rain2" src="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/love-rain2.jpg?w=305&#038;h=384" alt="love-rain2" width="305" height="384" /></a></p>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur?<br />
ketika kita menangis? ketika kita<br />
membayangkan?<br />
Ini karena hal terindah di dunia tidak<br />
terlihat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Ketika kita menemukan seseorang yang<br />
keunikannya sejalan dengan kita, kita bergabung<br />
dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan<br />
serupa yang dinamakan Cinta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan,<br />
seseorang yang tidak ingin kita tinggalkan,<br />
tapi melepaskan bukan akhir dari dunia,<br />
melainkan awal suatu kehidupan baru,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis,<br />
mereka yang tersakiti, mereka yang telah dan<br />
tengah mencari, dan mereka yang telah<br />
mencoba.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Karena merekalah yang bisa menghargai betapa<br />
pentingnya orang yang telah menyentuh<br />
kehidupan<br />
mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Cinta yang sebenarnya adalah ketika kamu<br />
menitikkan air mata dan masih peduli<br />
terhadapnya, adalah ketika dia tidak<br />
mempedulikanmu dan kamu masih menunggunya<br />
dengan setia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain<br />
dan kamu masih bisa tersenyum dan berkata &#8216;aku<br />
turut berbahagia untukmu&#8217;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Apabila cinta tidak bertemu, bebaskan dirimu,<br />
biarkan hatimu kembali ke alam bebas lagi, kau<br />
mungkin menyadari, bahwa kamu menemukan<br />
cinta<br />
dan kehilangannya, tapi ketika cinta itu mati<br />
kamu tidak perlu mati bersama cinta itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Orang yang bahagia bukanlah mereka yang<br />
selalu<br />
mendapatkan keinginannya, melainkan mereka<br />
yang<br />
tetap bangkit ketika mereka jatuh, entah<br />
bagaimana dalam perjalanan kehidupan, kamu<br />
belajar lebih banyak tentang dirimu sendiri dan<br />
menyadari bahwa penyesalan tidak seharusnya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">ada, cintamu akan tetap dihatinya, sebagai<br />
penghargaan abadi atas pilihan2 hidup yang<br />
telah kau buat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Teman sejati, mengerti ketika kamu berkata &#8216;aku<br />
lupa..&#8217; Menunggu selamanya ketika kamu berkata<br />
&#8216;tunggu sebentar&#8217;. Tetap tinggal ketika kamu<br />
berkata &#8216;tinggalkan aku sendiri&#8217;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Membuka pintu meski kamu belum mengetuk dan<br />
belum berkata &#8216;bolehkah saya masuk?&#8217; Mencintai<br />
juga bukanlah bagaimana kamu melupakan dia<br />
bila<br />
ia berbuat kesalahan, melainkan bagaimana<br />
kamu<br />
memaafkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Bukanlah bagaimana kamu mendengarkan,<br />
melainkan<br />
bagaimana kamu mengerti, bukanlah apa yang<br />
kamu<br />
lihat, melainkan apa yang kamu rasa, bukanlah<br />
bagaimana kamu melepaskan, melainkan<br />
bagaimana<br />
kamu bertahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Lebih menyakitkan menangis dalam hati dari<br />
pada<br />
menangis tersedu atau mengadu, air mata yang<br />
keluar dapat dihapus, sementara air mata yang<br />
tersembunyi menggoreskan luka dihatimu yang<br />
tidak akan pernah hilang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Sayang dalam cinta, kita sangat jarang peduli,<br />
tapi ketika cinta itu tulus, meskipun kau<br />
acuhkan, cinta tetap mulia, dan kamu seharusnya<br />
berbahagia, hatimu dapat mencintai seseorang<br />
yang kau sayang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Mungkin akan tiba saatnya dimana kamu harus<br />
berhenti mencintai seseorang, bukan karena<br />
orang itu berhenti mencintai kita melainkan<br />
karena kita menyadari bahwa orang itu akan<br />
lebih berbahagia apabila kita melepaskannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Namun bila pun kau benar2 mencintai seseorang,<br />
jangan lepaskan dia, bila dia tak membalasmu,<br />
barangkali dia tengah ragu dan mencari, jangan<br />
percaya bahwa melepaskan berarti kamu benar2<br />
mencintai tanpa suatu balasan, mengapa tak<br />
berjuang demi cintamu? mungkin itulah cinta<br />
sejatimu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Kadang kala, orang yang paling mencintaimu<br />
adalah orang yang tak pernah menyatakan cinta<br />
padamu, karena kau takut berpaling dan memberi<br />
jarak, dan bila ia suatu saat pergi, kau akan<br />
menyadari ia adalah cinta yang tidak kamu<br />
sadari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Maka mengapa kau tak mengungkapkan cintamu,<br />
bila kau memang mencintainya, meskipun kau tak<br />
tahu apakah cinta itu ada juga padanya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV">Cinta itu indah penuh dengan rasa<br />
Cinta itu bohong penuh dengan tangis<br />
Cinta itu suka penuh dengan canda<br />
Cinta itu benci penuh dengan dendam</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yochaa.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yochaa.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yochaa.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yochaa.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yochaa.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yochaa.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yochaa.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yochaa.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yochaa.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yochaa.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yochaa.wordpress.com&blog=1388824&post=12&subd=yochaa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yochaa.wordpress.com/2008/11/12/cinta-yang-tersembunyi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a22c5cdb323919b894a65fbf16597b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yoru</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/love-rain2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">love-rain2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kebahagiaan Hati</title>
		<link>http://yochaa.wordpress.com/2008/11/12/kebahagiaan-hati/</link>
		<comments>http://yochaa.wordpress.com/2008/11/12/kebahagiaan-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Nov 2008 08:04:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yoru</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lautan Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yochaa.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[
Seorang lelaki berumur 92 tahun yang mempunyai selera tinggi, percaya diri, dan bangga akan dirinya sendiri, yang selalu berpakaian rapi setiap hari sejak jam 8 pagi, dengan rambutnya yang teratur rapi meskipun dia buta, masuk ke panti jompo hari ini. Istrinya yang berumur 70 tahun baru-baru ini meninggal, sehingga dia harus masuk ke panti jompo. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yochaa.wordpress.com&blog=1388824&post=19&subd=yochaa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/happiness_quotes_graphics_01.gif"></a><a href="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/happiness1.gif"><img class="alignnone size-full wp-image-59" title="happiness1" src="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/happiness1.gif?w=334&#038;h=417" alt="happiness1" width="334" height="417" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:5pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Seorang lelaki berumur 92 tahun yang mempunyai selera tinggi, percaya diri, dan bangga akan dirinya sendiri, yang selalu berpakaian rapi setiap hari sejak jam 8 pagi, dengan rambutnya yang teratur rapi meskipun dia buta, masuk ke panti jompo hari ini. Istrinya yang berumur 70 tahun baru-baru ini meninggal, sehingga dia harus masuk ke panti jompo. Setelah menunggu dengan sabar selama beberapa jam di lobi, dia tersenyum manis ketika diberi tahu bahwa kamarnya telah siap. Ketika dia berjalan mengikuti penunjuk jalan ke elevator aku menggambarkan keadaan kamarnya yang kecil, termasuk gorden yang ada di jendela kamarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:5pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Saya menyukainya, katanya dengan antusias seperti seorang anak kecil berumur 8 tahun yang baru saja mendapatkan seekor anjing. Pak, Anda belum melihat kamarnya, tahan dulu perkataan tersebut. Hal itu tidak ada hubungannya, dia menjawab. Kebahagiaan adalah sesuatu yang kamu putuskan di awal. Apakah aku akan menyukai kamarku atau tidak,tidak tergantung dari bagaimana perabotannya diatur tapi bagaimana aku mengatur pikiranku. Aku sudah memutuskan menyukainya. Itu adalah keputusan yang kubuat setiap pagi ketika aku bangun tidur. Aku punya sebuah pilihan; aku bisa menghabiskan waktu di tempat tidak menceritakan kesulitan-kesulitan yang terjadi padaku karena ada bagian tubuhnya yang tidak bisa berfungsi lagi, atau turun dari tempat tidur dan berterima kasih atas bagian-bagian yang masih berfungsi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:5pt 0;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Setiap hari adalah hadiah, dan selama mataku terbuka, aku akan memusatkan perhatian pada hari yang baru dan semua kenangan indah dan bahagia yang pernah kualami dan kusimpan. Hanya untuk kali ini dalam hidupku. Umur yang sudah tua adalah seperti simpanan di bank. Kita akan mengambil dari yang telah kita simpan. Jadi, nasehatku padamu adalah untuk menyimpan sebanyak-banyaknya kebahagiaan di bank kenangan kita. Terima kasih padamu yang telah mengisi bank kenanganku. Aku sedang menyimpannya. Ingat-ingatlah lima aturan sederhana untuk menjadi bahagia:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">1. Bebaskan hatimu dari rasa benci.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">2. Bebaskan pikiranmu dari segala kekuatiran.<br />
3. Hiduplah dengan sederhana.<br />
4. (give more)<br />
5. (expect less)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Kamu akan MENERIMA keajaiban besok.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Semoga Allah SWT mengaruniakan kepada Kita hati yang selalu berbahagia. Apapun bentuknya hidup kita. Amin..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;margin:5pt 0;"><!--[endif]--></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yochaa.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yochaa.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yochaa.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yochaa.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yochaa.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yochaa.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yochaa.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yochaa.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yochaa.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yochaa.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yochaa.wordpress.com&blog=1388824&post=19&subd=yochaa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yochaa.wordpress.com/2008/11/12/kebahagiaan-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a22c5cdb323919b894a65fbf16597b6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yoru</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yochaa.files.wordpress.com/2008/11/happiness1.gif" medium="image">
			<media:title type="html">happiness1</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>